BIKIN BERITA ITU MUDAH

Sebelum kita melangkah cara pembuatan berita .Kita harus tahu bagaimana cara peliputan, tugas pokok jurnalis dan apa yang harus dipersiapkan seorang jurnalis.
Apa pengertian Jurnalis atau wartawan adalah orang yang melakukan pekerjaan kewartawanan.Tugas pokok seorang jurnalis adalah melaporkan fakta dan menyampaikan pendapat, tanggapan atau reaksi sumber beritanya secara cepat, ringkas dan tepat, artinya secara sederhana dengan menggunakan kata-kata yang sederhana dan mudah dimengerti.Untuk melakukan tugas pokoknya dengan baik, dasar pertama yang harus dimiliki jurnalis adalah bakat dan rasa ingin tahu. Bakat dan rasa ingin tahu itu harus dibina dan dikembangkan sedemikian rupa.Vitalitas seorang jurnalis diuji dalam proses penulisan berita, dengan mengerjakan yang biasa-biasa saja dengan cara yang luar biasa. Sedang-sadangpun kecerdasannya, asalkan vitalitasnya tinggi, seorang reporter akan bisa menjadi jurnalis yang handal harus dipersiapakn mental sebagai berikut:
1.Berani menghadapi risiko dan menyukai tantangan
2.Berjiwa ksatria dan bertanggungjawab
3.Memiliki rasa percaya diri yang tinggi
4.Terbuka dan mudah bergaul
5.Pantang menyerah
Berdasarkan bentuk-bentuk kegiatan yang dilakukan, wawancara dapat dibedakan atas tujuh macam:
1.Man in the street interview
2.Casual interview
3.Personality interview
4.News interview
5.Telephone interview
6.Prepared question interview
7.Group interview
Man in the street interview
Menanyai orang-orang di jalanan, untuk mengetahui tanggapan dan pendapat khalayak terhadap peristiwa tertentu.
Orang-orang yang ditanyai/tanggapan tidak ditentukan, tetapi dipilih secara acak. Kelemahan dari wawancara jalanan ini adalah sempitnya waktu untk mengajukan pertanyaan serta untuk memberikan kejelasan. Dengan demikian reaksi yang diwawancarai akan dangkal pula, karena keterbatasan waktu.
Unti lebih amannya dari tuduhan mengada-ada sebaiknya menggunakan recorder waktu wawancara serta kamera, sebab yang diwawancarai sulit ditemukan kembali untuk re-checking.
Casual interview
Adalah wawancara yang dilakukan secara mendadak atau mendesak, atau wawancara yang dilakukan lantaran kebetulan bertemu dengan nara sumber yang relevan dengan masalah yang tengah aktual.
Personality interview
Atau wawancara mengenai pribadi seseorang yang ditokohkan. Biasanya dimuat dalam bentuk profil, tokoh siapa dan mengapa yang menonjolkan sikap dan pandangannya yang patut dijadikan contoh yang baik oleh khalayak.
Wawancara pribadi juga bisadilakukan terhadap orang yang menunjukkan keluarbiasaan, aneh dan bertingkah eksklusif.
News interview
Adalah satu bentuk wawancara yanbg paling banyak digunakan jurnalis dalam mengumpulkan fakta yang akan disiarkan, baik sebagai sumber berita, maupun untuk mendapatkan suatu konfirmasi atas fakta lainnya.
Biasanya, wawancara berita ini dilakukan untuk mendapatkan bahan berita langsung (straight news) sesuai dengan penetapan jadwal berita (news schedule).
Telepohone interview
Telephone interview adalah wawancara yang dilakukan dengan menggunakan telepon, sering digunakan untuk berita-berita yang sangat mendesak deadline. Atau yang sering kita lihat akhir-akhir ini di televisi wawancara dengan nara sumber langsung dilakukan pada saat siaran berlangsung.
Kelemahan interview ini, tidak bisa mengetahui reaksi dan mimik air muka yang diwawancarai.
Prepared question interview
Adalah wawancara yang sering digunakan mass media untuk memperoleh tanggapan dan pendapat terhadap hal-hal yang rumit, menyangkut data-data, dan menyangkut disiplin keilmuan.
Untuk jenis ini, daftar pertanyaan dipersiapkan dan ditulis terlebih dahulu kepada nara sumber atau dikirimkan melalui pos atau kurir. Saat nara sumber menjawab pertanyaan yang mewawancarai tidak perlu hadir.
Wawancara tertulis ini akan memberikan waktu yang cukup kepada nara sumber guna mempertimbangkan dan memberikan jawabannya.
Group interview
Group interview adalah wawancara antara serombongan jurnalis dengan sekelompok nara sumber, bisa juga disebut symposium.
Wawancara seperti ini biasanya dimulai dengan sejenis konferensi pers yang kemudian dilanjutkan dengan menghadirkan sekelompok sumber (ahli) dan jurnalis juga terdiri atas beberapa media.
Teknik Wawancara
Wawancara (interview) adalah salah satu cara wartawan untuk mendapatkan berita besar secara eksklusif, yakni berita yang tidak bisa dimiliki oleh media lain.
Sebelum melakukan wawancara, seorang jurnalis harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya, agar wawancara berlangsung dengan baik sebagaimana yang diharapkan.
Antara lain:
1.Tentukan sasaran/topik yang akan ditanyakan. pelajari juga latar belakang dari nara sumber.
2.Pelajari sebanyak mungkin segala sesuatu yang menyangkut topic yang hendak diajukan kepada nara sumber.
3.Siapkan semua alat bantu yang dibutuhkan (buku catatan, pena, kamera, dan sebagainya).
4.Setelah menetapkan topik atau masalah yang hendak ditanyakan, kita sebaiknya menuliskan daftar pertanyaan, fakta-fakta, atau pandangan yang akan dikorek dari nara sumber.
Alat Kerja Jurnalis
Menulis berita membutuhkan alat pembantu, agar dapat merekam peristiwa, gejala atau kejadian/fakta di lapangan .
Yang biasa digunakan:
1.Kamera
Penggunan kamera di lapangan harus memperhitungkan sudut pemotretan, serta kelihaian sendiri untuk objek yang sulit/tidak mau dipotret.
2.Pena dan buku catatan
Meski sudah menggunakan tape recorder, buku catatan diperlukan untuk membantu melihat bagain-bagian penting dari rekaman, disamping catatan sulit terhapus.
3.Tape recorder
Pada waktu wawancara tape sangat membantu mempertahankan suasana akrab karena tidak terganggu dengan mencatat penyataan sumber.
4.Telepon/ Telegram/Fax/Telex
Telepon dan alat komunikasi lainnya dibutuhkan saat kita di lapangan, untuk tetap up date berita kondisi dengan nara sumber atau tempat dimana kita bekerja.
5.Alat transportasi
Pada wilayah-wilayah tertentu alat transportasi adalah kebutuhan vital. Ada kalanya seorang jurnalis membutuhkan kendaraan, bahkan menyewa untuk sampai ke sebuah tujuan peliputan.
6. Bahasa (daerah, asing atau penterjemah)
Kesulitan sering timbul jika nara sumber tidak bias berbahasa seperti bahasa yang kita kuasai, dalam hal ini dibutuhkan penterjemah.
Teknik Peliputan
Wilayah Liputan
Keberhasilan seorang jurnalis, disamping kemampuannya menulis berita, ditentukan pula oleh keterampilannya menemukan fakta berita, juga kemampuannya menyesuaikan diri dengan situasi di lapangan.
Berdasar kepada situasi dan objek yang diamati, dapat dibedakan atas wilayah liputan:
1.Manusia dan situasinya
a.Alam terbuka; pasar, perjalanan, tempat kerja, tempat hiburan, tempat upacara, dan lain-lain.
b.Ruang tertutup; upacara, rapat, pengadilan, rumah sakit, tahanan, kantor, dan lain-lain.
2.Alam dan gejalanya
Indah, subur, gersang, gunung, banjir, longsor dan sebagainya.
3.Binatang
Binatang peliharaan, sumber penyakit menular, kebun binatang, dan sebagainya.
Setelah mengetahui wilayah dan sudut berita langkah selanjutnya kita siapkan rencana, antara lain:
jenis berita dan dampak yang diharapkan, tempat atau sumber berita dan jumlah sumber yang berkaitan/berelasi menentukan alat-alat yang dibutuhkan menghitung jumlah biaya yang harus disediakan
memperkirakan jumlah waktu yang disediakan.
Rencana-rencana diatas akan sangat membantu menggambarkan secara keseluruhan tentang hasil, situasi dan keadaan yang bakal dihadapi di lapangan, membayangkan kendala-kendala yang mungkin ditemukan dan cara-cara mengatasinya.
Liputan Lapangan
Ketika berada di lapangan mengadakan observasi, jurnalis akan merekam peristiwa atau fakta yang ditemukan tersebut secara teratur, sesuai dengan rencana berita.
Disini kita dituntut untuk menggunakan seluruh alat indera; mata, telinga, hidung, kulit, lidah serta intuisi.
Seluruh fakta tersebut disimpan dan diendapkan untuk kemudian direproduksi kembali dalam bentuk tulisan (berita).
Ketelitian sangat dibutuhkan untuk menangkap fakta. Ketidaktelitian akan menimbulkan efek yang buruk, baik ketika menyusun berita ataupun setelah berita disiarkan.
Menulis berita
PEG (SUDUT BERITA)
Menulis berita dengan baik hanya mungkin setelah lebih dahulu memastikan sudut berita. Dan prasyarat liputan yang terarah ialah memastikan sudut berita sejak kita berada di lapangan.
LEAD (INTRO)
Setelah sudut berita, kegiatan selanjutnya adalah menentukan Lead atau Intro. Dalam beberapa buku, lead diartikan dalam banyak arti, seperti Amerika menyebutnya lead atau nose; Inggris menyebutnya intro.
Lead sangat penting. Ingat, lead adalah awal cerita, suatu janji kepada pembaca mengenai apa yang terjadi mendatang. “ Tiga detik dan pembaca akan menentukan untuk membaca atau pindah ke cerita lain. Itulah seluruh waktu yang ada bagi kita untuk menangkap pandangan selintas pembaca dan menahannya,” kata Donal Muras dalam bukunya Writing for your readers.
Waktu sangar berharga bagi pembaca. Mereka akan memutuskan untuk mulai membaca atau pindah. Bila mereka mulai membaca, banyak diantaranya hanya sepintas. Dua sampai empat paragraf.
Selanjutnya kita akan membahas beberapa jenis lead atau intro, termasuk lead peg, yang biasa digunakan dalam Reportase Dasar atau Straight News. Patut diingat, bahwa kita tak mungkin menentukan Lead atau Intro, tanpa lebih dulu memastikan Sudut Berita. Sama halnya dengan tak mungkin memastikan Sudut Berita tanpa lebih dulu mencek Jalan Cerita, dan seterusnya.
Lead, atau dalam bahasa Indonesia bias diterjemahkan menjadi teras berita, terletak di alinea atau paragraph pertama. Lead merupakan bagian dari komposisi atau susunan berita, yakni setelah judul berita (head) dan sebelum badan berita (news body).
Lead umumnya disusun dalam bentuk:
Summary lead atau conclusion lead (teras berita yang menyimpulkan dan dipadatkan).
Contoh: Gubernur Jawa Timur, sabtu (2/6), mengunjungi pasien gawat darurat akibat angin puting beliung di Rumah Sakit Daerah Sidoarjo.
Statement lead (teras berita berupa pernyataan).
Contoh: Kepala menegaskan, pemerintah akan bertindak tegas terhadap pelaku peledakan Bom II di Bali yang mengakibatkan tewasnya beberapa warga.
Quotation lead (teras berita kutipan).
Contoh: “ Kami akan menampilkan aksi panggung yang berbeda dalam pergelaran nanti malam,” demikian dikatakan The Same kemarin, menanggapi keluhan fans yang menganggap mereka tidak pernah berubah.
Contrast lead (teras berita kontras).
Contoh: Bogor, yang berjuluk kota hujan, untuk pertama kalinya dalam sebulan terakhir ini dilanda kemarau. Warga mersakan kesulitan mendapatkan air bersih.
Exclamation lead (teras berita yang menjerit)
Contoh: “ Tidak…!” demikian teriak histeris terdakwa AP, mendengar putusan hakim yang memvonisnya dengan hukuman mati.
PWI Pusat mengeluarkan sepuluh pedoman mengenai penulisan teras berita:
1.Teras berita yang menempati alinea pertama harus mencerminkan pokok terpenting berita. Alinea pertama dapat terdiri dari satu kalimat atau lebih, akan tetapi sebaiknya jangan sampai melebihi tiga kalimat.
2.Teras berita jangan mengandung lebih dari 30-45 kata.
3.Teras berita harus ditulis semenarik mungkin dan sebaik-baiknya, sehingga:
mudah ditangkap dan cepat dipahami.
kalimatnya singkat, sederhana, susunan bahasanya memenuhi prinsip ekonomi bahasa, dan menjauhkan kata mubazir.
satu gagasan dalam satu kalimat.
dibolehkan memuat lebih dari satu unsur 5W+1H.
4.Hal yang tidak mendesak, berfungsi sebagai pelengkap, hendaknya dimuat dalam badan berita.
5.Teras berita lebih baik mengutamakan unsure “apa” (what).
6.Teras berita juga dapat dimulai dengan unsure “siapa” (who). Tetapi, bila unsur siapa itu kurang menonjol, sebaiknya dimuat pada badan berita.
7.Teras berita jarang menonjolkan unsur “kapan/bilamana” (when), kecuali bila unsure itu punya makna khusus dalam berita itu.
8.Bila harus memilih dari dua unsure, yakni unsur tempat (where) dan waktu (when), maka pilihlah unsure tempat dulu, baru waktu.
9.Unsur lainnya, yakni bilamana dan mengapa, diuraikan dalam badan berita, tidak dalam teras berita.
10.Teras berita dapat dengan kutipan pernyataan seseorang (quotation lead), asalkan kutipan itu tidak berupa kalimat panjang. Pada alinea berikutnya, tulis nama orang itu, tempat, serta waktu dia membuat pernyataan itu.
BADAN BERITA (BODY)
Setelah menentukan Lead, kita menginventarisasi jenis-jenis keterangan yang telah dikumpulkan di lapangan, yaitu Jalan Cerita dari Peristiwa yang hendak kita laporkan.
Lead dan badan berita dipisahkan oleh sebuah jembatan, yakni kalimat peralihan yang mempermanis bergesernya pokok pikiran dari inti berita ke jalan cerita. Dengan lead yang baik, pembaca sudah tertarik perhatiannya, bukan oleh kepala beritanya saja, tetapi juga oleh kata-kata pertama dari kalimat pertama dalam lead itu.
Pilihan kata tidak bias sembarangan. Jangan sekali-kali memulai lead dengan kalimat: “sebagaimana pernah kita kabarkan..” Sebab sesuatu hal yang pernah dikabarkan bukanlah hal baru lagi. Juga bila kita memulai lead dengan kalimat: “ Menyambung berita tentang..”. Sebaiknya, mulailah segera dengan beritanya baru kemudian jelaskan bahwa berita itu adalah sambungan dari berita sebelumnya. Lead yang paling buruk adalah yang didahului dengan kalimat: “ Sebagaimana diketahui..”. Sesuatu yang sudah diketahui, tidak perlu diberitakan lagi.
Tahapan berikutnya adalah menata Badan berita. Yang harus diingat bahwa kita sebaiknya menempatkan hasil inventarisasi yang kurang penting di bagian belakan berita. Mulailah dengan berita yang penting dan akhiri dengan berita yang kurang penting. Ini disebut dengan model Piramida terbalik.
PENUTUP BERITA
Setelah menyelesaikan bagian tubuh berita, akan terlihat rangkaian fakta yang rinci dan terang yang hendak disampaikan. Namun bentuk berita akan terlihat sepenuhnya, jika penutupnya telah ditulis.
Paragraf terakhir dari sebuah tulisan, sekaligus akan menjadi penutup. Kalau dalam penulisan berita umumnya berbentuk piramida terbalik, isi alinea terakhir adalah hal-hal yang tidak begitu penting, kalau dipotong oleh redaktur tidak akan mengganggu berita secara keseluruhan.
erdasarkan bentuk-bentuk kegiatan yang dilakukan, wawancara dapat dibedakan atas tujuh macam:
1.Man in the street interview
2.Casual interview
3.Personality interview
4.News interview
5.Telephone interview
6.Prepared question interview
7.Group interview
Man in the street interview
Menanyai orang-orang di jalanan, untuk mengetahui tanggapan dan pendapat khalayak terhadap peristiwa tertentu.
Orang-orang yang ditanyai/tanggapan tidak ditentukan, tetapi dipilih secara acak. Kelemahan dari wawancara jalanan ini adalah sempitnya waktu untk mengajukan pertanyaan serta untuk memberikan kejelasan. Dengan demikian reaksi yang diwawancarai akan dangkal pula, karena keterbatasan waktu.
Unti lebih amannya dari tuduhan mengada-ada sebaiknya menggunakan recorder waktu wawancara serta kamera, sebab yang diwawancarai sulit ditemukan kembali untuk re-checking.
Casual interview
Adalah wawancara yang dilakukan secara mendadak atau mendesak, atau wawancara yang dilakukan lantaran kebetulan bertemu dengan nara sumber yang relevan dengan masalah yang tengah aktual.
Personality interview
Atau wawancara mengenai pribadi seseorang yang ditokohkan. Biasanya dimuat dalam bentuk profil, tokoh siapa dan mengapa yang menonjolkan sikap dan pandangannya yang patut dijadikan contoh yang baik oleh khalayak.
Wawancara pribadi juga bisadilakukan terhadap orang yang menunjukkan keluarbiasaan, aneh dan bertingkah eksklusif.
News interview
Adalah satu bentuk wawancara yanbg paling banyak digunakan jurnalis dalam mengumpulkan fakta yang akan disiarkan, baik sebagai sumber berita, maupun untuk mendapatkan suatu konfirmasi atas fakta lainnya.
Biasanya, wawancara berita ini dilakukan untuk mendapatkan bahan berita langsung (straight news) sesuai dengan penetapan jadwal berita (news schedule).
Telepohone interview
Telephone interview adalah wawancara yang dilakukan dengan menggunakan telepon, sering digunakan untuk berita-berita yang sangat mendesak deadline. Atau yang sering kita lihat akhir-akhir ini di televisi wawancara dengan nara sumber langsung dilakukan pada saat siaran berlangsung.
Kelemahan interview ini, tidak bisa mengetahui reaksi dan mimik air muka yang diwawancarai.
Prepared question interview
Adalah wawancara yang sering digunakan mass media untuk memperoleh tanggapan dan pendapat terhadap hal-hal yang rumit, menyangkut data-data, dan menyangkut disiplin keilmuan.
Untuk jenis ini, daftar pertanyaan dipersiapkan dan ditulis terlebih dahulu kepada nara sumber atau dikirimkan melalui pos atau kurir. Saat nara sumber menjawab pertanyaan yang mewawancarai tidak perlu hadir.
Wawancara tertulis ini akan memberikan waktu yang cukup kepada nara sumber guna mempertimbangkan dan memberikan jawabannya.
Group interview
Group interview adalah wawancara antara serombongan jurnalis dengan sekelompok nara sumber, bisa juga disebut symposium.
Wawancara seperti ini biasanya dimulai dengan sejenis konferensi pers yang kemudian dilanjutkan dengan menghadirkan sekelompok sumber (ahli) dan jurnalis juga terdiri atas beberapa media.
Menulis berita membutuhkan alat pembantu, agar dapat merekam peristiwa, gejala atau kejadian/fakta di lapangan .
Yang biasa digunakan:
1.Kamera
Penggunan kamera di lapangan harus memperhitungkan sudut pemotretan, serta kelihaian sendiri untuk objek yang sulit/tidak mau dipotret.
2.Pena dan buku catatan
Meski sudah menggunakan tape recorder, buku catatan diperlukan untuk membantu melihat bagain-bagian penting dari rekaman, disamping catatan sulit terhapus.
3.Tape recorder
Pada waktu wawancara tape sangat membantu mempertahankan suasana akrab karena tidak terganggu dengan mencatat penyataan sumber.
4.Telepon/ Telegram/Fax/Telex
Telepon dan alat komunikasi lainnya dibutuhkan saat kita di lapangan, untuk tetap up date berita kondisi dengan nara sumber atau tempat dimana kita bekerja.
5.Alat transportasi
Pada wilayah-wilayah tertentu alat transportasi adalah kebutuhan vital. Ada kalanya seorang jurnalis membutuhkan kendaraan, bahkan menyewa untuk sampai ke sebuah tujuan peliputan.
6. Bahasa (daerah, asing atau penterjemah)
Kesulitan sering timbul jika nara sumber tidak bias berbahasa seperti bahasa yang kita kuasai, dalam hal ini dibutuhkan penterjemah.
wilayah Liputan
Keberhasilan seorang jurnalis, disamping kemampuannya menulis berita, ditentukan pula oleh keterampilannya menemukan fakta berita, juga kemampuannya menyesuaikan diri dengan situasi di lapangan.
Berdasar kepada situasi dan objek yang diamati, dapat dibedakan atas wilayah liputan:
1.Manusia dan situasinya
a.Alam terbuka; pasar, perjalanan, tempat kerja, tempat hiburan, tempat upacara, dan lain-lain.
b.Ruang tertutup; upacara, rapat, pengadilan, rumah sakit, tahanan, kantor, dan lain-lain.
2.Alam dan gejalanya
Indah, subur, gersang, gunung, banjir, longsor dan sebagainya.
3.Binatang
Binatang peliharaan, sumber penyakit menular, kebun binatang, dan sebagainya.
Setelah mengetahui wilayah dan sudut berita langkah selanjutnya kita siapkan rencana, antara lain:
jenis berita dan dampak yang diharapkan, tempat atau sumber berita dan jumlah sumber yang berkaitan/berelasi menentukan alat-alat yang dibutuhkan menghitung jumlah biaya yang harus disediakan
memperkirakan jumlah waktu yang disediakan.
Rencana-rencana diatas akan sangat membantu menggambarkan secara keseluruhan tentang hasil, situasi dan keadaan yang bakal dihadapi di lapangan, membayangkan kendala-kendala yang mungkin ditemukan dan cara-cara mengatasinya.
Liputan Lapangan
Ketika berada di lapangan mengadakan observasi, jurnalis akan merekam peristiwa atau fakta yang ditemukan tersebut secara teratur, sesuai dengan rencana berita.
Disini kita dituntut untuk menggunakan seluruh alat indera; mata, telinga, hidung, kulit, lidah serta intuisi.
Seluruh fakta tersebut disimpan dan diendapkan untuk kemudian direproduksi kembali dalam bentuk tulisan (berita).
Ketelitian sangat dibutuhkan untuk menangkap fakta. Ketidaktelitian akan menimbulkan efek yang buruk, baik ketika menyusun berita ataupun setelah berita disiarkan.
PEG (SUDUT BERITA)
Menulis berita dengan baik hanya mungkin setelah lebih dahulu memastikan sudut berita. Dan prasyarat liputan yang terarah ialah memastikan sudut berita sejak kita berada di lapangan.
LEAD (INTRO)
Setelah sudut berita, kegiatan selanjutnya adalah menentukan Lead atau Intro. Dalam beberapa buku, lead diartikan dalam banyak arti, seperti Amerika menyebutnya lead atau nose; Inggris menyebutnya intro.
Lead sangat penting. Ingat, lead adalah awal cerita, suatu janji kepada pembaca mengenai apa yang terjadi mendatang. “ Tiga detik dan pembaca akan menentukan untuk membaca atau pindah kecerita lain. Itulah seluruh waktu yang ada bagi kita untuk menangkap pandangan selintas pembaca dan menahannya,” kata Donal Muras dalam bukunya Writing for your readers.
Waktu sangar berharga bagi pembaca. Mereka akan memutuskan untuk mulai membaca atau pindah. Bila mereka mulai membaca, banyak diantaranya hanya sepintas. Dua sampai empat paragraf.
Selanjutnya kita akan membahas beberapa jenis lead atau intro, termasuk lead peg, yang biasa digunakan dalam Reportase Dasar atau Straight News. Patut diingat, bahwa kita tak mungkin menentukan Lead atau Intro, tanpa lebih dulu memastikan Sudut Berita. Sama halnya dengan tak mungkin memastikan Sudut Berita tanpa lebih dulu mencek Jalan Cerita, dan seterusnya.
Lead, atau dalam bahasa Indonesia bias diterjemahkan menjadi teras berita, terletak di alinea atau paragraph pertama. Lead merupakan bagian dari komposisi atau susunan berita, yakni setelah judul berita (head) dan sebelum badan berita (news body).
Lead umumnya disusun dalam bentuk:
Summary lead atau conclusion lead (teras berita yang menyimpulkan dan dipadatkan).
Contoh: Gubernur Jawa Timur, sabtu (2/6), mengunjungi pasien gawat darurat akibat angin puting beliung di Rumah Sakit Daerah Sidoarjo.
Statement lead (teras berita berupa pernyataan).
Contoh: Kepala menegaskan, pemerintah akan bertindak tegas terhadap pelaku peledakan Bom II di Bali yang mengakibatkan tewasnya beberapa warga.
Quotation lead (teras berita kutipan).
Contoh: “ Kami akan menampilkan aksi panggung yang berbeda dalam pergelaran nanti malam,” demikian dikatakan The Same kemarin, menanggapi keluhan fans yang menganggap mereka tidak pernah berubah.
Contrast lead (teras berita kontras).
Contoh: Bogor, yang berjuluk kota hujan, untuk pertama kalinya dalam sebulan terakhir ini dilanda kemarau. Warga mersakan kesulitan mendapatkan air bersih.
Exclamation lead (teras berita yang menjerit)
Contoh: “ Tidak…!” demikian teriak histeris terdakwa AP, mendengar putusan hakim yang memvonisnya dengan hukuman mati.
PWI Pusat mengeluarkan sepuluh pedoman mengenai penulisan teras berita:
1.Teras berita yang menempati alinea pertama harus mencerminkan pokok terpenting berita. Alinea pertama dapat terdiri dari satu kalimat atau lebih, akan tetapi sebaiknya jangan sampai melebihi tiga kalimat.
2.Teras berita jangan mengandung lebih dari 30-45 kata.
3.Teras berita harus ditulis semenarik mungkin dan sebaik-baiknya, sehingga:
mudah ditangkap dan cepat dipahami.
kalimatnya singkat, sederhana, susunan bahasanya memenuhi prinsip ekonomi bahasa, dan menjauhkan kata mubazir.
satu gagasan dalam satu kalimat.
dibolehkan memuat lebih dari satu unsur 5W+1H.
4.Hal yang tidak mendesak, berfungsi sebagai pelengkap, hendaknya dimuat dalam badan berita.
5.Teras berita lebih baik mengutamakan unsure “apa” (what).
6.Teras berita juga dapat dimulai dengan unsure “siapa” (who). Tetapi, bila unsur siapa itu kurang menonjol, sebaiknya dimuat pada badan berita.
7.Teras berita jarang menonjolkan unsur “kapan/bilamana” (when), kecuali bila unsure itu punya makna khusus dalam berita itu.
8.Bila harus memilih dari dua unsure, yakni unsur tempat (where) dan waktu (when), maka pilihlah unsure tempat dulu, baru waktu.
9.Unsur lainnya, yakni bilamana dan mengapa, diuraikan dalam badan berita, tidak dalam teras berita.
10.Teras berita dapat dengan kutipan pernyataan seseorang (quotation lead), asalkan kutipan itu tidak berupa kalimat panjang. Pada alinea berikutnya, tulis nama orang itu, tempat, serta waktu dia membuat pernyataan itu.
BADAN BERITA (BODY)
Setelah menentukan Lead, kita menginventarisasi jenis-jenis keterangan yang telah dikumpulkan di lapangan, yaitu Jalan Cerita dari Peristiwa yang hendak kita laporkan.
Lead dan badan berita dipisahkan oleh sebuah jembatan, yakni kalimat peralihan yang mempermanis bergesernya pokok pikiran dari inti berita ke jalan cerita. Dengan lead yang baik, pembaca sudah tertarik perhatiannya, bukan oleh kepala beritanya saja, tetapi juga oleh kata-kata pertama dari kalimat pertama dalam lead itu.
Pilihan kata tidak bias sembarangan. Jangan sekali-kali memulai lead dengan kalimat: “sebagaimana pernah kita kabarkan..” Sebab sesuatu hal yang pernah dikabarkan bukanlah hal baru lagi. Juga bila kita memulai lead dengan kalimat: “ Menyambungberita tentang..”. Sebaiknya, mulailah segera dengan beritanya baru kemudian jelaskan bahwa berita itu adalah sambungan dari berita sebelumnya. Lead yang paling buruk adalah yang didahului dengan kalimat: “ Sebagaimana diketahui..”. Sesuatu yang sudah diketahui, tidak perlu diberitakan lagi.
Tahapan berikutnya adalah menata Badan berita. Yang harus diingat bahwa kita sebaiknya menempatkan hasil inventarisasi yang kurang penting di bagian belakan berita. Mulailah dengan berita yang penting dan akhiri dengan berita yang kurang penting. Ini disebut dengan model Piramida terbalik.
PENUTUP BERITA
Setelah menyelesaikan bagian tubuh berita, akan terlihat rangkaian fakta yang rinci dan terang yang hendak disampaikan. Namun bentuk berita akan terlihat sepenuhnya, jika penutupnya telah ditulis.
Paragraf terakhir dari sebuah tulisan, sekaligus akan menjadi penutup. Kalau dalam penulisan berita umumnya berbentuk piramida terbalik, isi alinea terakhir adalah hal-hal yang tidak begitu penting, kalau dipotong oleh redaktur tidak akan menggangguberita secara keseluruhan.
Berita dengan peristiwa, peristiwa dengan jalan cerita. Sangat sentral kedudukan peristiwa, sehingga tidak mungkin ada media berita andaikata tidak ada peristiwa matau jumlahnya sedikit.
Banyak terjadi berbagai peristiwa di sekitar kita, selalu terjadi dan ada dimana-mana. Mungkinkah seorang jurnalis pulang tanpa berita?
Mungkin, karena kemalasan atau kurangnya vitalitas. Atau alasan lain yang kedengaran lebih meyakinkan, yakni karena tidak semua peristiwa penting dan memiliki nilai berita.
Tetapi, bukankah dengan vitalitas semua hal biasa bias menjadi luar biasa? sehingga alasan diatas tidak selalu bias diterima.
Untuk melaporkan peristiwa, kita harus menakar nilai berita. Kita timbang semua unsur berita, mana yang bias diusahakan agar menjadi lebih penting. Menggunakan 5 W + 1 H.
Contoh:
Peristiwa bermain layangan oleh anak-anak kampung sekitar rumah, sulit menjadi berita. Tetapi bagaimana jika peristiwa yang sama terjadi dengan mengedepankan salah satu unsurnya seperti berikut ini.
Terjadi pada hari Nyepi, 30 Maret 2006. (kapan)
Pada hari biasa, tetapi dilakukan oleh Presiden dan wakil Presiden. (siapa)
Pada hari biasa, oleh anak – anak kampung, tetapi dimainkan di Indoor stadium. (dimana)
Pada hari biasa, oleh anak – anak kampung sekitar rumah, tetapi permainannya dilakukan tanpa benang/tali. (bagaimana)
Peristiwa bermain layangan oleh anak-anak kampung sekitar rumah, tetapi disponsori oleh pengusaha internasional. (mengapa)
Literatur jurnalistik di barat merumuskan NILAI BERITA ini sebagai: besar kecilnya dampak peristiwa pada masyarakat; menarik atau tidak dari segi ragam cara hidup manusia; besar kecilnay ketokohan orang yang terlibat peristiwa; jauh dekatnya lokasi peristiwa dari orang yang mengetahui beritanya; dan baru-tidaknya atau penting tidaknya saat peristiwa itu terjadi.
Dalam bahasa Inggris berturut-turut disebut:
Consequences; Human interest; Prominence; Proximity; Timeless. Atau disingkat CHOPPT.
Consequences (akibat); yaitu jika kejadian yang berkemungkinan mempengaruhi kehidupan orang banyak, atau kejadian yang memiliki kepentingan terhadap kehidupan pembaca.
Human interest (manusiawi); yaitu kejadian yang memberikan sentuhan perasaan bagi pembaca, kejadian yang menyangkut orang biasa dalam situasi luar biasa, atau orang besar dalam situasi biasa.
Prominence (tenar); yaitu yang menyangkut hal-hal yang terkenal atau sangat dikenal oleh pembaca.
Proximity (dekat); yaitu kejadian yang dekat dari pembaca, kedekatan ini bersifat geografis maupun emosional.
Timeless (waktu); yaitu kejadian yang menyangkut hal-hal baru terjadi atau baru ditemukan.
Hal-hal diatas kita perlukan untuk menakar nilai berita. Singkatnya, dalam berita terdapat dua masalah penting yang harus selalu menjadi patokan dalam menulis, yaitu 6 Unsur Berita (apa, siapa, kapan, dimana, bagaimana, mengapa) dan 5 Nilai Berita (Consequences; Human interest; Prominence; Proximity; Timeless).
Seorang jurnalis begitu di lapangan, harus segera menemukan peristiwa, menguasai jalan ceritanya, mencek, mericek, dan kalau perlu tripel cek. Setelah itu menakar nilai beritanya, melakukan cek dan ricek lagi.
Teknik reportase atau teknik peliputan berita merupakan hal mendasar yang perlu dikuasai para jurnalis. Namun, membahas teknik reportase, berarti juga membahas bagaimana cara media bekerja, sebelum mereka memutuskan untuk meliput suatu acara, kegiatan atau peristiwa.
Setiap media memiliki apa yang disebut kriteria kelayakan berita. Selain itu, mereka juga memiliki apa yang disebut kebijakan redaksional (editorial policy). Kriteria kelayakan berita itu bersifat umum (universal), dan tak jauh berbeda antara satu media dengan media yang lain. Sedangkan kebijakan redaksional setiap media bisa berbeda, tergantung visi dan misi atau ideologi yang dianutnya.
Perbedaan visi, misi dan ideologi ini akan berpengaruh pada sudut pandang atau angle peliputan. Dua media yang berbeda bisa mengambil sudut pandang yang berbeda terhadap suatu peristiwa yang sama. Bandingkan, misalnya, cara pandang redaktur harian Kompas dan Republika terhadap RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi, yang telah memancing kontroversi sengit di sejumlah kalangan belum lama ini.
Terakhir, tentu saja segmen khalayak yang dilayani tiap media juga berbeda-beda. Keinginan media untuk memuaskan kebutuhan segmen khalayak tersebut secara tak langsung juga berarti melakukan seleksi terhadap apa yang layak dan tidak layak diliput. Trans TV, misalnya, memilih khalayak dari kalangan sosial-ekonomi menengah ke atas. Majalah Femina membidik pasar kaum perempuan berusia menengah ke atas, yang tinggal atau bekerja di perkotaan. Sedangkan Radio Hardrock FM mengejar pasar kaum muda di Jakarta.
Kelayakan Berita
Berikut ini adalah sejumlah kriteria kelayakan berita, yang bersifat umum untuk semua media:
Penting. Suatu peristiwa diliput jika dianggap punya arti penting bagi mayoritas khalayak pembaca, pendengar, atau pemirsa. Tentu saja, media tidak akan rela memberikan space atau durasinya untuk materi liputan yang remeh. Kenaikan harga bahan bakar minyak, pemberlakuan undang-undang perpajakan yang baru, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), dan sebagainya, jelas penting karena punya dampak langsung pada kehidupan khalayak.
Aktual. Suatu peristiwa dianggap layak diliput jika baru terjadi. Maka, ada ungkapan tentang berita “hangat,” artinya belum lama terjadi dan masih jadi bahan pembicaraan di masyarakat. Kalau peristiwa itu sudah lama terjadi, tentu tak bisa disebut berita “hangat,” tetapi lebih pas disebut berita “basi.” Namun, pengertian “baru terjadi” di sini bisa berbeda, tergantung jenis medianya. Untuk majalah mingguan, peristiwa yang terjadi minggu lalu masih bisa dikemas dan dimuat. Untuk suratkabar harian, istilah “baru” berarti peristiwa kemarin. Untuk media radio dan televisi, berkat kemajuan teknologi telekomunikasi, makna “baru” adalah beberapa jam sebelumnya atau “seketika” (real time). Contohnya, siaran langsung pertandingan sepakbola Piala Dunia.
Unik. Suatu peristiwa diliput karena punya unsur keunikan, kekhasan, atau tidak biasa. Orang digigit anjing, itu biasa. Tetapi, orang mengigit anjing, itu unik dan luar biasa. Contoh lain: Seorang mahasiswa yang berangkat kuliah setiap hari, itu kejadian rutin dan biasa. Tetapi, jika seorang mahasiswa menembak dosennya, karena bertahun-tahun tidak pernah diluluskan, itu unik dan luar biasa. Di sekitar kita, selalu ada peristiwa yang unik dan tidak biasa.
Asas Kedekatan (proximity). Suatu peristiwa yang terjadi dekat dengan kita (khalayak media), lebih layak diliput ketimbang peristiwa yang terjadi jauh dari kita. Kebakaran yang menimpa sebuah pasar swalayan di Jakarta tentu lebih perlu diberitakan ketimbang peristiwa yang sama tetapi terjadi di Ghana, Afrika. Perlu dijelaskan di sini bahwa “kedekatan” itu tidak harus berarti kedekatan fisik atau kedekatan geografis. Ada juga kedekatan yang bersifat emosional. Agresi Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza, misalnya, secara geografis jauh dari kita, tetapi secara emosional tampaknya cukup dekat bagi khalayak media di Indonesia.
Asas Keterkenalan (prominence). Nama terkenal bisa menjadikan berita. Sejumlah media pada Juni-Juli 2006 ini ramai memberitakan kasus perceraian artis Tamara Bleszynski dan suaminya Teuku Rafli Pasha, serta perebutan hak asuh atas anak antara keduanya. Padahal di Indonesia ada ratusan atau bahkan ribuan pasangan lain, yang bercerai dan terlibat sengketa rumah tangga. Namun, mengapa mereka tidak diliput? Ya, karena sebagai bintang sinetron dan bintang iklan sabun Lux, Tamara adalah figur selebritas terkenal.
Magnitude. Mendengar istilah magnitude, mungkin mengingatkan Anda pada gempa bumi. Benar. Magnitude ini berarti “kekuatan” dari suatu peristiwa. Gempa berkekuatan 6,9 skala Richter pasti jauh lebih besar dampak kerusakannya, dibandingkan gempa berkekuatan 3,1 skala Richter. Dalam konteks peristiwa untuk diliput, sebuah aksi demonstrasi yang dilakukan 10.000 buruh, tentu lebih besar magnitude-nya ketimbang demonstrasi yang cuma diikuti 100 buruh. Kecelakaan kereta api yang menewaskan 200 orang pasti lebih besar magnitude-nya daripada serempetan antara becak dan angkot, yang hanya membuat penumpang becak menderita lecet-lecet. Semakin besar magnitude-nya, semakin layak peristiwa itu diliput.
Human Interest. Suatu peristiwa yang menyangkut manusia, selalu menarik diliput. Mungkin sudah menjadi bawaan kita untuk selalu ingin tahu tentang orang lain. Apalagi yang melibatkan drama, seperti: penderitaan, kesedihan, kebahagiaan, harapan, perjuangan, dan lain-lain. Topik-topik kemanusiaan semacam ini biasanya disajikan dalam bentuk feature.
Unsur konflik. Konflik, seperti juga berbagai hal lain yang menyangkut hubungan antar-manusia, juga menarik untuk diliput. Ketika ppahlawan sepakbola Perancis, Zinedine Zidane, “menanduk” pemain Italia, Marco Materrazzi, dalam pertandingan final Piala Dunia, Juli 2006 lalu, ini menarik diliput. Mengapa? Ya, karena sangat menonjol unsur konflik dan kontroversinya. Bahkan, kontroversi kasus Zidane ini lebih menarik daripada pertandingan antara kesebelasan Perancis dan Italia itu sendiri.
Trend. Sesuatu yang sedang menjadi trend atau menggejala di kalangan masyarakat, patut mendapat perhatian untuk diliput media. Pengertian trend adalah sesuatu yang diikuti oleh orang banyak, bukan satu-dua orang saja. Misalnya, suatu gaya mode tertentu yang unik, perilaku kekerasan antar warga masyarakat yang sering terjadi, tawuran antarpelajar, dan sebagainya.
Dalam memilih topik liputan, bisa saja tergabung beberapa kriteria kelayakan. Misalnya, kasus mantan anggota The Beatles, John Lennon, yang pada 1980 tewas ditembak di depan apartemennya di New York oleh Mark Chapman. Padahal beberapa jam sebelumnya, Chapman sempat meminta tanda tangan Lennon. Chapman mengatakan, ia mendengar “suara-suara” di telinganya yang menyuruhnya membunuh Lennon.
Mari kita lihat kriteria kelayakan berita ini. Pertama, Lennon adalah seorang selebritas yang terkenal di seluruh dunia (unsur keterkenalan). Kedua, penembakan terhadap seorang bintang oleh penggemarnya sendiri, jelas peristiwa luar biasa dan jarang terjadi (unsur keunikan). Ketiga, meskipun peristiwa itu terjadi di lokasi yang jauh dari Indonesia, para penggemar The Beatles di Indonesia pasti merasakan kesedihan mendalam akibat tewasnya Lennon tersebut (unsur kedekatan emosional). Dan seterusnya.
Proses pembuatan berita
Proses pembuatan berita pada prinsipnya tak banyak berbeda di semua media. Di media yang sudah mapan, biasanya telah dibuat semacam prosedur operasional standar (SOP) dalam pembuatan berita, untuk menjaga kualitas berita yang dihasilkan.
Proses pembuatan berita biasanya dimulai dari rapat redaksi, yang juga merupakan jantung operasional media pemberitaan. Rapat redaksi merupakan kegiatan rutin, yang penting bagi pengembangan dan peningkatan kualitas berita yang dihasilkan.
Dalam rapat redaksi ini, para reporter, juru kamera, redaktur, bisa mengajukan usulan-usulan topik liputan. Usulan itu sendiri bisa berasal dari berbagai sumber. Misalnya: Undangan liputan dari pihak luar, konferensi pers, siaran pers, berita yang sudah dimuat atau ditayangkan di media lain, hasil pengamatan pribadi si jurnalis, masukan dari narasumber/informan, dan sebagainya.
Sasaran Rapat Redaksi:
1. Untuk mengkoordinasikan kebijakan redaksi dan liputan.
2. Untuk menjaga kelancaran komunikasi antar staf redaksi (komunikasi antara reporter, juru kamera, staf riset, redaktur, dan sebagainya).
3. Untuk memecahkan masalah yang timbul sedini mungkin (potensi hambatan teknis dalam peliputan, keterbatasan sarana/alat untuk peliputan, keamanan dalam peliputan, dan sebagainya)
4. Untuk menghasilkan hasil liputan yang berkualitas.
Dari rapat redaksi ini, ditentukan topik yang mau diliput, sekaligus ditunjuk reporter (plusjuru kamera) yang harus meliputnya. Dalam pembahasan yang lebih rinci, bisa dibahas juga angle (sudut pandang) yang dipilih dari topik liputan bersangkutan, serta narasumber yang harus diwawancarai. Untuk kelengkapan data, staf riset bisa diminta mencari data tambahan guna menyempurnakan hasil liputan nantinya.
Sesudah tugas dibagikan secara jelas dalam rapat redaksi, dan redaktur memberi brifing pada reporter, berbekal informasi dan arahan tersebut, si reporter pun meluncur ke lapangan. Dalam proses peliputan, bila ada masalah atau hambatan dalam liputan di lapangan,si reporter dapat berkonsultasi langsung dengan redaktur yang menugaskannya. Hambatan itu, misalnya, narasumber menolak diwawancarai, atau peristiwa yang diliput ternyata tidak seperti yang dibayangkan.
Setelah selesai meliput, si reporter kembali ke kantor, dan melaporkan hasil liputannya kepada redaktur yang memberi penugasan. Sang redaktur lalu membuat penilaian, apakah hasil liputan itu sudah sesuai dengan rancangan awal, yang sebelumnya ditetapkan dalam rapat redaksi. Apakah ada hal-hal yang baru, yang mungkin lebih menarik diangkat dalam penulisan. Atau, sebaliknya, hasil liputan ternyata justru biasa saja, tidak sehebat atau sedramatis yang diharapkan.
Redaktur juga melihat, apakah ada hal yang kurang terliput oleh si reporter. Apakah hasil liputan sudah lengkap? Redaktur juga mempertimbangkan asas keberimbangan dan proporsionalitas dalam isi pemberitaan. Misalnya, apakah jumlah narasumber yang diwawancarai sudah cukup? Apakah narasumber yang diwawancarai itu sudah mewakili berbagai kepentingan yang terlibat?
Berdasarkan berbagai pertimbangan itu, redaktur mengusulkan di mana berita itu akan ditempatkan. Di sejumlah media, ada rapat khusus (kadang-kadang disebut rapat budgeting, meski ini tidak ada hubungannya dengan uang) untuk membahas penempatan berita. Namun, dalam rapat ini, reporter tidak ikut serta karena sudah diwakili oleh redakturnya. Di rapat ini dibahas, apakah hasil liputan itu layak untuk berita utama di halaman pertama, atau sekadar layak untuk dimuat pendek di halaman dalam, atau justru tidak layak dimuat sama sekali.
Sesudah jelas, berita itu akan dimuat di halaman mana, seberapa panjangnya, serta penekanan pada aspek yang mana, si reporter disuruh menuliskannya. Hasil tulisan diserahkan kepada redaktur terkait, untuk disunting dari segi bahasa dan isinya. Sebelum berita ini dimuat, kadang-kadang harus melalui proses penyuntingan bahasa oleh editor atau penyunting yang khusus memeriksa gaya bahasa. Jika isi berita itu dianggap layak jadi berita utama, biasanya redaktur pelaksana atau pemimpin redaksi juga bisa ikut terlibat.
Kemudian, berita pun dimuat. Demikianlah proses pembuatan berita pada umumnya di media cetak. Khusus untuk media televisi (audio-visual), faktor ketersediaan gambar ikut berpengaruh, bahkan sangat berpengaruh, mengenai apakah suatu item berita akan ditayangkan atau tidak. Kalaupun ditayangkan, format penayangannya juga banyak tergantung pada ketersediaan gambar.
Menggali Informasi
Tugas seorang reporter pada dasarnya adalah mengumpulkan informasi, yang membantu publik untuk memahami peristiwa-peristiwa yang mempengaruhi kehidupan mereka. Penggalian informasi ini membawa sang reporter untuk melalui tiga lapisan atau tahapan peliputan:
Lapisan pertama, adalah fakta-fakta permukaan. Seperti: siaran pers, konferensi pers, rekaman pidato, dan sebagainya. Lapisan pertama ini adalah sumber bagi fakta-fakta, yang digunakan pada sebagian besar berita. Informasi ini digali dari bahan yang disediakan dan dikontrol oleh narasumber. Oleh karena itu, isinya mungkin masih sangat sepihak. Jika reporter hanya mengandalkan informasi lapisan pertama, perbedaan antara jurnalisme dan siaran pers humas menjadi sangat tipis.
Lapisan kedua, adalah upaya pelaporan yang dilakukan sendiri oleh si reporter. Di sini, sang reporter melakukan verifikasi, pelaporan investigatif, liputan atas peristiwa-peristiwa spontan, dan sebagainya. Di sini, peristiwa sudah bergerak di luar kontrol narasumber awal. Misalnya, ketika si reporter tidak mentah-mentah menelan begitu saja keterangan Humas PT. Lapindo Brantas, tetapi si reporter datang ke lokasi meluapnya lumpur, dan mewawancarai langsung para warga korban lumpur di Sidoarjo, Jawa Timur.
Lapisan ketiga, adalah interpretasi (penafsiran) dan analisis. Di sini si reporter menguraikan signifikansi atau arti penting suatu peristiwa, penyebab-penyebabnya, dan konsekuensinya. Publik tidak sekadar ingin tahu apa yang terjadi, tetapi mereka juga ingin tahu bagaimana dan mengapa peristiwa itu terjadi. Apa makna peristiwa itu bagi mereka, dan apa yang mungkin terjadi sesudahnya (dampak susulan dari peristiwa tersebut).
Seorang reporter harus selalu berusaha mengamati peristiwa secara langsung, ketimbang hanya mengandalkan pada sumber-sumber lain, yang kadang-kadang berusaha memanipulasi atau memanfaatkan pers. Salah satu taktik yang dilakukan narasumber adalah mengadakan media event, yakni suatu tindakan yang sengaja dilakukan untuk menarik perhatian media.
Verifikasi, pengecekan latar belakang, observasi langsung, dan langkah peliputan yang serius bisa memperkuat, dan kadang-kadang membenarkan bahan-bahan awal yang disediakan narasumber.
Teknik Menjadi Reporter yang Handal
Teknik Reporter

Profesi reporter merupakan ujung tombak di dalam dunia jurnalistik. Bagaimana isu-isu di masyarakat dicari sumber informasinya, hingga kemudian dikemas ke dalam sebuah artikel yang menarik dan layak untuk dibaca merupakan deskripsi sederhana kerja seorang reporter. Namun di balik itu semua dibutuhkan teknik-teknik dan juga trik khusus di dalam melakukan reportase dan menulis sebuah artikel. Di dalam tulisan ini, akan dibahas secara tuntas bagaimana teknik reportase, dan menulis artikel jurnalistik yang baik.

Kerja seorang reporter

Reportase merupakan pekerjaan dimana kita harus seratus persen focus dan bertanggung jawab di dalamnya. Jika kita hanya setengah2 dan tidak tuntas di dalam bekerja akan terjadi missing di masyarakat yang bisa saja menjadi masalah besar dengan pertanggungjawaban yang besar pula. Namun menjadi reporter bukan melulu akan menjadi profesi yang menyebalkan dan membosankan. Itu semua tergantung dengan bagaimana kita mengerjakannya. Jika kita mengerjakannya dengan sepenuh hati, niat yang baik untuk memberikan informasi kepada masyarakat, dan juga menjalin hubungan baik dengan orang lain, niscaya pekerjaan reporter akan menjadi profesi yang sangat menyenangkan.
a. Menanggapi isu yang berkembang
Kerja awal reporter adalah menghadapi isu-isu yang berkembang di masyarakat. Seperti contoh isu tentang aliran dan Bank Century untuk kampanye SBY. Sebagai reporter yang baik, langkah awal setelah mendengar adanya isu adalah berpikir netral. Ubah niat kita menjadi untuk mencari kebenaran bukan untuk menyudutkan salah satu pihak.
b. Mencari sumber dan data terkait yang valid
Setelah menanggapi isu tersebut, ditindaklanjuti dengan mencari sumber dan data terkait yang valid. Data yang dicari bisa merupakan data primer yaitu langsung kepada narasumber terkait, dan juga data sekunder yaitu data literature yang valid dari sumber terpercaya.
c. Proses wawancara dan pencarian data literature
Proses ini merupakan proses terpenting di dalam kerja seorang reporter. Antara data primer dan data sekunder sama pentingnya, namun di dalam proses ini data primer harus didahulukan. Hal tersebut karena terkadang data sekunder dari sumber terpercaya pun bisa saja direkayasa oleh pihak tertentu. Berbeda dengan data primer, saat kita bertemu face to face dengan narasumber terkait, akan terasa atmosfer berbeda dan disinilah sifat kritis reporter diperlukan di dalam menginvestigasi narasumber.
d. Proses peredaksian.
Data yang telah didapatkan kemudian dikumpulkan, khusus untuk data primer reporter wajib untuk membuat verbatim, yaitu sebuah catatan lengkap tanya jawab pada saat melakukan wawancara. Tidak lupa data primer dan sekunder dilakukan uji cross, sehingga pastikan data sinkron sebelum masuk ke tahap penulisan artikel.
e. Proses penulisan
Proses penulisan artikel merupakan tahap akhir di dalam kerja reporter. Setelah isu ditanggapi, dicari tahu kebenarannya, dan diolah datanya tiba saatnya reporter mengejawantahkannya ke dalam bentuk tulisan. Inti dari proses ini adalah berjiwa kritis. Pada proses awal tadi sempat dijelaskan bahwa niat awal kita adalah netral. Namun pada saat penulisan kita harus memberikan info sebenar-benarnya. Reporter harus mengeluarkan pemikiran kritisnya, namun tetap cerdas, mematuhi etika, dan tidak membabi buta dalam mengemukakan fakta informasi.

Taktik Jitu Dalam Pencarian Data

Telah diutarakan sebelumnya bahwa data terbagi atas data primer yang langsung kepada narasumber terkait dan data sekunder berupa data literature dari sumber yang terpercaya. Untuk tiap data tersebut terdapat tips khusus agar reporter bisa maksimal dalam bekerja.
a. Tips untuk data primer (wawancara langsung narasumber).
– Reporter harus mau bekerja keras dan berani. Sehingga siapapun narasumbernya reporter tersebut tidak gentar. Terkadang narasumber tertentu sulit untuk ditemui. Reporter yang baik harus cekatan membuat janji dengan narasumbernya, terkadang jika kita beruntung cobalah untuk datangi langsung kantornya, biasanya kesempatan untuk wawancara bisa langsung dating. Jangan jadi reporter yang malas dan manja!
– Reporter harus siap dengan pertanyaannya. Kembangkan jiwa kritis kalian pada saat wawancara. Jangan hanya mengangguk dan mudah berkata iya terhadap semua jawaban narasumber. Lagi-lagi kita harus konsentrasi penuh terhadap narasumber. Sehingga kita dapat memberikan tanggapan yang tepat pada saat itu juga.
– Reporter harus menggiring narasumber kepada permasalahan, bukan sebaliknya. Sebagai reporter kita harus bermain cantik dengan tidak to the point saat wawancara berlangsung. Hal ini untuk menghindari narasumber yang malah akan menjadi malas untuk diwawancara.
– Reporter harus efektif dan efisien dalam wawancara. Reporter harus memiliki perkiraan waktu yang tepat. Biasanya sesaat sebelum wawancara dimulai, antara reporter dan narasumber terjadi kesepakatan waktu wawancara. Reporter harus dapat memperkirakan berapa waktu untuk berbasa-basi dan berapa waktu untuk pertanyaan yang berhubungan dengan akar permasalahan.
– Reporter harus mampu mengendalikan permainan. Terkadang ada narasumber yang cenderung ingin menguasai jalannya wawancara, menjawab berputar-putar, dan mengalihkan pembicaraan. Kunci untuk menghadapi masalah ini adalah ketahuilah terlebih dahulu dasar-dasar permasalahannya, dan perbanyaklah pengalaman. Karena keahlian wawancara tidak akan muncul pada saat pertama kali. Dibutuhkan pengalaman yang banyak sehingga kita terbiasa berbincang dengan orang lain, hingga tahu psikologis orang yang kita wawancarai.
– Gunakan kalimat yang sopan dan baik, karena narasumber ingin selalu dihargai atas waktu dan kesempatan yang ia berikan untuk wawancara.
– Jadikan tiap kesempatan wawancara menjadi tempat untuk menjalin relasi. Sehingga kapanpun kita membutuhkan wawancaranya lagi, dengan senang hati narasumber yang sama akan senang hati menerima anda.
b. Tips untuk data sekunder
– Kunjungi situs online resmi, untuk mencari data terkait. Ingat data tidak boleh sembarangan!
– Jika tidak terdapat situs resmi, kunjungilah instansi terkait. Tanyakan data yang anda butuhkan saat itu juga.
– Cari data lewat buku-buku dengan kutipan dan daftar pustaka yang jelas. Coba cek melalui daftar pustaka, data-data yang mungkin berhubungan.

KODE ETIK JURNALISTIK ::

Kemerdekaan berpendapat, berekspresi, dan pers adalah hak asasi manusia yang dilindungi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB. Kemerdekaan pers adalah sarana masyarakat untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi, guna memenuhi kebutuhan hakiki dan meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Dalam mewujudkan kemerdekaan pers itu, wartawan Indonesia juga menyadari adanya kepentingan bangsa, tanggung jawab sosial, keberagaman masyarakat, dan norma-norma agama.

Dalam melaksanakan fungsi, hak, kewajiban dan peranannya, pers menghormati hak asasi setiap orang, karena itu pers dituntut profesional dan terbuka untuk dikontrol oleh masyarakat.

Untuk menjamin kemerdekaan pers dan memenuhi hak publik untuk memperoleh informasi yang benar, wartawan Indonesia memerlukan landasan moral dan etika profesi sebagai pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas serta profesionalisme. Atas dasar itu, wartawan Indonesia menetapkan dan menaati Kode Etik Jurnalistik:

Pasal 1
Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.

Penafsiran
a. Independen berarti memberitakan peristiwa atau fakta sesuai dengan suara hati nurani tanpa campur tangan, paksaan, dan intervensi dari pihak lain termasuk pemilik perusahaan pers.
b. Akurat berarti dipercaya benar sesuai keadaan objektif ketika peristiwa terjadi.
c. Berimbang berarti semua pihak mendapat kesempatan setara.
d. Tidak beritikad buruk berarti tidak ada niat secara sengaja dan semata-mata untuk menimbulkan kerugian pihak lain.

Pasal 2
Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik.

Penafsiran
Cara-cara yang profesional adalah:
a. menunjukkan identitas diri kepada narasumber;
b. menghormati hak privasi;
c. tidak menyuap;
d. menghasilkan berita yang faktual dan jelas sumbernya;
e. rekayasa pengambilan dan pemuatan atau penyiaran gambar, foto, suara dilengkapi dengan keterangan tentang sumber dan ditampilkan secara berimbang;
f. menghormati pengalaman traumatik narasumber dalam penyajian gambar, foto, suara;
g. tidak melakukan plagiat, termasuk menyatakan hasil liputan wartawan lain sebagai karya sendiri;
h. penggunaan cara-cara tertentu dapat dipertimbangkan untuk peliputan berita investigasi bagi kepentingan publik.

Pasal 3
Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.

Penafsiran
a. Menguji informasi berarti melakukan check and recheck tentang kebenaran informasi itu.
b. Berimbang adalah memberikan ruang atau waktu pemberitaan kepada masing-masing pihak secara proporsional.
c. Opini yang menghakimi adalah pendapat pribadi wartawan. Hal ini berbeda dengan opini interpretatif, yaitu pendapat yang berupa interpretasi wartawan atas fakta.
d. Asas praduga tak bersalah adalah prinsip tidak menghakimi seseorang.

Pasal 4
Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul.

Penafsiran
a. Bohong berarti sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya oleh wartawan sebagai hal yang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi.
b. Fitnah berarti tuduhan tanpa dasar yang dilakukan secara sengaja dengan niat buruk.
c. Sadis berarti kejam dan tidak mengenal belas kasihan.
d. Cabul berarti penggambaran tingkah laku secara erotis dengan foto, gambar, suara, grafis atau tulisan yang semata-mata untuk membangkitkan nafsu birahi.
e. Dalam penyiaran gambar dan suara dari arsip, wartawan mencantumkan waktu pengambilan gambar dan suara.

Pasal 5
Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.

Penafsiran
a. Identitas adalah semua data dan informasi yang menyangkut diri seseorang yang memudahkan orang lain untuk melacak.
b. Anak adalah seorang yang berusia kurang dari 16 tahun dan belum menikah.

Pasal 6
Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap.

Penafsiran
a. Menyalahgunakan profesi adalah segala tindakan yang mengambil keuntungan pribadi atas informasi yang diperoleh saat bertugas sebelum informasi tersebut menjadi pengetahuan umum.
b. Suap adalah segala pemberian dalam bentuk uang, benda atau fasilitas dari pihak lain yang mempengaruhi independensi.

Pasal 7
Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi narasumber yang tidak bersedia diketahui identitas maupun keberadaannya, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan “off the record” sesuai dengan kesepakatan.

Penafsiran
a. Hak tolak adalak hak untuk tidak mengungkapkan identitas dan keberadaan narasumber demi keamanan narasumber dan keluarganya.
b. Embargo adalah penundaan pemuatan atau penyiaran berita sesuai dengan permintaan narasumber.
c. Informasi latar belakang adalah segala informasi atau data dari narasumber yang disiarkan atau diberitakan tanpa menyebutkan narasumbernya.
d. “Off the record” adalah segala informasi atau data dari narasumber yang tidak boleh disiarkan atau diberitakan.

Pasal 8
Wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, dan bahasa serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani.

Penafsiran
a. Prasangka adalah anggapan yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui secara jelas.
b. Diskriminasi adalah pembedaan perlakuan.

Pasal 9
Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik.

Penafsiran
a. Menghormati hak narasumber adalah sikap menahan diri dan berhati-hati.
b. Kehidupan pribadi adalah segala segi kehidupan seseorang dan keluarganya selain yang terkait dengan kepentingan publik.

Pasal 10
Wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, dan atau pemirsa.

Penafsiran
a. Segera berarti tindakan dalam waktu secepat mungkin, baik karena ada maupun tidak ada teguran dari pihak luar.
b. Permintaan maaf disampaikan apabila kesalahan terkait dengan substansi pokok.

Pasal 11
Wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi secara proporsional.

Penafsiran
a. Hak jawab adalah hak seseorang atau sekelompok orang untuk memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan berupa fakta yang merugikan nama baiknya.
b. Hak koreksi adalah hak setiap orang untuk membetulkan kekeliruan informasi yang diberitakan oleh pers, baik tentang dirinya maupun tentang orang lain.
c. Proporsional berarti setara dengan bagian berita yang perlu diperbaiki.

Penilaian akhir atas pelanggaran kode etik jurnalistik dilakukan Dewan Pers.
Sanksi atas pelanggaran kode etik jurnalistik dilakukan oleh
organisasi wartawan dan atau perusahaan pers.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: