Archive for the ‘ Uncategorized ’ Category

Ingin jadi agen Pulsa ??? ….

BISNIS PULSA ELEKTRIK ALL OPERATOR

Kebutuhan telekomunikasi telah menjadi kebutuhan penting dalam kehidupan sehari-hari, Dengan gencarnya promosi para operator telekomunikasi serta perluasan jaringan telekomunikasi di berbagai daerah telah membawa dampak positif terhadap pertumbuhan jumlah pengguna layanan telekomunikasi terutama telekomunikasi selular. Para pengguna ponsel ini membutuhkan pulsa agar terus bisa berkomunikasi.

Hanya dengan mendaftarkan satu nomer handphone saja, anda sudah dapat melakukan pengisian pulsa untuk ke semua nomer handphone GSM/CDMA. Kami menyediakan beberapa nomer tujuan transaksi SMS Center yang bisa diakses oleh semua nomor operator GSM/CDMA, dan diproses oleh Multi server yang ditangani oleh orang-orang yang berkualitas dan sangat profesional di bidang nya. Kami mempunyai server sendiri, Untuk menampung semua kegiatan transaksi anda, server dengan realibilitas dan kecepatan tinggi.

Bisnis pulsa elektrik kami begitu nyata, bukan penipuan, tidak ada target penjualan, tidak ada persyaratan, bahkan pendaftaranpun Gratis. Sangat simple, anda deposit anda transaksi, jumlah keuntungan dan banyaknya keuntungan anda sendiri yang menentukan. Hanya dengan mendaftarkan satu nomer handphone saja, anda sudah dapat melakukan pengisian pulsa untuk ke semua nomer handphone GSM/CDMA. Mulailah bisnis anda dengan mengisi untuk diri sendiri, keluarga dan teman anda. Transaksi 24 jam nonstop lansung ke server,dengan 1(satu) deposit di satu kartu untuk transaksi multi operator.

info lebih lanjut klik website kami : http://www.agenpulsa45.blogspot.com

JADWAL PERTANDINGAN PERSIB BANDUNG 2010/2011

PUTARAN II

Sabtu, 05 Mar 2011 Semen Padang vs PERSIB LIVE ANTV 19.00 WIB 1 – 1
Sabtu, 12 Mar 2011 Pelita Jaya vs PERSIB LIVE ANTV 19.00 WIB 1 – 2
Jum’at 18 Mar 2011 PERSIB vs Persija LIVE ANTV 17.30 WIB 2 – 3
Kamis, 24 Mar 2011 PERSIB vs Persiwa LIVE ANTV 19.00 WIB 5 – 2
Minggu, 27 Mar 2011 PERSIB vs Persipura LIVE ANTV 19.00 WIB 2 – 2
Jum’at 01 Apr 2011 Arema vs PERSIB LIVE ANTV 15.30 WIB 2 – 0
Sabtu, 09 Apr 2011 PERSIB vs Bontang FC LIVE ANTV 19.00 WIB 3 – 0
Rabu, 13 Apr 2011 PERSIB vs Persisam LIVE ANTV 19.00 WIB 4 – 1
Senin, 18 Apr 2011 PERSIB vs PSPS LIVE ANTV 15.30 WIB 0 – 1
Jum’at 22 Apr 2011 PERSIB vs Sriwijaya FC LIVE ANTV 15.30 WIB 1 – 0
Sabtu, 07 Mei 2011 Persijap vs PERSIB LIVE ANTV 19.00 WIB 1 – 1
Sabtu, 28 Mei 2011 Persiba vs PERSIB LIVE ANTV 19.00 WIB
Kamis, 16 Jun 2011 PERSIB vs Persela LIVE ANTV 19.00 WIB
Minggu, 19 Jun 2011 PERSIB vs Deltras

jadwal tiasa robih tergantung situasi sareng kondisi.

TIPS CARA MASUKAN ELECTRONIC MAIL

GUSHER
TIPS CARA MASUKAN ELECTRONIC MAIL
Berita dan informasi Citizen6 dapat dikirimkan dalam segala bentuk dan ukuran untuk tipe teks, foto, dan video melalui electronic mail (e-mail) ke: citizen6@liputan6.com.
Caranya:
1. Masukkan alamat citizen6@liputan6.com ke tujuan.
2. Masukkan subject: Tuliskan kata kunci berita Anda, misal: Demo Buruh
3. Isi e-mail:
o Untuk berita dan informasi teks, silakan lengkapi dengan judul, badan berita, dan nama penulis. Contoh:
 To: citizen6@liputan6.com
 Subject: Kemacetan Mampang
 Isi: Kemacetan Luar Biasa di Mampang
Pada Jumat (5/2) ini, para pengguna jalur lalu lintas yang melintasi perempatan Mampang, Jakarta Selatan, dijamin bakal stres berat. Pasalnya, terhitung sejak pukul 13.00 WIB hingga pukul lima sore, ruas jalan raya yang bersumbu di kawasan tersebut tersendat dari empat penjuru. Para pengguna jalan raya sebaiknya menghindari wilayah ini bila tak ingin terjebak kemacetan yang terus mengular.

Arus lalu lintas di ruas jalan dari arah Cawang, Jakarta Timur menuju Slipi, Jakarta Barat, tak bergerak sama sekali. Kondisi yang sama pun terjadi dari arah Kuningan, Jaksel menuju Warung Buncit, dan arus sebaliknya. Kondisi lumayan sedikit bergerak terlihat dari arus kendaraan dari arah Slipi menuju Cawang.

Menurut petugas dari Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya Komisaris Besar Polisi Johny Bumbum, penumpukan arus kendaraan terjadi lantaran ada perbaikan di setiap ruas jalan di keempat jalur. Selain itu, hujan yang mengguyur sejak siang membuat pengguna roda dua berteduh di bahu jalan dan membuat pergerakan laju kendaraan terganggu. “Kacau benar semua. Kacau!” kata Johny berapi-api.

Penulis: Harli Suharli Marhali
o Untuk berita dan informasi foto, dilengkapi dengan judul dan keterangan foto serta nama pemotret. Contoh:
 To: citizen6@liputan6.com
 Subject: Kebakaran Pasar Subang
 Isi: Pasar Inpres Subang Dilalap Si Jago Merah
Sedikitnya 50 kios dan toko kelontong di Pasar Inpres Pagaden, Subang, Jawa Barat, ludes terbakar, Senin (7/2) pagi. Penyebab kebakaran diduga karena hubungan pendek arus listrik dari sebuah kios. Untunglah tak ada korban jiwa kendati kerugian diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. (Harli Suharli Marhali)
 Attachment: foto

o Untuk berita dan informasi video pun dilengkapi judul dan teks plus nama cameramen pembuat berita. Contoh:
 To: citizen6@liputan6.com
 Subject: Kebakaran Pasar Subang
 Isi: Pasar Inpres Subang Dilalap Si Jago Merah
Sedikitnya 50 kios dan toko kelontong di Pasar Inpres Pagaden, Subang, Jawa Barat, ludes terbakar, Senin (7/2) pagi. Penyebab kebakaran diduga karena hubungan pendek arus listrik dari sebuah kios. Untunglah tak ada korban jiwa kendati kerugian diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. (Harli Suharli Marhali)
 Attachment: video
Kesempurnaan berita dan informasi adalah sebuah sajian yang selalu diidamkan setiap pewarta. Berbekal dari berbagai masukan, berikut adalah racikan bumbu yang acap dipakai untuk membuat sebuah berita yang baik:
• 5 W + 1H, yang pertama dan utama, Anda membutuhkan semua unsur dasar What, Who, Where, When, Why dan How dari sebuah berita dan informasi. Yakni Apa, Siapa, Di Mana, Kapan, Mengapa, dan Bagaimana. Semuanya haruslah benar dan berimbang untuk dijadikan materi berita dan informasi.
• Apa adalah materi yang akan dibuat menjadi berita dan informasi. Cakupannya bisa meliputi apapun yang ada di sekitar Anda, yang menarik perhatian Anda, dan Anda meyakini bahwa berita dan informasi yang dibuat layak diketahui orang lain.
• Siapa adalah tokoh dengan karakternya yang menjadi bagian dalam materi berita dan informasi Anda. Sosok sang tokoh haruslah jelas secara profil: nama, jenis kelamin, usia, peran dalam kisah Anda. Dikenal maupun tidak sang tokoh, tugas Anda adalah membeberkan keberadaan tokoh tersebut.
• Di mana, adalah bagian penting dari materi berita dan informasi Anda. Data lokasi peristiwa yang dijadikan adalah unsur penting kedekatan antara berita dan penyimak informasi Anda.
• Unsur Kapan turut menjadi patokan utama aktualitas berita dan informasi Anda saat diterima khalayak. Waktu kejadian peristiwa yang diceritakan menentukan kecepatan berita dan informasi disampaikan kepada publik.
• Mengapa juga menjadi syarat yang tak boleh terlupakan. Sebab unsur mengapa membeberkan kronologi sebab akibat dari peristiwa dalam berita dan informasi Anda.
• Konsep Bagaimana membantu pewarta buat menyampaikan berita dan informasi mengenai proses sekaligus kronologi peristiwa.
• Berita dan informasi Anda harus berisi peristiwa dan manusia yang saling berhubungan di dalamnya, atau materi Anda bisa jadi tak berarti. Adalah tugas Anda sebagai si penutur berita dan menyampaikannya kepada publik tentang pentingnya hubungan tersebut.
• Berita dan informasi haruslah disampaikan dalam bentuk yang lazim digunakan dan dimengerti semua orang. Termasuk di antaranya, penggunaan bahasa.
• Kronologis dan berkesinambungan dalam kreativitas materi. Hubungan sebab akibat secara logis adalah patokan utama saat bertutur dalam cerita. Kekuatan narasi, kutipan, dan suara amat berperan penting dalam materi berita dan informasi berbentuk video.
• Nyata. Emosi adalah satu kekuatan koneksi yang nyata-nyata kuat di antara berita atau informasi yang Anda buat dan penyimaknya. Gambar, suara, dan kata-kata bisa dibentuk untuk mengekspresikan beragam emosi dari cerita dan karakter manusia dalam berita.
• Pemetaan sudut pandang. Dalam proses pembuatan materi berita dan informasi, sebaiknya Anda menyusun kerangka materi dari rincian struktur berita sebelum materi tulisan atau grafis dikerjakan dari yang paling utama hingga ke bagian pelengkap. Dengan strategi ini, tak akan ada kesulitan membeberkan berita dan informasi ala Anda secara detail, lengkap, dan terarah.
• Akurasi adalah kewajiban yang tak boleh terjadi bila Anda menginginkan sebuah berita dan informasi yang informatif dan lengkap.
• Tanpa opini. Kemas paket materi berita dan informasi Anda secara apa adanya. Jangan mencampurbaurkan pendapat atau opini terhadap peristiwa yang dijadikan materi berita dan informasi Anda.
• Deskripsi. Pengungkapan data sebagai keterangan yang lebih mendetail amat membantu publik untuk menggambarkan peristiwa yang tengah menjadi pokok berita dan informasi Anda. Khususnya, bila berita dan informasi Anda tidak disertai grafis berupa foto atau video.
• Perekam peristiwa. Penggunaan alat bantu sebagai media perekam peristiwa tidak harus sesempurna dengan kemampuan karakteristik yang lazim digunakan media massa. Saat ini, sebagian telepon selular pun bisa dipakai sebagai perekam kejadian dalam format foto maupun video. Dengan keterbatasan kemampuan alat itu, sebaiknya Anda: mendekati obyek yang akan direkam, mengantisipasi kondisi penerangan terhadap kualitas obyek, menjaga kestabilan foto atau video dari guncangan saat merekam, serta hindari pergerakan video yang terlalu cepat, terkecuali untuk penekanan situasi dan kondisi peristiwa.
Kontak Kami
Email : redaksi@sctv.co.id atau liputan6@sctv.co.id Faximile : 021 – 7278 2055,
Telepon : 021 – 2793 5555 Ekstensi 1211 – 1216,
SMS : ketik komentar Komentar Anda, Kirim ke 7266
lain-lain : kirim komentar di http://blog.liputan6.com, kirim surat pembaca di http://www.liputan6.com

BIKIN BERITA ITU MUDAH

Sebelum kita melangkah cara pembuatan berita .Kita harus tahu bagaimana cara peliputan, tugas pokok jurnalis dan apa yang harus dipersiapkan seorang jurnalis.
Apa pengertian Jurnalis atau wartawan adalah orang yang melakukan pekerjaan kewartawanan.Tugas pokok seorang jurnalis adalah melaporkan fakta dan menyampaikan pendapat, tanggapan atau reaksi sumber beritanya secara cepat, ringkas dan tepat, artinya secara sederhana dengan menggunakan kata-kata yang sederhana dan mudah dimengerti.Untuk melakukan tugas pokoknya dengan baik, dasar pertama yang harus dimiliki jurnalis adalah bakat dan rasa ingin tahu. Bakat dan rasa ingin tahu itu harus dibina dan dikembangkan sedemikian rupa.Vitalitas seorang jurnalis diuji dalam proses penulisan berita, dengan mengerjakan yang biasa-biasa saja dengan cara yang luar biasa. Sedang-sadangpun kecerdasannya, asalkan vitalitasnya tinggi, seorang reporter akan bisa menjadi jurnalis yang handal harus dipersiapakn mental sebagai berikut:
1.Berani menghadapi risiko dan menyukai tantangan
2.Berjiwa ksatria dan bertanggungjawab
3.Memiliki rasa percaya diri yang tinggi
4.Terbuka dan mudah bergaul
5.Pantang menyerah
Berdasarkan bentuk-bentuk kegiatan yang dilakukan, wawancara dapat dibedakan atas tujuh macam:
1.Man in the street interview
2.Casual interview
3.Personality interview
4.News interview
5.Telephone interview
6.Prepared question interview
7.Group interview
Man in the street interview
Menanyai orang-orang di jalanan, untuk mengetahui tanggapan dan pendapat khalayak terhadap peristiwa tertentu.
Orang-orang yang ditanyai/tanggapan tidak ditentukan, tetapi dipilih secara acak. Kelemahan dari wawancara jalanan ini adalah sempitnya waktu untk mengajukan pertanyaan serta untuk memberikan kejelasan. Dengan demikian reaksi yang diwawancarai akan dangkal pula, karena keterbatasan waktu.
Unti lebih amannya dari tuduhan mengada-ada sebaiknya menggunakan recorder waktu wawancara serta kamera, sebab yang diwawancarai sulit ditemukan kembali untuk re-checking.
Casual interview
Adalah wawancara yang dilakukan secara mendadak atau mendesak, atau wawancara yang dilakukan lantaran kebetulan bertemu dengan nara sumber yang relevan dengan masalah yang tengah aktual.
Personality interview
Atau wawancara mengenai pribadi seseorang yang ditokohkan. Biasanya dimuat dalam bentuk profil, tokoh siapa dan mengapa yang menonjolkan sikap dan pandangannya yang patut dijadikan contoh yang baik oleh khalayak.
Wawancara pribadi juga bisadilakukan terhadap orang yang menunjukkan keluarbiasaan, aneh dan bertingkah eksklusif.
News interview
Adalah satu bentuk wawancara yanbg paling banyak digunakan jurnalis dalam mengumpulkan fakta yang akan disiarkan, baik sebagai sumber berita, maupun untuk mendapatkan suatu konfirmasi atas fakta lainnya.
Biasanya, wawancara berita ini dilakukan untuk mendapatkan bahan berita langsung (straight news) sesuai dengan penetapan jadwal berita (news schedule).
Telepohone interview
Telephone interview adalah wawancara yang dilakukan dengan menggunakan telepon, sering digunakan untuk berita-berita yang sangat mendesak deadline. Atau yang sering kita lihat akhir-akhir ini di televisi wawancara dengan nara sumber langsung dilakukan pada saat siaran berlangsung.
Kelemahan interview ini, tidak bisa mengetahui reaksi dan mimik air muka yang diwawancarai.
Prepared question interview
Adalah wawancara yang sering digunakan mass media untuk memperoleh tanggapan dan pendapat terhadap hal-hal yang rumit, menyangkut data-data, dan menyangkut disiplin keilmuan.
Untuk jenis ini, daftar pertanyaan dipersiapkan dan ditulis terlebih dahulu kepada nara sumber atau dikirimkan melalui pos atau kurir. Saat nara sumber menjawab pertanyaan yang mewawancarai tidak perlu hadir.
Wawancara tertulis ini akan memberikan waktu yang cukup kepada nara sumber guna mempertimbangkan dan memberikan jawabannya.
Group interview
Group interview adalah wawancara antara serombongan jurnalis dengan sekelompok nara sumber, bisa juga disebut symposium.
Wawancara seperti ini biasanya dimulai dengan sejenis konferensi pers yang kemudian dilanjutkan dengan menghadirkan sekelompok sumber (ahli) dan jurnalis juga terdiri atas beberapa media.
Teknik Wawancara
Wawancara (interview) adalah salah satu cara wartawan untuk mendapatkan berita besar secara eksklusif, yakni berita yang tidak bisa dimiliki oleh media lain.
Sebelum melakukan wawancara, seorang jurnalis harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya, agar wawancara berlangsung dengan baik sebagaimana yang diharapkan.
Antara lain:
1.Tentukan sasaran/topik yang akan ditanyakan. pelajari juga latar belakang dari nara sumber.
2.Pelajari sebanyak mungkin segala sesuatu yang menyangkut topic yang hendak diajukan kepada nara sumber.
3.Siapkan semua alat bantu yang dibutuhkan (buku catatan, pena, kamera, dan sebagainya).
4.Setelah menetapkan topik atau masalah yang hendak ditanyakan, kita sebaiknya menuliskan daftar pertanyaan, fakta-fakta, atau pandangan yang akan dikorek dari nara sumber.
Alat Kerja Jurnalis
Menulis berita membutuhkan alat pembantu, agar dapat merekam peristiwa, gejala atau kejadian/fakta di lapangan .
Yang biasa digunakan:
1.Kamera
Penggunan kamera di lapangan harus memperhitungkan sudut pemotretan, serta kelihaian sendiri untuk objek yang sulit/tidak mau dipotret.
2.Pena dan buku catatan
Meski sudah menggunakan tape recorder, buku catatan diperlukan untuk membantu melihat bagain-bagian penting dari rekaman, disamping catatan sulit terhapus.
3.Tape recorder
Pada waktu wawancara tape sangat membantu mempertahankan suasana akrab karena tidak terganggu dengan mencatat penyataan sumber.
4.Telepon/ Telegram/Fax/Telex
Telepon dan alat komunikasi lainnya dibutuhkan saat kita di lapangan, untuk tetap up date berita kondisi dengan nara sumber atau tempat dimana kita bekerja.
5.Alat transportasi
Pada wilayah-wilayah tertentu alat transportasi adalah kebutuhan vital. Ada kalanya seorang jurnalis membutuhkan kendaraan, bahkan menyewa untuk sampai ke sebuah tujuan peliputan.
6. Bahasa (daerah, asing atau penterjemah)
Kesulitan sering timbul jika nara sumber tidak bias berbahasa seperti bahasa yang kita kuasai, dalam hal ini dibutuhkan penterjemah.
Teknik Peliputan
Wilayah Liputan
Keberhasilan seorang jurnalis, disamping kemampuannya menulis berita, ditentukan pula oleh keterampilannya menemukan fakta berita, juga kemampuannya menyesuaikan diri dengan situasi di lapangan.
Berdasar kepada situasi dan objek yang diamati, dapat dibedakan atas wilayah liputan:
1.Manusia dan situasinya
a.Alam terbuka; pasar, perjalanan, tempat kerja, tempat hiburan, tempat upacara, dan lain-lain.
b.Ruang tertutup; upacara, rapat, pengadilan, rumah sakit, tahanan, kantor, dan lain-lain.
2.Alam dan gejalanya
Indah, subur, gersang, gunung, banjir, longsor dan sebagainya.
3.Binatang
Binatang peliharaan, sumber penyakit menular, kebun binatang, dan sebagainya.
Setelah mengetahui wilayah dan sudut berita langkah selanjutnya kita siapkan rencana, antara lain:
jenis berita dan dampak yang diharapkan, tempat atau sumber berita dan jumlah sumber yang berkaitan/berelasi menentukan alat-alat yang dibutuhkan menghitung jumlah biaya yang harus disediakan
memperkirakan jumlah waktu yang disediakan.
Rencana-rencana diatas akan sangat membantu menggambarkan secara keseluruhan tentang hasil, situasi dan keadaan yang bakal dihadapi di lapangan, membayangkan kendala-kendala yang mungkin ditemukan dan cara-cara mengatasinya.
Liputan Lapangan
Ketika berada di lapangan mengadakan observasi, jurnalis akan merekam peristiwa atau fakta yang ditemukan tersebut secara teratur, sesuai dengan rencana berita.
Disini kita dituntut untuk menggunakan seluruh alat indera; mata, telinga, hidung, kulit, lidah serta intuisi.
Seluruh fakta tersebut disimpan dan diendapkan untuk kemudian direproduksi kembali dalam bentuk tulisan (berita).
Ketelitian sangat dibutuhkan untuk menangkap fakta. Ketidaktelitian akan menimbulkan efek yang buruk, baik ketika menyusun berita ataupun setelah berita disiarkan.
Menulis berita
PEG (SUDUT BERITA)
Menulis berita dengan baik hanya mungkin setelah lebih dahulu memastikan sudut berita. Dan prasyarat liputan yang terarah ialah memastikan sudut berita sejak kita berada di lapangan.
LEAD (INTRO)
Setelah sudut berita, kegiatan selanjutnya adalah menentukan Lead atau Intro. Dalam beberapa buku, lead diartikan dalam banyak arti, seperti Amerika menyebutnya lead atau nose; Inggris menyebutnya intro.
Lead sangat penting. Ingat, lead adalah awal cerita, suatu janji kepada pembaca mengenai apa yang terjadi mendatang. “ Tiga detik dan pembaca akan menentukan untuk membaca atau pindah ke cerita lain. Itulah seluruh waktu yang ada bagi kita untuk menangkap pandangan selintas pembaca dan menahannya,” kata Donal Muras dalam bukunya Writing for your readers.
Waktu sangar berharga bagi pembaca. Mereka akan memutuskan untuk mulai membaca atau pindah. Bila mereka mulai membaca, banyak diantaranya hanya sepintas. Dua sampai empat paragraf.
Selanjutnya kita akan membahas beberapa jenis lead atau intro, termasuk lead peg, yang biasa digunakan dalam Reportase Dasar atau Straight News. Patut diingat, bahwa kita tak mungkin menentukan Lead atau Intro, tanpa lebih dulu memastikan Sudut Berita. Sama halnya dengan tak mungkin memastikan Sudut Berita tanpa lebih dulu mencek Jalan Cerita, dan seterusnya.
Lead, atau dalam bahasa Indonesia bias diterjemahkan menjadi teras berita, terletak di alinea atau paragraph pertama. Lead merupakan bagian dari komposisi atau susunan berita, yakni setelah judul berita (head) dan sebelum badan berita (news body).
Lead umumnya disusun dalam bentuk:
Summary lead atau conclusion lead (teras berita yang menyimpulkan dan dipadatkan).
Contoh: Gubernur Jawa Timur, sabtu (2/6), mengunjungi pasien gawat darurat akibat angin puting beliung di Rumah Sakit Daerah Sidoarjo.
Statement lead (teras berita berupa pernyataan).
Contoh: Kepala menegaskan, pemerintah akan bertindak tegas terhadap pelaku peledakan Bom II di Bali yang mengakibatkan tewasnya beberapa warga.
Quotation lead (teras berita kutipan).
Contoh: “ Kami akan menampilkan aksi panggung yang berbeda dalam pergelaran nanti malam,” demikian dikatakan The Same kemarin, menanggapi keluhan fans yang menganggap mereka tidak pernah berubah.
Contrast lead (teras berita kontras).
Contoh: Bogor, yang berjuluk kota hujan, untuk pertama kalinya dalam sebulan terakhir ini dilanda kemarau. Warga mersakan kesulitan mendapatkan air bersih.
Exclamation lead (teras berita yang menjerit)
Contoh: “ Tidak…!” demikian teriak histeris terdakwa AP, mendengar putusan hakim yang memvonisnya dengan hukuman mati.
PWI Pusat mengeluarkan sepuluh pedoman mengenai penulisan teras berita:
1.Teras berita yang menempati alinea pertama harus mencerminkan pokok terpenting berita. Alinea pertama dapat terdiri dari satu kalimat atau lebih, akan tetapi sebaiknya jangan sampai melebihi tiga kalimat.
2.Teras berita jangan mengandung lebih dari 30-45 kata.
3.Teras berita harus ditulis semenarik mungkin dan sebaik-baiknya, sehingga:
mudah ditangkap dan cepat dipahami.
kalimatnya singkat, sederhana, susunan bahasanya memenuhi prinsip ekonomi bahasa, dan menjauhkan kata mubazir.
satu gagasan dalam satu kalimat.
dibolehkan memuat lebih dari satu unsur 5W+1H.
4.Hal yang tidak mendesak, berfungsi sebagai pelengkap, hendaknya dimuat dalam badan berita.
5.Teras berita lebih baik mengutamakan unsure “apa” (what).
6.Teras berita juga dapat dimulai dengan unsure “siapa” (who). Tetapi, bila unsur siapa itu kurang menonjol, sebaiknya dimuat pada badan berita.
7.Teras berita jarang menonjolkan unsur “kapan/bilamana” (when), kecuali bila unsure itu punya makna khusus dalam berita itu.
8.Bila harus memilih dari dua unsure, yakni unsur tempat (where) dan waktu (when), maka pilihlah unsure tempat dulu, baru waktu.
9.Unsur lainnya, yakni bilamana dan mengapa, diuraikan dalam badan berita, tidak dalam teras berita.
10.Teras berita dapat dengan kutipan pernyataan seseorang (quotation lead), asalkan kutipan itu tidak berupa kalimat panjang. Pada alinea berikutnya, tulis nama orang itu, tempat, serta waktu dia membuat pernyataan itu.
BADAN BERITA (BODY)
Setelah menentukan Lead, kita menginventarisasi jenis-jenis keterangan yang telah dikumpulkan di lapangan, yaitu Jalan Cerita dari Peristiwa yang hendak kita laporkan.
Lead dan badan berita dipisahkan oleh sebuah jembatan, yakni kalimat peralihan yang mempermanis bergesernya pokok pikiran dari inti berita ke jalan cerita. Dengan lead yang baik, pembaca sudah tertarik perhatiannya, bukan oleh kepala beritanya saja, tetapi juga oleh kata-kata pertama dari kalimat pertama dalam lead itu.
Pilihan kata tidak bias sembarangan. Jangan sekali-kali memulai lead dengan kalimat: “sebagaimana pernah kita kabarkan..” Sebab sesuatu hal yang pernah dikabarkan bukanlah hal baru lagi. Juga bila kita memulai lead dengan kalimat: “ Menyambung berita tentang..”. Sebaiknya, mulailah segera dengan beritanya baru kemudian jelaskan bahwa berita itu adalah sambungan dari berita sebelumnya. Lead yang paling buruk adalah yang didahului dengan kalimat: “ Sebagaimana diketahui..”. Sesuatu yang sudah diketahui, tidak perlu diberitakan lagi.
Tahapan berikutnya adalah menata Badan berita. Yang harus diingat bahwa kita sebaiknya menempatkan hasil inventarisasi yang kurang penting di bagian belakan berita. Mulailah dengan berita yang penting dan akhiri dengan berita yang kurang penting. Ini disebut dengan model Piramida terbalik.
PENUTUP BERITA
Setelah menyelesaikan bagian tubuh berita, akan terlihat rangkaian fakta yang rinci dan terang yang hendak disampaikan. Namun bentuk berita akan terlihat sepenuhnya, jika penutupnya telah ditulis.
Paragraf terakhir dari sebuah tulisan, sekaligus akan menjadi penutup. Kalau dalam penulisan berita umumnya berbentuk piramida terbalik, isi alinea terakhir adalah hal-hal yang tidak begitu penting, kalau dipotong oleh redaktur tidak akan mengganggu berita secara keseluruhan.
erdasarkan bentuk-bentuk kegiatan yang dilakukan, wawancara dapat dibedakan atas tujuh macam:
1.Man in the street interview
2.Casual interview
3.Personality interview
4.News interview
5.Telephone interview
6.Prepared question interview
7.Group interview
Man in the street interview
Menanyai orang-orang di jalanan, untuk mengetahui tanggapan dan pendapat khalayak terhadap peristiwa tertentu.
Orang-orang yang ditanyai/tanggapan tidak ditentukan, tetapi dipilih secara acak. Kelemahan dari wawancara jalanan ini adalah sempitnya waktu untk mengajukan pertanyaan serta untuk memberikan kejelasan. Dengan demikian reaksi yang diwawancarai akan dangkal pula, karena keterbatasan waktu.
Unti lebih amannya dari tuduhan mengada-ada sebaiknya menggunakan recorder waktu wawancara serta kamera, sebab yang diwawancarai sulit ditemukan kembali untuk re-checking.
Casual interview
Adalah wawancara yang dilakukan secara mendadak atau mendesak, atau wawancara yang dilakukan lantaran kebetulan bertemu dengan nara sumber yang relevan dengan masalah yang tengah aktual.
Personality interview
Atau wawancara mengenai pribadi seseorang yang ditokohkan. Biasanya dimuat dalam bentuk profil, tokoh siapa dan mengapa yang menonjolkan sikap dan pandangannya yang patut dijadikan contoh yang baik oleh khalayak.
Wawancara pribadi juga bisadilakukan terhadap orang yang menunjukkan keluarbiasaan, aneh dan bertingkah eksklusif.
News interview
Adalah satu bentuk wawancara yanbg paling banyak digunakan jurnalis dalam mengumpulkan fakta yang akan disiarkan, baik sebagai sumber berita, maupun untuk mendapatkan suatu konfirmasi atas fakta lainnya.
Biasanya, wawancara berita ini dilakukan untuk mendapatkan bahan berita langsung (straight news) sesuai dengan penetapan jadwal berita (news schedule).
Telepohone interview
Telephone interview adalah wawancara yang dilakukan dengan menggunakan telepon, sering digunakan untuk berita-berita yang sangat mendesak deadline. Atau yang sering kita lihat akhir-akhir ini di televisi wawancara dengan nara sumber langsung dilakukan pada saat siaran berlangsung.
Kelemahan interview ini, tidak bisa mengetahui reaksi dan mimik air muka yang diwawancarai.
Prepared question interview
Adalah wawancara yang sering digunakan mass media untuk memperoleh tanggapan dan pendapat terhadap hal-hal yang rumit, menyangkut data-data, dan menyangkut disiplin keilmuan.
Untuk jenis ini, daftar pertanyaan dipersiapkan dan ditulis terlebih dahulu kepada nara sumber atau dikirimkan melalui pos atau kurir. Saat nara sumber menjawab pertanyaan yang mewawancarai tidak perlu hadir.
Wawancara tertulis ini akan memberikan waktu yang cukup kepada nara sumber guna mempertimbangkan dan memberikan jawabannya.
Group interview
Group interview adalah wawancara antara serombongan jurnalis dengan sekelompok nara sumber, bisa juga disebut symposium.
Wawancara seperti ini biasanya dimulai dengan sejenis konferensi pers yang kemudian dilanjutkan dengan menghadirkan sekelompok sumber (ahli) dan jurnalis juga terdiri atas beberapa media.
Menulis berita membutuhkan alat pembantu, agar dapat merekam peristiwa, gejala atau kejadian/fakta di lapangan .
Yang biasa digunakan:
1.Kamera
Penggunan kamera di lapangan harus memperhitungkan sudut pemotretan, serta kelihaian sendiri untuk objek yang sulit/tidak mau dipotret.
2.Pena dan buku catatan
Meski sudah menggunakan tape recorder, buku catatan diperlukan untuk membantu melihat bagain-bagian penting dari rekaman, disamping catatan sulit terhapus.
3.Tape recorder
Pada waktu wawancara tape sangat membantu mempertahankan suasana akrab karena tidak terganggu dengan mencatat penyataan sumber.
4.Telepon/ Telegram/Fax/Telex
Telepon dan alat komunikasi lainnya dibutuhkan saat kita di lapangan, untuk tetap up date berita kondisi dengan nara sumber atau tempat dimana kita bekerja.
5.Alat transportasi
Pada wilayah-wilayah tertentu alat transportasi adalah kebutuhan vital. Ada kalanya seorang jurnalis membutuhkan kendaraan, bahkan menyewa untuk sampai ke sebuah tujuan peliputan.
6. Bahasa (daerah, asing atau penterjemah)
Kesulitan sering timbul jika nara sumber tidak bias berbahasa seperti bahasa yang kita kuasai, dalam hal ini dibutuhkan penterjemah.
wilayah Liputan
Keberhasilan seorang jurnalis, disamping kemampuannya menulis berita, ditentukan pula oleh keterampilannya menemukan fakta berita, juga kemampuannya menyesuaikan diri dengan situasi di lapangan.
Berdasar kepada situasi dan objek yang diamati, dapat dibedakan atas wilayah liputan:
1.Manusia dan situasinya
a.Alam terbuka; pasar, perjalanan, tempat kerja, tempat hiburan, tempat upacara, dan lain-lain.
b.Ruang tertutup; upacara, rapat, pengadilan, rumah sakit, tahanan, kantor, dan lain-lain.
2.Alam dan gejalanya
Indah, subur, gersang, gunung, banjir, longsor dan sebagainya.
3.Binatang
Binatang peliharaan, sumber penyakit menular, kebun binatang, dan sebagainya.
Setelah mengetahui wilayah dan sudut berita langkah selanjutnya kita siapkan rencana, antara lain:
jenis berita dan dampak yang diharapkan, tempat atau sumber berita dan jumlah sumber yang berkaitan/berelasi menentukan alat-alat yang dibutuhkan menghitung jumlah biaya yang harus disediakan
memperkirakan jumlah waktu yang disediakan.
Rencana-rencana diatas akan sangat membantu menggambarkan secara keseluruhan tentang hasil, situasi dan keadaan yang bakal dihadapi di lapangan, membayangkan kendala-kendala yang mungkin ditemukan dan cara-cara mengatasinya.
Liputan Lapangan
Ketika berada di lapangan mengadakan observasi, jurnalis akan merekam peristiwa atau fakta yang ditemukan tersebut secara teratur, sesuai dengan rencana berita.
Disini kita dituntut untuk menggunakan seluruh alat indera; mata, telinga, hidung, kulit, lidah serta intuisi.
Seluruh fakta tersebut disimpan dan diendapkan untuk kemudian direproduksi kembali dalam bentuk tulisan (berita).
Ketelitian sangat dibutuhkan untuk menangkap fakta. Ketidaktelitian akan menimbulkan efek yang buruk, baik ketika menyusun berita ataupun setelah berita disiarkan.
PEG (SUDUT BERITA)
Menulis berita dengan baik hanya mungkin setelah lebih dahulu memastikan sudut berita. Dan prasyarat liputan yang terarah ialah memastikan sudut berita sejak kita berada di lapangan.
LEAD (INTRO)
Setelah sudut berita, kegiatan selanjutnya adalah menentukan Lead atau Intro. Dalam beberapa buku, lead diartikan dalam banyak arti, seperti Amerika menyebutnya lead atau nose; Inggris menyebutnya intro.
Lead sangat penting. Ingat, lead adalah awal cerita, suatu janji kepada pembaca mengenai apa yang terjadi mendatang. “ Tiga detik dan pembaca akan menentukan untuk membaca atau pindah kecerita lain. Itulah seluruh waktu yang ada bagi kita untuk menangkap pandangan selintas pembaca dan menahannya,” kata Donal Muras dalam bukunya Writing for your readers.
Waktu sangar berharga bagi pembaca. Mereka akan memutuskan untuk mulai membaca atau pindah. Bila mereka mulai membaca, banyak diantaranya hanya sepintas. Dua sampai empat paragraf.
Selanjutnya kita akan membahas beberapa jenis lead atau intro, termasuk lead peg, yang biasa digunakan dalam Reportase Dasar atau Straight News. Patut diingat, bahwa kita tak mungkin menentukan Lead atau Intro, tanpa lebih dulu memastikan Sudut Berita. Sama halnya dengan tak mungkin memastikan Sudut Berita tanpa lebih dulu mencek Jalan Cerita, dan seterusnya.
Lead, atau dalam bahasa Indonesia bias diterjemahkan menjadi teras berita, terletak di alinea atau paragraph pertama. Lead merupakan bagian dari komposisi atau susunan berita, yakni setelah judul berita (head) dan sebelum badan berita (news body).
Lead umumnya disusun dalam bentuk:
Summary lead atau conclusion lead (teras berita yang menyimpulkan dan dipadatkan).
Contoh: Gubernur Jawa Timur, sabtu (2/6), mengunjungi pasien gawat darurat akibat angin puting beliung di Rumah Sakit Daerah Sidoarjo.
Statement lead (teras berita berupa pernyataan).
Contoh: Kepala menegaskan, pemerintah akan bertindak tegas terhadap pelaku peledakan Bom II di Bali yang mengakibatkan tewasnya beberapa warga.
Quotation lead (teras berita kutipan).
Contoh: “ Kami akan menampilkan aksi panggung yang berbeda dalam pergelaran nanti malam,” demikian dikatakan The Same kemarin, menanggapi keluhan fans yang menganggap mereka tidak pernah berubah.
Contrast lead (teras berita kontras).
Contoh: Bogor, yang berjuluk kota hujan, untuk pertama kalinya dalam sebulan terakhir ini dilanda kemarau. Warga mersakan kesulitan mendapatkan air bersih.
Exclamation lead (teras berita yang menjerit)
Contoh: “ Tidak…!” demikian teriak histeris terdakwa AP, mendengar putusan hakim yang memvonisnya dengan hukuman mati.
PWI Pusat mengeluarkan sepuluh pedoman mengenai penulisan teras berita:
1.Teras berita yang menempati alinea pertama harus mencerminkan pokok terpenting berita. Alinea pertama dapat terdiri dari satu kalimat atau lebih, akan tetapi sebaiknya jangan sampai melebihi tiga kalimat.
2.Teras berita jangan mengandung lebih dari 30-45 kata.
3.Teras berita harus ditulis semenarik mungkin dan sebaik-baiknya, sehingga:
mudah ditangkap dan cepat dipahami.
kalimatnya singkat, sederhana, susunan bahasanya memenuhi prinsip ekonomi bahasa, dan menjauhkan kata mubazir.
satu gagasan dalam satu kalimat.
dibolehkan memuat lebih dari satu unsur 5W+1H.
4.Hal yang tidak mendesak, berfungsi sebagai pelengkap, hendaknya dimuat dalam badan berita.
5.Teras berita lebih baik mengutamakan unsure “apa” (what).
6.Teras berita juga dapat dimulai dengan unsure “siapa” (who). Tetapi, bila unsur siapa itu kurang menonjol, sebaiknya dimuat pada badan berita.
7.Teras berita jarang menonjolkan unsur “kapan/bilamana” (when), kecuali bila unsure itu punya makna khusus dalam berita itu.
8.Bila harus memilih dari dua unsure, yakni unsur tempat (where) dan waktu (when), maka pilihlah unsure tempat dulu, baru waktu.
9.Unsur lainnya, yakni bilamana dan mengapa, diuraikan dalam badan berita, tidak dalam teras berita.
10.Teras berita dapat dengan kutipan pernyataan seseorang (quotation lead), asalkan kutipan itu tidak berupa kalimat panjang. Pada alinea berikutnya, tulis nama orang itu, tempat, serta waktu dia membuat pernyataan itu.
BADAN BERITA (BODY)
Setelah menentukan Lead, kita menginventarisasi jenis-jenis keterangan yang telah dikumpulkan di lapangan, yaitu Jalan Cerita dari Peristiwa yang hendak kita laporkan.
Lead dan badan berita dipisahkan oleh sebuah jembatan, yakni kalimat peralihan yang mempermanis bergesernya pokok pikiran dari inti berita ke jalan cerita. Dengan lead yang baik, pembaca sudah tertarik perhatiannya, bukan oleh kepala beritanya saja, tetapi juga oleh kata-kata pertama dari kalimat pertama dalam lead itu.
Pilihan kata tidak bias sembarangan. Jangan sekali-kali memulai lead dengan kalimat: “sebagaimana pernah kita kabarkan..” Sebab sesuatu hal yang pernah dikabarkan bukanlah hal baru lagi. Juga bila kita memulai lead dengan kalimat: “ Menyambungberita tentang..”. Sebaiknya, mulailah segera dengan beritanya baru kemudian jelaskan bahwa berita itu adalah sambungan dari berita sebelumnya. Lead yang paling buruk adalah yang didahului dengan kalimat: “ Sebagaimana diketahui..”. Sesuatu yang sudah diketahui, tidak perlu diberitakan lagi.
Tahapan berikutnya adalah menata Badan berita. Yang harus diingat bahwa kita sebaiknya menempatkan hasil inventarisasi yang kurang penting di bagian belakan berita. Mulailah dengan berita yang penting dan akhiri dengan berita yang kurang penting. Ini disebut dengan model Piramida terbalik.
PENUTUP BERITA
Setelah menyelesaikan bagian tubuh berita, akan terlihat rangkaian fakta yang rinci dan terang yang hendak disampaikan. Namun bentuk berita akan terlihat sepenuhnya, jika penutupnya telah ditulis.
Paragraf terakhir dari sebuah tulisan, sekaligus akan menjadi penutup. Kalau dalam penulisan berita umumnya berbentuk piramida terbalik, isi alinea terakhir adalah hal-hal yang tidak begitu penting, kalau dipotong oleh redaktur tidak akan menggangguberita secara keseluruhan.
Berita dengan peristiwa, peristiwa dengan jalan cerita. Sangat sentral kedudukan peristiwa, sehingga tidak mungkin ada media berita andaikata tidak ada peristiwa matau jumlahnya sedikit.
Banyak terjadi berbagai peristiwa di sekitar kita, selalu terjadi dan ada dimana-mana. Mungkinkah seorang jurnalis pulang tanpa berita?
Mungkin, karena kemalasan atau kurangnya vitalitas. Atau alasan lain yang kedengaran lebih meyakinkan, yakni karena tidak semua peristiwa penting dan memiliki nilai berita.
Tetapi, bukankah dengan vitalitas semua hal biasa bias menjadi luar biasa? sehingga alasan diatas tidak selalu bias diterima.
Untuk melaporkan peristiwa, kita harus menakar nilai berita. Kita timbang semua unsur berita, mana yang bias diusahakan agar menjadi lebih penting. Menggunakan 5 W + 1 H.
Contoh:
Peristiwa bermain layangan oleh anak-anak kampung sekitar rumah, sulit menjadi berita. Tetapi bagaimana jika peristiwa yang sama terjadi dengan mengedepankan salah satu unsurnya seperti berikut ini.
Terjadi pada hari Nyepi, 30 Maret 2006. (kapan)
Pada hari biasa, tetapi dilakukan oleh Presiden dan wakil Presiden. (siapa)
Pada hari biasa, oleh anak – anak kampung, tetapi dimainkan di Indoor stadium. (dimana)
Pada hari biasa, oleh anak – anak kampung sekitar rumah, tetapi permainannya dilakukan tanpa benang/tali. (bagaimana)
Peristiwa bermain layangan oleh anak-anak kampung sekitar rumah, tetapi disponsori oleh pengusaha internasional. (mengapa)
Literatur jurnalistik di barat merumuskan NILAI BERITA ini sebagai: besar kecilnya dampak peristiwa pada masyarakat; menarik atau tidak dari segi ragam cara hidup manusia; besar kecilnay ketokohan orang yang terlibat peristiwa; jauh dekatnya lokasi peristiwa dari orang yang mengetahui beritanya; dan baru-tidaknya atau penting tidaknya saat peristiwa itu terjadi.
Dalam bahasa Inggris berturut-turut disebut:
Consequences; Human interest; Prominence; Proximity; Timeless. Atau disingkat CHOPPT.
Consequences (akibat); yaitu jika kejadian yang berkemungkinan mempengaruhi kehidupan orang banyak, atau kejadian yang memiliki kepentingan terhadap kehidupan pembaca.
Human interest (manusiawi); yaitu kejadian yang memberikan sentuhan perasaan bagi pembaca, kejadian yang menyangkut orang biasa dalam situasi luar biasa, atau orang besar dalam situasi biasa.
Prominence (tenar); yaitu yang menyangkut hal-hal yang terkenal atau sangat dikenal oleh pembaca.
Proximity (dekat); yaitu kejadian yang dekat dari pembaca, kedekatan ini bersifat geografis maupun emosional.
Timeless (waktu); yaitu kejadian yang menyangkut hal-hal baru terjadi atau baru ditemukan.
Hal-hal diatas kita perlukan untuk menakar nilai berita. Singkatnya, dalam berita terdapat dua masalah penting yang harus selalu menjadi patokan dalam menulis, yaitu 6 Unsur Berita (apa, siapa, kapan, dimana, bagaimana, mengapa) dan 5 Nilai Berita (Consequences; Human interest; Prominence; Proximity; Timeless).
Seorang jurnalis begitu di lapangan, harus segera menemukan peristiwa, menguasai jalan ceritanya, mencek, mericek, dan kalau perlu tripel cek. Setelah itu menakar nilai beritanya, melakukan cek dan ricek lagi.
Teknik reportase atau teknik peliputan berita merupakan hal mendasar yang perlu dikuasai para jurnalis. Namun, membahas teknik reportase, berarti juga membahas bagaimana cara media bekerja, sebelum mereka memutuskan untuk meliput suatu acara, kegiatan atau peristiwa.
Setiap media memiliki apa yang disebut kriteria kelayakan berita. Selain itu, mereka juga memiliki apa yang disebut kebijakan redaksional (editorial policy). Kriteria kelayakan berita itu bersifat umum (universal), dan tak jauh berbeda antara satu media dengan media yang lain. Sedangkan kebijakan redaksional setiap media bisa berbeda, tergantung visi dan misi atau ideologi yang dianutnya.
Perbedaan visi, misi dan ideologi ini akan berpengaruh pada sudut pandang atau angle peliputan. Dua media yang berbeda bisa mengambil sudut pandang yang berbeda terhadap suatu peristiwa yang sama. Bandingkan, misalnya, cara pandang redaktur harian Kompas dan Republika terhadap RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi, yang telah memancing kontroversi sengit di sejumlah kalangan belum lama ini.
Terakhir, tentu saja segmen khalayak yang dilayani tiap media juga berbeda-beda. Keinginan media untuk memuaskan kebutuhan segmen khalayak tersebut secara tak langsung juga berarti melakukan seleksi terhadap apa yang layak dan tidak layak diliput. Trans TV, misalnya, memilih khalayak dari kalangan sosial-ekonomi menengah ke atas. Majalah Femina membidik pasar kaum perempuan berusia menengah ke atas, yang tinggal atau bekerja di perkotaan. Sedangkan Radio Hardrock FM mengejar pasar kaum muda di Jakarta.
Kelayakan Berita
Berikut ini adalah sejumlah kriteria kelayakan berita, yang bersifat umum untuk semua media:
Penting. Suatu peristiwa diliput jika dianggap punya arti penting bagi mayoritas khalayak pembaca, pendengar, atau pemirsa. Tentu saja, media tidak akan rela memberikan space atau durasinya untuk materi liputan yang remeh. Kenaikan harga bahan bakar minyak, pemberlakuan undang-undang perpajakan yang baru, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), dan sebagainya, jelas penting karena punya dampak langsung pada kehidupan khalayak.
Aktual. Suatu peristiwa dianggap layak diliput jika baru terjadi. Maka, ada ungkapan tentang berita “hangat,” artinya belum lama terjadi dan masih jadi bahan pembicaraan di masyarakat. Kalau peristiwa itu sudah lama terjadi, tentu tak bisa disebut berita “hangat,” tetapi lebih pas disebut berita “basi.” Namun, pengertian “baru terjadi” di sini bisa berbeda, tergantung jenis medianya. Untuk majalah mingguan, peristiwa yang terjadi minggu lalu masih bisa dikemas dan dimuat. Untuk suratkabar harian, istilah “baru” berarti peristiwa kemarin. Untuk media radio dan televisi, berkat kemajuan teknologi telekomunikasi, makna “baru” adalah beberapa jam sebelumnya atau “seketika” (real time). Contohnya, siaran langsung pertandingan sepakbola Piala Dunia.
Unik. Suatu peristiwa diliput karena punya unsur keunikan, kekhasan, atau tidak biasa. Orang digigit anjing, itu biasa. Tetapi, orang mengigit anjing, itu unik dan luar biasa. Contoh lain: Seorang mahasiswa yang berangkat kuliah setiap hari, itu kejadian rutin dan biasa. Tetapi, jika seorang mahasiswa menembak dosennya, karena bertahun-tahun tidak pernah diluluskan, itu unik dan luar biasa. Di sekitar kita, selalu ada peristiwa yang unik dan tidak biasa.
Asas Kedekatan (proximity). Suatu peristiwa yang terjadi dekat dengan kita (khalayak media), lebih layak diliput ketimbang peristiwa yang terjadi jauh dari kita. Kebakaran yang menimpa sebuah pasar swalayan di Jakarta tentu lebih perlu diberitakan ketimbang peristiwa yang sama tetapi terjadi di Ghana, Afrika. Perlu dijelaskan di sini bahwa “kedekatan” itu tidak harus berarti kedekatan fisik atau kedekatan geografis. Ada juga kedekatan yang bersifat emosional. Agresi Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza, misalnya, secara geografis jauh dari kita, tetapi secara emosional tampaknya cukup dekat bagi khalayak media di Indonesia.
Asas Keterkenalan (prominence). Nama terkenal bisa menjadikan berita. Sejumlah media pada Juni-Juli 2006 ini ramai memberitakan kasus perceraian artis Tamara Bleszynski dan suaminya Teuku Rafli Pasha, serta perebutan hak asuh atas anak antara keduanya. Padahal di Indonesia ada ratusan atau bahkan ribuan pasangan lain, yang bercerai dan terlibat sengketa rumah tangga. Namun, mengapa mereka tidak diliput? Ya, karena sebagai bintang sinetron dan bintang iklan sabun Lux, Tamara adalah figur selebritas terkenal.
Magnitude. Mendengar istilah magnitude, mungkin mengingatkan Anda pada gempa bumi. Benar. Magnitude ini berarti “kekuatan” dari suatu peristiwa. Gempa berkekuatan 6,9 skala Richter pasti jauh lebih besar dampak kerusakannya, dibandingkan gempa berkekuatan 3,1 skala Richter. Dalam konteks peristiwa untuk diliput, sebuah aksi demonstrasi yang dilakukan 10.000 buruh, tentu lebih besar magnitude-nya ketimbang demonstrasi yang cuma diikuti 100 buruh. Kecelakaan kereta api yang menewaskan 200 orang pasti lebih besar magnitude-nya daripada serempetan antara becak dan angkot, yang hanya membuat penumpang becak menderita lecet-lecet. Semakin besar magnitude-nya, semakin layak peristiwa itu diliput.
Human Interest. Suatu peristiwa yang menyangkut manusia, selalu menarik diliput. Mungkin sudah menjadi bawaan kita untuk selalu ingin tahu tentang orang lain. Apalagi yang melibatkan drama, seperti: penderitaan, kesedihan, kebahagiaan, harapan, perjuangan, dan lain-lain. Topik-topik kemanusiaan semacam ini biasanya disajikan dalam bentuk feature.
Unsur konflik. Konflik, seperti juga berbagai hal lain yang menyangkut hubungan antar-manusia, juga menarik untuk diliput. Ketika ppahlawan sepakbola Perancis, Zinedine Zidane, “menanduk” pemain Italia, Marco Materrazzi, dalam pertandingan final Piala Dunia, Juli 2006 lalu, ini menarik diliput. Mengapa? Ya, karena sangat menonjol unsur konflik dan kontroversinya. Bahkan, kontroversi kasus Zidane ini lebih menarik daripada pertandingan antara kesebelasan Perancis dan Italia itu sendiri.
Trend. Sesuatu yang sedang menjadi trend atau menggejala di kalangan masyarakat, patut mendapat perhatian untuk diliput media. Pengertian trend adalah sesuatu yang diikuti oleh orang banyak, bukan satu-dua orang saja. Misalnya, suatu gaya mode tertentu yang unik, perilaku kekerasan antar warga masyarakat yang sering terjadi, tawuran antarpelajar, dan sebagainya.
Dalam memilih topik liputan, bisa saja tergabung beberapa kriteria kelayakan. Misalnya, kasus mantan anggota The Beatles, John Lennon, yang pada 1980 tewas ditembak di depan apartemennya di New York oleh Mark Chapman. Padahal beberapa jam sebelumnya, Chapman sempat meminta tanda tangan Lennon. Chapman mengatakan, ia mendengar “suara-suara” di telinganya yang menyuruhnya membunuh Lennon.
Mari kita lihat kriteria kelayakan berita ini. Pertama, Lennon adalah seorang selebritas yang terkenal di seluruh dunia (unsur keterkenalan). Kedua, penembakan terhadap seorang bintang oleh penggemarnya sendiri, jelas peristiwa luar biasa dan jarang terjadi (unsur keunikan). Ketiga, meskipun peristiwa itu terjadi di lokasi yang jauh dari Indonesia, para penggemar The Beatles di Indonesia pasti merasakan kesedihan mendalam akibat tewasnya Lennon tersebut (unsur kedekatan emosional). Dan seterusnya.
Proses pembuatan berita
Proses pembuatan berita pada prinsipnya tak banyak berbeda di semua media. Di media yang sudah mapan, biasanya telah dibuat semacam prosedur operasional standar (SOP) dalam pembuatan berita, untuk menjaga kualitas berita yang dihasilkan.
Proses pembuatan berita biasanya dimulai dari rapat redaksi, yang juga merupakan jantung operasional media pemberitaan. Rapat redaksi merupakan kegiatan rutin, yang penting bagi pengembangan dan peningkatan kualitas berita yang dihasilkan.
Dalam rapat redaksi ini, para reporter, juru kamera, redaktur, bisa mengajukan usulan-usulan topik liputan. Usulan itu sendiri bisa berasal dari berbagai sumber. Misalnya: Undangan liputan dari pihak luar, konferensi pers, siaran pers, berita yang sudah dimuat atau ditayangkan di media lain, hasil pengamatan pribadi si jurnalis, masukan dari narasumber/informan, dan sebagainya.
Sasaran Rapat Redaksi:
1. Untuk mengkoordinasikan kebijakan redaksi dan liputan.
2. Untuk menjaga kelancaran komunikasi antar staf redaksi (komunikasi antara reporter, juru kamera, staf riset, redaktur, dan sebagainya).
3. Untuk memecahkan masalah yang timbul sedini mungkin (potensi hambatan teknis dalam peliputan, keterbatasan sarana/alat untuk peliputan, keamanan dalam peliputan, dan sebagainya)
4. Untuk menghasilkan hasil liputan yang berkualitas.
Dari rapat redaksi ini, ditentukan topik yang mau diliput, sekaligus ditunjuk reporter (plusjuru kamera) yang harus meliputnya. Dalam pembahasan yang lebih rinci, bisa dibahas juga angle (sudut pandang) yang dipilih dari topik liputan bersangkutan, serta narasumber yang harus diwawancarai. Untuk kelengkapan data, staf riset bisa diminta mencari data tambahan guna menyempurnakan hasil liputan nantinya.
Sesudah tugas dibagikan secara jelas dalam rapat redaksi, dan redaktur memberi brifing pada reporter, berbekal informasi dan arahan tersebut, si reporter pun meluncur ke lapangan. Dalam proses peliputan, bila ada masalah atau hambatan dalam liputan di lapangan,si reporter dapat berkonsultasi langsung dengan redaktur yang menugaskannya. Hambatan itu, misalnya, narasumber menolak diwawancarai, atau peristiwa yang diliput ternyata tidak seperti yang dibayangkan.
Setelah selesai meliput, si reporter kembali ke kantor, dan melaporkan hasil liputannya kepada redaktur yang memberi penugasan. Sang redaktur lalu membuat penilaian, apakah hasil liputan itu sudah sesuai dengan rancangan awal, yang sebelumnya ditetapkan dalam rapat redaksi. Apakah ada hal-hal yang baru, yang mungkin lebih menarik diangkat dalam penulisan. Atau, sebaliknya, hasil liputan ternyata justru biasa saja, tidak sehebat atau sedramatis yang diharapkan.
Redaktur juga melihat, apakah ada hal yang kurang terliput oleh si reporter. Apakah hasil liputan sudah lengkap? Redaktur juga mempertimbangkan asas keberimbangan dan proporsionalitas dalam isi pemberitaan. Misalnya, apakah jumlah narasumber yang diwawancarai sudah cukup? Apakah narasumber yang diwawancarai itu sudah mewakili berbagai kepentingan yang terlibat?
Berdasarkan berbagai pertimbangan itu, redaktur mengusulkan di mana berita itu akan ditempatkan. Di sejumlah media, ada rapat khusus (kadang-kadang disebut rapat budgeting, meski ini tidak ada hubungannya dengan uang) untuk membahas penempatan berita. Namun, dalam rapat ini, reporter tidak ikut serta karena sudah diwakili oleh redakturnya. Di rapat ini dibahas, apakah hasil liputan itu layak untuk berita utama di halaman pertama, atau sekadar layak untuk dimuat pendek di halaman dalam, atau justru tidak layak dimuat sama sekali.
Sesudah jelas, berita itu akan dimuat di halaman mana, seberapa panjangnya, serta penekanan pada aspek yang mana, si reporter disuruh menuliskannya. Hasil tulisan diserahkan kepada redaktur terkait, untuk disunting dari segi bahasa dan isinya. Sebelum berita ini dimuat, kadang-kadang harus melalui proses penyuntingan bahasa oleh editor atau penyunting yang khusus memeriksa gaya bahasa. Jika isi berita itu dianggap layak jadi berita utama, biasanya redaktur pelaksana atau pemimpin redaksi juga bisa ikut terlibat.
Kemudian, berita pun dimuat. Demikianlah proses pembuatan berita pada umumnya di media cetak. Khusus untuk media televisi (audio-visual), faktor ketersediaan gambar ikut berpengaruh, bahkan sangat berpengaruh, mengenai apakah suatu item berita akan ditayangkan atau tidak. Kalaupun ditayangkan, format penayangannya juga banyak tergantung pada ketersediaan gambar.
Menggali Informasi
Tugas seorang reporter pada dasarnya adalah mengumpulkan informasi, yang membantu publik untuk memahami peristiwa-peristiwa yang mempengaruhi kehidupan mereka. Penggalian informasi ini membawa sang reporter untuk melalui tiga lapisan atau tahapan peliputan:
Lapisan pertama, adalah fakta-fakta permukaan. Seperti: siaran pers, konferensi pers, rekaman pidato, dan sebagainya. Lapisan pertama ini adalah sumber bagi fakta-fakta, yang digunakan pada sebagian besar berita. Informasi ini digali dari bahan yang disediakan dan dikontrol oleh narasumber. Oleh karena itu, isinya mungkin masih sangat sepihak. Jika reporter hanya mengandalkan informasi lapisan pertama, perbedaan antara jurnalisme dan siaran pers humas menjadi sangat tipis.
Lapisan kedua, adalah upaya pelaporan yang dilakukan sendiri oleh si reporter. Di sini, sang reporter melakukan verifikasi, pelaporan investigatif, liputan atas peristiwa-peristiwa spontan, dan sebagainya. Di sini, peristiwa sudah bergerak di luar kontrol narasumber awal. Misalnya, ketika si reporter tidak mentah-mentah menelan begitu saja keterangan Humas PT. Lapindo Brantas, tetapi si reporter datang ke lokasi meluapnya lumpur, dan mewawancarai langsung para warga korban lumpur di Sidoarjo, Jawa Timur.
Lapisan ketiga, adalah interpretasi (penafsiran) dan analisis. Di sini si reporter menguraikan signifikansi atau arti penting suatu peristiwa, penyebab-penyebabnya, dan konsekuensinya. Publik tidak sekadar ingin tahu apa yang terjadi, tetapi mereka juga ingin tahu bagaimana dan mengapa peristiwa itu terjadi. Apa makna peristiwa itu bagi mereka, dan apa yang mungkin terjadi sesudahnya (dampak susulan dari peristiwa tersebut).
Seorang reporter harus selalu berusaha mengamati peristiwa secara langsung, ketimbang hanya mengandalkan pada sumber-sumber lain, yang kadang-kadang berusaha memanipulasi atau memanfaatkan pers. Salah satu taktik yang dilakukan narasumber adalah mengadakan media event, yakni suatu tindakan yang sengaja dilakukan untuk menarik perhatian media.
Verifikasi, pengecekan latar belakang, observasi langsung, dan langkah peliputan yang serius bisa memperkuat, dan kadang-kadang membenarkan bahan-bahan awal yang disediakan narasumber.
Teknik Menjadi Reporter yang Handal
Teknik Reporter

Profesi reporter merupakan ujung tombak di dalam dunia jurnalistik. Bagaimana isu-isu di masyarakat dicari sumber informasinya, hingga kemudian dikemas ke dalam sebuah artikel yang menarik dan layak untuk dibaca merupakan deskripsi sederhana kerja seorang reporter. Namun di balik itu semua dibutuhkan teknik-teknik dan juga trik khusus di dalam melakukan reportase dan menulis sebuah artikel. Di dalam tulisan ini, akan dibahas secara tuntas bagaimana teknik reportase, dan menulis artikel jurnalistik yang baik.

Kerja seorang reporter

Reportase merupakan pekerjaan dimana kita harus seratus persen focus dan bertanggung jawab di dalamnya. Jika kita hanya setengah2 dan tidak tuntas di dalam bekerja akan terjadi missing di masyarakat yang bisa saja menjadi masalah besar dengan pertanggungjawaban yang besar pula. Namun menjadi reporter bukan melulu akan menjadi profesi yang menyebalkan dan membosankan. Itu semua tergantung dengan bagaimana kita mengerjakannya. Jika kita mengerjakannya dengan sepenuh hati, niat yang baik untuk memberikan informasi kepada masyarakat, dan juga menjalin hubungan baik dengan orang lain, niscaya pekerjaan reporter akan menjadi profesi yang sangat menyenangkan.
a. Menanggapi isu yang berkembang
Kerja awal reporter adalah menghadapi isu-isu yang berkembang di masyarakat. Seperti contoh isu tentang aliran dan Bank Century untuk kampanye SBY. Sebagai reporter yang baik, langkah awal setelah mendengar adanya isu adalah berpikir netral. Ubah niat kita menjadi untuk mencari kebenaran bukan untuk menyudutkan salah satu pihak.
b. Mencari sumber dan data terkait yang valid
Setelah menanggapi isu tersebut, ditindaklanjuti dengan mencari sumber dan data terkait yang valid. Data yang dicari bisa merupakan data primer yaitu langsung kepada narasumber terkait, dan juga data sekunder yaitu data literature yang valid dari sumber terpercaya.
c. Proses wawancara dan pencarian data literature
Proses ini merupakan proses terpenting di dalam kerja seorang reporter. Antara data primer dan data sekunder sama pentingnya, namun di dalam proses ini data primer harus didahulukan. Hal tersebut karena terkadang data sekunder dari sumber terpercaya pun bisa saja direkayasa oleh pihak tertentu. Berbeda dengan data primer, saat kita bertemu face to face dengan narasumber terkait, akan terasa atmosfer berbeda dan disinilah sifat kritis reporter diperlukan di dalam menginvestigasi narasumber.
d. Proses peredaksian.
Data yang telah didapatkan kemudian dikumpulkan, khusus untuk data primer reporter wajib untuk membuat verbatim, yaitu sebuah catatan lengkap tanya jawab pada saat melakukan wawancara. Tidak lupa data primer dan sekunder dilakukan uji cross, sehingga pastikan data sinkron sebelum masuk ke tahap penulisan artikel.
e. Proses penulisan
Proses penulisan artikel merupakan tahap akhir di dalam kerja reporter. Setelah isu ditanggapi, dicari tahu kebenarannya, dan diolah datanya tiba saatnya reporter mengejawantahkannya ke dalam bentuk tulisan. Inti dari proses ini adalah berjiwa kritis. Pada proses awal tadi sempat dijelaskan bahwa niat awal kita adalah netral. Namun pada saat penulisan kita harus memberikan info sebenar-benarnya. Reporter harus mengeluarkan pemikiran kritisnya, namun tetap cerdas, mematuhi etika, dan tidak membabi buta dalam mengemukakan fakta informasi.

Taktik Jitu Dalam Pencarian Data

Telah diutarakan sebelumnya bahwa data terbagi atas data primer yang langsung kepada narasumber terkait dan data sekunder berupa data literature dari sumber yang terpercaya. Untuk tiap data tersebut terdapat tips khusus agar reporter bisa maksimal dalam bekerja.
a. Tips untuk data primer (wawancara langsung narasumber).
- Reporter harus mau bekerja keras dan berani. Sehingga siapapun narasumbernya reporter tersebut tidak gentar. Terkadang narasumber tertentu sulit untuk ditemui. Reporter yang baik harus cekatan membuat janji dengan narasumbernya, terkadang jika kita beruntung cobalah untuk datangi langsung kantornya, biasanya kesempatan untuk wawancara bisa langsung dating. Jangan jadi reporter yang malas dan manja!
- Reporter harus siap dengan pertanyaannya. Kembangkan jiwa kritis kalian pada saat wawancara. Jangan hanya mengangguk dan mudah berkata iya terhadap semua jawaban narasumber. Lagi-lagi kita harus konsentrasi penuh terhadap narasumber. Sehingga kita dapat memberikan tanggapan yang tepat pada saat itu juga.
- Reporter harus menggiring narasumber kepada permasalahan, bukan sebaliknya. Sebagai reporter kita harus bermain cantik dengan tidak to the point saat wawancara berlangsung. Hal ini untuk menghindari narasumber yang malah akan menjadi malas untuk diwawancara.
- Reporter harus efektif dan efisien dalam wawancara. Reporter harus memiliki perkiraan waktu yang tepat. Biasanya sesaat sebelum wawancara dimulai, antara reporter dan narasumber terjadi kesepakatan waktu wawancara. Reporter harus dapat memperkirakan berapa waktu untuk berbasa-basi dan berapa waktu untuk pertanyaan yang berhubungan dengan akar permasalahan.
- Reporter harus mampu mengendalikan permainan. Terkadang ada narasumber yang cenderung ingin menguasai jalannya wawancara, menjawab berputar-putar, dan mengalihkan pembicaraan. Kunci untuk menghadapi masalah ini adalah ketahuilah terlebih dahulu dasar-dasar permasalahannya, dan perbanyaklah pengalaman. Karena keahlian wawancara tidak akan muncul pada saat pertama kali. Dibutuhkan pengalaman yang banyak sehingga kita terbiasa berbincang dengan orang lain, hingga tahu psikologis orang yang kita wawancarai.
- Gunakan kalimat yang sopan dan baik, karena narasumber ingin selalu dihargai atas waktu dan kesempatan yang ia berikan untuk wawancara.
- Jadikan tiap kesempatan wawancara menjadi tempat untuk menjalin relasi. Sehingga kapanpun kita membutuhkan wawancaranya lagi, dengan senang hati narasumber yang sama akan senang hati menerima anda.
b. Tips untuk data sekunder
- Kunjungi situs online resmi, untuk mencari data terkait. Ingat data tidak boleh sembarangan!
- Jika tidak terdapat situs resmi, kunjungilah instansi terkait. Tanyakan data yang anda butuhkan saat itu juga.
- Cari data lewat buku-buku dengan kutipan dan daftar pustaka yang jelas. Coba cek melalui daftar pustaka, data-data yang mungkin berhubungan.

KODE ETIK JURNALISTIK ::

Kemerdekaan berpendapat, berekspresi, dan pers adalah hak asasi manusia yang dilindungi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB. Kemerdekaan pers adalah sarana masyarakat untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi, guna memenuhi kebutuhan hakiki dan meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Dalam mewujudkan kemerdekaan pers itu, wartawan Indonesia juga menyadari adanya kepentingan bangsa, tanggung jawab sosial, keberagaman masyarakat, dan norma-norma agama.

Dalam melaksanakan fungsi, hak, kewajiban dan peranannya, pers menghormati hak asasi setiap orang, karena itu pers dituntut profesional dan terbuka untuk dikontrol oleh masyarakat.

Untuk menjamin kemerdekaan pers dan memenuhi hak publik untuk memperoleh informasi yang benar, wartawan Indonesia memerlukan landasan moral dan etika profesi sebagai pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas serta profesionalisme. Atas dasar itu, wartawan Indonesia menetapkan dan menaati Kode Etik Jurnalistik:

Pasal 1
Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.

Penafsiran
a. Independen berarti memberitakan peristiwa atau fakta sesuai dengan suara hati nurani tanpa campur tangan, paksaan, dan intervensi dari pihak lain termasuk pemilik perusahaan pers.
b. Akurat berarti dipercaya benar sesuai keadaan objektif ketika peristiwa terjadi.
c. Berimbang berarti semua pihak mendapat kesempatan setara.
d. Tidak beritikad buruk berarti tidak ada niat secara sengaja dan semata-mata untuk menimbulkan kerugian pihak lain.

Pasal 2
Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik.

Penafsiran
Cara-cara yang profesional adalah:
a. menunjukkan identitas diri kepada narasumber;
b. menghormati hak privasi;
c. tidak menyuap;
d. menghasilkan berita yang faktual dan jelas sumbernya;
e. rekayasa pengambilan dan pemuatan atau penyiaran gambar, foto, suara dilengkapi dengan keterangan tentang sumber dan ditampilkan secara berimbang;
f. menghormati pengalaman traumatik narasumber dalam penyajian gambar, foto, suara;
g. tidak melakukan plagiat, termasuk menyatakan hasil liputan wartawan lain sebagai karya sendiri;
h. penggunaan cara-cara tertentu dapat dipertimbangkan untuk peliputan berita investigasi bagi kepentingan publik.

Pasal 3
Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.

Penafsiran
a. Menguji informasi berarti melakukan check and recheck tentang kebenaran informasi itu.
b. Berimbang adalah memberikan ruang atau waktu pemberitaan kepada masing-masing pihak secara proporsional.
c. Opini yang menghakimi adalah pendapat pribadi wartawan. Hal ini berbeda dengan opini interpretatif, yaitu pendapat yang berupa interpretasi wartawan atas fakta.
d. Asas praduga tak bersalah adalah prinsip tidak menghakimi seseorang.

Pasal 4
Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul.

Penafsiran
a. Bohong berarti sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya oleh wartawan sebagai hal yang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi.
b. Fitnah berarti tuduhan tanpa dasar yang dilakukan secara sengaja dengan niat buruk.
c. Sadis berarti kejam dan tidak mengenal belas kasihan.
d. Cabul berarti penggambaran tingkah laku secara erotis dengan foto, gambar, suara, grafis atau tulisan yang semata-mata untuk membangkitkan nafsu birahi.
e. Dalam penyiaran gambar dan suara dari arsip, wartawan mencantumkan waktu pengambilan gambar dan suara.

Pasal 5
Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.

Penafsiran
a. Identitas adalah semua data dan informasi yang menyangkut diri seseorang yang memudahkan orang lain untuk melacak.
b. Anak adalah seorang yang berusia kurang dari 16 tahun dan belum menikah.

Pasal 6
Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap.

Penafsiran
a. Menyalahgunakan profesi adalah segala tindakan yang mengambil keuntungan pribadi atas informasi yang diperoleh saat bertugas sebelum informasi tersebut menjadi pengetahuan umum.
b. Suap adalah segala pemberian dalam bentuk uang, benda atau fasilitas dari pihak lain yang mempengaruhi independensi.

Pasal 7
Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi narasumber yang tidak bersedia diketahui identitas maupun keberadaannya, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan “off the record” sesuai dengan kesepakatan.

Penafsiran
a. Hak tolak adalak hak untuk tidak mengungkapkan identitas dan keberadaan narasumber demi keamanan narasumber dan keluarganya.
b. Embargo adalah penundaan pemuatan atau penyiaran berita sesuai dengan permintaan narasumber.
c. Informasi latar belakang adalah segala informasi atau data dari narasumber yang disiarkan atau diberitakan tanpa menyebutkan narasumbernya.
d. “Off the record” adalah segala informasi atau data dari narasumber yang tidak boleh disiarkan atau diberitakan.

Pasal 8
Wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, dan bahasa serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani.

Penafsiran
a. Prasangka adalah anggapan yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui secara jelas.
b. Diskriminasi adalah pembedaan perlakuan.

Pasal 9
Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik.

Penafsiran
a. Menghormati hak narasumber adalah sikap menahan diri dan berhati-hati.
b. Kehidupan pribadi adalah segala segi kehidupan seseorang dan keluarganya selain yang terkait dengan kepentingan publik.

Pasal 10
Wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, dan atau pemirsa.

Penafsiran
a. Segera berarti tindakan dalam waktu secepat mungkin, baik karena ada maupun tidak ada teguran dari pihak luar.
b. Permintaan maaf disampaikan apabila kesalahan terkait dengan substansi pokok.

Pasal 11
Wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi secara proporsional.

Penafsiran
a. Hak jawab adalah hak seseorang atau sekelompok orang untuk memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan berupa fakta yang merugikan nama baiknya.
b. Hak koreksi adalah hak setiap orang untuk membetulkan kekeliruan informasi yang diberitakan oleh pers, baik tentang dirinya maupun tentang orang lain.
c. Proporsional berarti setara dengan bagian berita yang perlu diperbaiki.

Penilaian akhir atas pelanggaran kode etik jurnalistik dilakukan Dewan Pers.
Sanksi atas pelanggaran kode etik jurnalistik dilakukan oleh
organisasi wartawan dan atau perusahaan pers.

CONTOH BIKIN SEKRIPSI KEBIDANAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Proses kehamilan, persalinan dan nifas tidak senantiasa berlangsung secara fisiologi, tetapi juga berlangsung secara patologis, oleh karena itu setiap tindakan yang dilakukan harus di dasarkan atas indikasi pertimbangan yang menentukan bahwa tindakan perlu dilakukan demi kepentingan ibu dan janin. ( Sarwono 2006 ).
Angka kematian ibu dan angka kematian bayi di Indonesia tertinggi di Asia Tenggara. Laporan pembangunan manusia tahun 2000 menyebutkan angka kematian ibu di Malaysia jauh di bawah Indonesia, yaitu 41/100.000 kelahiran hidup, Singapura 6/100.000 kelahiran hidup, Thailand 44/100.000 kelahiran hidup, Filipina 170/100.000 kelahiran hidup, Vietnam 260/100.000 kelahiran hidup, Indonesia 307/100.000 kelahiran hidup (SDKI 2002-2003).
Berdasarkan data yang diperoleh pada tahun 2007 Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia termasuk tertinggi di Asia yakni 248 per 100.000 kelahiran hidup atau setiap jam terdapat dua orang ibu bersalin yang meninggal dunia karena berbagai sebab demikian pula Angka Kematian Bayi (AKB) khususnya kematian bayi baru lahir (Neonatal) masih berada pada kisaran 26,9per1000 kelahiran hidup (www.goole.com).
Dari hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia pada tahun 2005 angka kematian ibu menjadi 262/100.000 kelahiran hidup, tahun 2006 menjadi 255/100.000 kelahiran hidup, tahun 2007 menjadi 248/100.000 kelahiran hidup. Departemen Kesehatan RI menargetkan pada tahun 2008 angka kematian ibu menjadi 235/100.000 hidup dan pada akhir tahun 2009 menjadi 226/100.000 kelahiran hidup.
Penyebab langsung kematian maternal di Indonesia adalah “trias klasik” yaitu perdarahan 52,24%, infeksi 27,2%, dan eklamsi 18,6%. Kematian maternal yang tinggi dapat di cegah dengan deteksi dini masalah yang mungkin timbul terutama pengawasan masa kehamilan, persalinan, penanganan bayi baru lahir dan masa nifas serta bayi pada masa neonatal dapat di jalankan dengan baik. ( www. google.com ) .
Menanggapi permasalahan yang disebutkan di atas maka kemampuan dan pengetahuan tenaga kesehatan khususnya Bidan merupakan salah satu faktor utama dalam meningkatkan kualitas dan mutu pelayanan yaitu pelayanan kesehatan maternal dan neonatal sehingga komplikasi pada saat persalinan dan nifas dapat dicegah.
Mengacu pada pernyataan tersebut di atas penulis tertarik untuk membuat makalah yang merupakan laporan studi kasus tentang Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny A di BPS Bidan L di Cikeas

I.2 Rumusan Masalah
Sesuai dengan judul studi kasus yaiu Manajemen Asuhan Kebidanan Komprhensip pada Ny.A maka perumusan masalah pada studi kasus ini adalah bagaimana menerapkan manajemen asuhan kebidanan secara berkesinambungan pada masa kehamilan , bersalin, dan nifas serta bayi baru lahir pada Ny.A di BPS Bidan L di Cikeas

I.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Tujuan Umum
Memberikan dan menerapkan manajemen asuhan kebidanan pada ibu hamil, bersalin, bayi baru lahir, dan nifas dengan asuhan sayang ibu sehingga dapat menurunkan angka mortalitas,morbiditas..

I.3.2Tujuan Khusus
a. Dapat melakukan Asuhan Kebidanan pada ibu Hamil.
b. Dapat melakukan Asuhan Kebidanan pada ibu Bersalin.
c. Dapat melakukan Asuhan Kebidanan pada Bayi Baru Lahir.
d. Dapat melakukan Asuhan Kebidanan pada ibu Nifas
e. Mampu melakukan pendokumentasian dengan penulisannya secara SOAP.

I.4 Hasil yang Di Harapkan
Dengan dilaksanakannya asuhan kebidanan yang komprehensif diharapkan penulis mampu menerapkan manajemen asuhan kebidanan dan berkesinambungan :
a. Ibu dapat menjalani kehamilannya dengan lancar.
b. Ibu dapat mengatasi ketidaknyamanan pada saat kehamilan,
c. Komplikasi kehamilan dapat terdeteksi secara dini.
d. Ibu dapat menjalani masa nifas secara normal dan pemberian ASI secara eksklusif.
e. Ibu dan keluarga dapat menerima kelahiran bayi, sehingga bayi dapat tumbuh kembang secara optimal.
f. Ibu menjadi akseptor KB.

1.5 Waktu dan tempat pengambilan kasus
1.5.1 Waktu
Waktu pengambilan kasus di mulai sejak tanggal 03- 10- 2009 sampai tanggal 14-01- 2010
I.5.2 Tempat
Tempat pengambilan kasus di BPS Bidan L Cikeas ,dengan alamat Cikeas Bogor

I.6 Gambaran Kasus
Pada studi kasus ini penulis mengambil kasus pada Ny. A, umur 26 tahun. agama Islam, suku Sunda, pendidikan SMP, pekerjaan ibu rumah tangga, alamat Wanaherang, Nama suami Tn. I, umur 28 tahun, agama Islam, suku sunda, pendidikan SMA, pekerjaan Karyawan.
Ibu mengatakan haid terakhir pada tanggal 18- 02- 2009, tafsiran persalinan, tanggal 25- 11- 2009.
Ny. A hamil anak pertama, Ny. A melakukan pemeriksaan ANC sebanyak lima kali Kontak pertama kali dengan penulis pada tanggal 3- 10- 2009. dari pemeriksaan fisik diketahui keadaan ibu baik, TD : 120/70 mmHg, TB : 150 cm, BB 52 kg, Lila : 24 cm. dilakukan pemeriksaan Hb dengan hasil 12 gr%. hamil 32 minggu.Selama hamil ibu sudah di imunisasi TT sebanyak 2 kali TT I : 12 -06 -2009 TT II : 12 – 07 -2009 Pada pemriksaan kehamilan tidak ada keluhan.pada usia kehamilan 36 minggu dilakukan pemeriksaan hb dengan hasil 12,3 gr % .
Pada proses persalinan kala I ibu datang ke BPS Bidan L di Cikeas bersama suaminya pada tanggal 3- 12- 2009 pukul 07.00 WIB. dengan keluhan mules- mules sejak pukul 01.00 WIB dan keluar lendir bercampur darah, mules setiap 3 kali dalam 10 menit lama 40 detik, tidak keluar air- air. melakukan pemeriksaan dengan hasil keadaan umum ibu baik, TD : 120/80 mmHg , N : 82 x/menit, R : 24 x/menit, S 36,5 °C, palpasi TFU 32 Cm, puki, letak kepala, penurunan 1/5 bagian, Djj : 136 x/menit, VT : potio lunak, pembukaan 8 cm, ketuban positif, kepala H III+.Pada pukul 09.30 WIB bayi lahir spontan, bayi lahir spontan, hidup, jenis kelamin perempuan,berat badan lahir 3100 gram, panjang badan 50 cm, A/S 9/10, anus ada, cacat tidak ada. Perdarahan 100 cc,melakukan manajemen aktif kala III dengan hasil plasenta lahir 5 menit setelah kelahiran bayi dengan spontan dan lengkap perdarahan 150 cc. Kala IV pukul 09.50 perdarahan 50 cc Selama proses persalinan ibu dan janin dalam keadaan baik, tidak ditemukan kelainan.
Memantau keadaan nifas mulai dari 6 jam post partum,Kunjungan nifas 6 hari. Kunjungan nifas 2 minggu.Kunjungan nifas 6 minggu direncanakan.
Asuhan bayi baru lahir, bayi lahir pukul 09.30 WIB. BB 3100 gram, PB 50 cm, LK 32, lingkar dada 34, lila 11 cm, AS 9/10, anus +, cacat -, neonatus bayi baru lahir dapat menyusu dengan baik, BAB BAK positif tidak terdapat tanda- tanda bahaya pada bayi,Neonatus cukup bulan sesuai Masa kehamilan usia 6 hari berat badan 3300 gram,neonatus cukup bulan sesuai masa kehamilan usia 14 hari bayi,Bayi usia 6 rninggu berat badan 3700 gram, bayi dalam kondisi sehat, bayi Ny A sudah diberi Imunisasi Hepatitis B,dan imunisasi BCG pada tanggal 03- 01-2010 mengingatkan tanda- tanda bahaya pada bayi.

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. TINJAUAN MEDIS
2.1 KEHAMILAN
2.1.1. Proses Permulaan Kehamilan
Setiap bulan wanita melepaskan satu atau dua sel telur (ovum) dari indung telur (ovulasi) kemudian ditangkap oleh umbai – umbai (fimbrie) masuk kedalam saluran telur. Saat persetubuhan semen ditumpahkan kedalam vagina dan berjuta-juta sel mani (sperma) bergerak memasuki rongga rahim lalu masuk kesaluran telur.
Disekitar sel telur banyak berkumpul sperma yang mengeluarkan ragi mencairkan zat-zat yang melindungi ovum kemudian pada tempat yang paling mudah dimasuki, masuklah satu sel mani bersatu dengan sel telur. Peristiwa ini disebut pembuahan (konsepsi = fertilisasi).
Ovum yang telah dibuahi ini segera membelah diri sambil bergerak (oleh rambut getar tuba) menuju ruang rahim kemudian melekat pada mukosa rahim untuk selanjutnya bersarang disini disebut nidasi (implentasi) dari pembuahan dari nidasi diperlukan waktu kira-kira 6-7 hari. Untuk suplai darah dan zat-zat makanan mudigah dan janin dipersiapkan uri (placenta). (Sinopsis obstetric)
2.1.2. Definisi
Kehamilan (Graviditas) adalah dengan dimulainya konsepsi (pembuahan) dan berakhir dengan permulaan persalinan. Lamanya kehamilan mulai dari ovulasi sampai partus adalah kira-kira 280 hari (40 minggu), dan tidak lebih dari 294 hari (42 minggu). Kehamilan lebih dari 42 minggu disebut kehamilan postmatur, sedangkan kehamilan dibawah 37 minggu disebut premature. Usia kehamilan yang normal pada saat partus 37 sampai 42 minggu. Ditinjau dari tuanya kehamilan, kehamilan dibagi dalam 3 bagian :
a. Trimester I (0 sampai 12 minggu)
b. Trimester II (13 sampai 28 minggu)
c. Trimester III (29 sampai 40 minggu)
Bila hasil konsepsi dikeluarkan dari kavum uteri pada kehamilan dibawah 20 minggu, disebut abortus (keguguran). Bila hal ini terjadi dibawah 36 minggu disebut partus prematurus (persalinan premature). Kelahiran dari 37 minggu sampai 42 minggu disebut partus aterm.

2.1.3. Ciri – Ciri Fetus
Tua kehamilan ( dalam minggu sesudah hari pertama haid terakhir ) Panjang fetus ( dari puncak kepala ke ujung sacrum )
Ciri-ciri
- Organogenesis
> 8 minggu

> 12 minggu 2,5 cm

9 cm Hidung, kuping, jari-jari mulai dibentuk kepala membungkuk ke dada.
Daun kuping lebih jelas, kelopak-kelopak mata masih melekat, leher mulai di bentuk, alat genetalia eksterna di bentuk, belum berdiferensiasi.
- Masa fetal
> 16 minggu

> 20 minggu

> 24 minggu

- masa perinatal
> 28 minggu
16-18 cm

25 cm

30-32 cm

35 cm
Genetika eksterna terbentuk dan dapat dikenal kulit merah tipis sekali
Kulit lebih tebal, otak dengan rambut balut (lanugo)

Kelopak – kelopak mata terpisah, alis dan bulu mata ada, kulit keriput

Berat 1000 gram

2.1.4. Tanda – Tanda Kehamilan
A. Tanda tidak pasti
1. Amenorea ( tidak dapat haid )
Gejala ini sangat penting karena umumnya wanita hamil tidak mendapat haid lagi. Penting diketahui tanggal hari pertama haid terakhir untuk menentukan tuanya kehamilan dan taksiran persalinan.
2. Nausea ( enek ) dan emesis ( muntah )
Hal ini sering di bulan – bulan pertama kehamilan dan kadang – kadang disertai emesis. Sering terjadi di pagi hari , tetapi tidak selalu. Keadaan ini sering disebut Morning Sicness.
3. Mengidam
Mengidam sering terjadi pada bulan pertama akan tetapi menghilang dengan makin tuanya kehamilan.
4. Pingsan
Sering terjadi bila ibu berada di tempat – tempat ramai. Dianjurkan untuk tidak pergi ke tempat – tempat ramai pada bulan – bulan pertama kehamilan dan biasanya hilang pada usia kehamilan 16 minggu
5. Mamma menjadi besar dan tegang
Keadaan ini disebabkan oleh pengaruh hormon estrogen dan progesterone yang merangsang duktuli dan alveoli di mamma
6. Anoreksia ( tidak nafsu makan )
Pada bulan – bulan pertama sering terjadi anoreksia, tetapi setelah itu nafsu makan timbul lagi.
7. Sering kencing
Terjadi karena kandung kencing pada bulan pertama tertekan oleh uterus yang mulai membesar. Pada triwulan kedua umumnya keluhan ini hilang karena uterus yang membesar keluar dari rongga panggul . Pada akhir triwulan gejala bisa timbul lagi karena janin mulai masuk ke dalam rongga panggul yang menekan kandung kencing.
8. Obstipasi
Terjadi karena tonus otot menurun yang disebabkan oleh pengaruh hormon steroid.

9. Pigmentasi kulit
Terjadi pada kehamilan lebih dari 12 minggu keatas yang terletak pada pipi, hidung, areola mamae, leher dan abdomen yang disebabkan karena hormon kortikosteroid plasenta yang merangsang melanofor dan kulit.
10. Epulis
Merupakan suatu hipertofi papilla ginggivae yang sering terjadi pada triwulan pertama.
11. Varises
Sering dijumpai pada trimester akhir didapat pada daerah genitalia eksterna, fossa poplitea, kaki dan betis.

B. Tanda Kemungkinan Hamil
1. Pembesaran Perut
2. Tanda Hegar
Perubahan pada ismus uteri sehingga menjadi lebih panjang dan lunak.
3. Tanda Chadwik
Vulva dann vagina tampak kebiruan akibat pengaruh estrogen sehingga terjadi peningkatan pembuluh darah.
4. Tanda Piscasseck
Uterus membesar ke salah satu jurusan sehingga menonjol jelas ke jurusan pembesaran tersebut.

5. Tanda Braxton Hicks
Kontraksi palsu yang terjadi karena ketidak seimbangan hormon estrogen dan progesterone.
6. Human chorionic gonadotropin positif
Ini merupakan cara khas dalam menentukan kehamilan yaitu degan memeriksa air kencing pertama di pagi hari.
7. Adanya Balotment
Yaitu ditemukannya benda di dalam rahim, bila digoyangkan akan melenting.

C. Tanda Pasti Kehamilan
1. Gerakan janin
Gerakan janin pada primigravida dapat dirasakan pada usia kehamilan 18 minggu, sedangkan pada multigravida dapat dirasakan pada usia kehamilan 16 minggu, oleh karena sudah berpengalaman dari kehamilan terdahulu.
2. Denyut jantung janin
Dengan alat fetal electro cardiograph denyut jantung janin dapat dicatat pada usia kehamilan 12 minggu dan dengan stetoskop leanec dapat didengar pada usia kehamilan 18 – 20 minggu.

3. USG
Dapat diketahui ukuran kantong janin, panjang janin, dan diameterbiparietalis sehingga dapat diperkirakan tuanya kehamilan dan selanjutnya dapat dipakai untuk menilai pertumbuhan janin.

2.1.5. Perubahan Fisik Selama Kehamilan
1. Rahim atau uterus
Ukuran uterus membesar akibat hipertropi dan hiperplasi otot polos rahim menjadi 30 x 25 x 20 cm dengan kapasitas lebih dari 4000 CC pada kehamilan cukup bulan. Berat uterus naik dari 30 gram menjadi 1000 gram pada akhir kehamilan.
2. Ovarium
Ovulasi terhenti dan korpus luteum bertahan sampai terbentuknya uri yang mengambil alih pengeluaran estrogen dan progesterone.
3. Vagina dan vulva
Hipervaskularisasi menyebabkan vagina dan vulva terlihat lebih merah atau kebiruan ( tanda Chadwicks ).
4. Dinding perut
Pembesaran uterus menyebabkan peregangan dan menyebabkan robekan serabut elastik bawah kulit sehingga timbul striae gravidarum. Kulit perut pada linea alba bertambah pigmentasinya dan disebut linea nigra.
5. Sirkulasi darah
- Volume darah akan bertambah banyak, kira-kira 25 % dengan puncaknya pada kehamilan 32 minggu, diikuli dengan peningkatan curah jantung (cardiac output) sebanyak ± 30 %. kenaikan plasma darah dapat mencapai 40 % saat mendekati cukup bulan.
- Sel darah: sel darah merah makin meningkat jumlahnya untuk dapat mengimbangi pertumbuhan janin dalam rahim, tetapi pertambahan sel darah merah tidak seimbang dengan peningkatan volume darah sehingga terjadi hemodilusi yang disertai anemia fisiologis.
- Leukosit meningkat sampai 10.000/CC begitu pula dengan trombosit sedangkan hematokrit cenderung menurun.
6. Sistem Respirasi
Wanita hamil mengeluh sesak yang disebabkan oleh usus yang tertekan ke arah diafragma akibat pembesaran rahim. Karena desakan rahim yang membesar dan kebutuhan O2 yang meningkat ibu hamil akan bernafas lebih dalam sekitar 20-25% dari biasanya.
7. Sistem pencernaan
Karena pengaruh estrogen, pengeluaran asam lambung meningkat yang dapat menyebabkan pengeluaran air liur

berlebihan (hipersalivasi), daerah lambung terasa panas, mual dan sakit pusing saat pagi hari (morning sickeness), muntah, dan obstipasi.
8. Traktus urinarius
Pada bulan-bulan pcrtama dan akhir kchamilan kandung kemih tertekan oleh uterus sehingga terjadi gangguan miksi dalam bentuk sering kencing.
9. Perubahan pada kulit
Pada kulit terjadi perubahan deposit pigmen dan hiperpigmentasi akibat pengaruh melanophore stimulating hormone. Hiperpigmentasi ini terjadi pada striae gravidarum livide, areola mammae, papilla mammae, linea nigra, dan pipi (cloasma gravidarum).
10. Payudara (mammae)
Payudara mengalami pertumbuhan dan perkembangan sebagai persiapan memberikan ASI pada saat laktasi yang dipengaruhi oleh estrogen progesterone, dan somatomammotropin. Payudara menjadi bertambah besar, tegang, dan berat.
11. Metabolisme
- Metabolisme basal (BMR) naik sebesar 15-20 %, terutama pada trimester akhir
- Keseimbangan asam dan basa mengalami penurunan
- Kebutuhan protein ibu hamil meningkat untuk pertumbuhan dan perkembangan janin dan persiapan laktasi.
- Berat badan ibu hamil akan bertambah 6,5-16,5 kg
12. Tulang dan gigi
Bayi dalam kandungan mcmbutuhkan banyak kalsium untuk membentuk tulang-tulang baru, terutama pada bulan-bulan pertama kehamilan. Saat ibu hamil mengkonsumsi kalsium, zat tersebut akan langsung diserap oleh bayi untuk membantunya tumbuh. Jadi, jika ibu hamil tidak mengkonsumsi cukup kalsium maka tulang dan gigi bayinya akan menjadi lemah.

2.1.6. Menghitung Usia Kehamilan
Cara untuk menentukan usia kehamilan menurut Spiegelberg : dengan jalan mengukur tinggi fundus uteri dari simpisis, maka diperoleh:
1. 22 – 28 minggu : 24 – 25 cm di atas simfisis
2. 28 minggu : 26,7 cm di atas simfisis
3. 30 minggu : 29,5 – 30 cm di atas simfisis
4. 32 minggu : 29,5 – 30 cm di atas simfisis
5. 34 minggu : 31 cm di atas simfisis
6. 36 minggu : 32 cm di atas simfisis
7. 38 minggu : 33 cm di atas simfisis
8. 40 minggu : 37,7 cm di atas simfisis

2.1.7. Ketidaknyamanan Dalam Kehamilan
Selama kunjungan antenatal, ibu mungkin mengeluhkan bahwa ia mengalami ketidaknyamanan. Kebanyakan dari keluhan ini adalah ketidaknyamanan yang normal dan merupakan bagian dari perubahan yang terjadi pada tubuh ibu selama kehamilan.
Adapun ketidaknyamanan tersebut adalah sebagai berikut :
Trimester I
1. Ngidam makanan
Berkaitan dengan persepsi individu wanita tersebut mengenai apa yang bisa mengurangi rasa mual dan muntah.
2. Kelelahan
Penyebab tidak diketahui. Mungkin berhubungan dengan penurunan laju metabolisme basal pada awal kehamilan.
3. Keputihan
Hiperplasia mukosa vagina. Peningkatan produksi lendir dan kelenjar endoservikal sebagai akibat dari peningkatan kadar estrogen. Keputihan juga biasa terjadi pada trimester ke II dan III.
4. Rasa mual dan muntah
Penyebab yang pasti tidak diketahui, mungkin disebabkan :
a. Peningkatan kadar HCG, estrogen atau progesterone.
b. Relaksasi dan otot- otot halus.
c. Metabolik : Perubahan dalam metabolisme karbohidrat dan keletihan.
5. Sekresi air ludah yang berlebihan
Tidak diketahui patogenesisnya.
6. Sering buang air kecil
Tekanan uterus pada kandung kemih. Biasa terjadi pada trimester I dan trimester III.
Trimester II dan III
1. Chloasma atau perubahan warna areola
Kecendrungan genetik peningkatan kadar estrogen dan mungkin progesterone.
2. Striae gravidarum
Arteriola tengah yang terbuka yang datar atau sedikit meningkat dengan radiasi cabang kapiler yang menyebar. Paling jelas di daerah-daerah yang dialiri darah dari vena cava superior.
3. Pusing
Penggumpalan darah di dalam pembuluh tungkai, yang mengurangi aliran balik vena dan menurunkan output cardiac serta tekanan darah dengan tegangan orthostatis yang meningkat. Biasanya terjadi pada trimester ke II dan ke III.
4. Sakit punggung atas dan bawah
Kadar hormon yang meningkat menyebabkan cartilage di dalam sendi-sendi besar menjadi lembek.
5. Perut kembung
Penekanan dari uterus yang membesar terhadap usus besar.
6. Nyeri ligamentum rotundum
Hypertrophy dan peregangan ligament selama kehamilan. Dan juga karena adanya tekanan dari uterus pada ligamentum.
7. Nafas sesak
Peningkatan kadar progesterone yang berpengaruh secara langsung pada pusat pernafasan untuk menurunkan kadar CO2 serta meningkatkan kadar O2. meningkatkan aktifitas metabolik menyebabkan peningkatan kadar CO2, hyperventilasi yang lebih ringan. Dapat juga di sebabkan karena uterus membesar dan menekan pada diafragma.
8. Haemoroid
a. Konstipasi.
b. Tekanan yang meningkat dari uterus terhadap vena hemorrhoidal.
c. Dukungan yang tidak memadai pada vena hemorrohoid di area anorectal.
9. Sulit BAB
Peningkatan kadar progesterone yang menyebabkan peristaltik usus ibu menjadi lambat.

10. Oedema pada kehamilan
Terjadi karena penekanan pada rahim yang bertambah besar pada pembuluh darah didaerah panggul dan menghambat sirkulasi pembuluh balik secara optimal sehingga menyebabkan timbulnya oedema pada pergelangan kaki. Manajemen :
a. Dianjurkan agar jangan banyak berdiri
b. Jika duduk kaki ditaruh diatas bangku kecil (jangan digantung kebawah)
c. Hindarkan pemakaian baju yang terlalu ketat
d. Dianjurkan untuk mengambil posisi tidur lebih banyak miring kesisi kiri yang akan membantu kelancaran sirkulasi darah.
e. Pemasukan cairan harus tetap banyak (6-8 gelas sehari)

2.1.8. Asuhan Antenatal
a. Definisi
Antenatal Care adalah pemeriksaan kehamilan untuk mengoptimalisasikan kesehatan fisika dan mental ibu hamil sehingga mampu menghadapi persalinan, nifas, pemberian asi dan kembalianya kesehatan reproduksi secara wajar
b. Tujuan Asuhan Antenatal
1. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang janin
2. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial ibu dan janin
3. Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat secara umum kebidanan dan pembedahan
4. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu dan bayinya dengan trauma seminimal mungkin
5. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI Ekslusif
6. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal.
(Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal 2001)
c. Kunjungan ANC
Kunjungan ANC sangat penting dilakukan dalam upaya menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu maupun perinatal, serta memberikan manfaat dengan ditemukannya berbagai kelainan yang menyertai kehamilan secara dini, sehingga dapat diperhitungkan dan dipersiapkan langkah- langkah dalam pertolongan persalinannya. (Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2001)

d. Kebijakan Program
1. Pada kunjungan antenatal care minimal dilakukan sebanyak 4 kali selama kehamilan yaitu :
a) Satu kali pada trimester pertama (sebelum minggu ke-14)
b) Satu kali pada trimester kedua (antara minggu 14-28)
c) Dua kali pada trimester ketiga (antara 28-36 minggu dan setelah 36 minggu)
2. Pelayanan / asuhan standar minimal termasuk “7T” yaitu :
a) (Timbang) Berat Badan
b) Ukur (Tekanan) darah
c) Ukur (Tinggi Fundus Uteri)
d) Pemberian imunisasi (Tetanus Toksoid) TT lengkap
e) Pemberian Tablet zat besi, minimal 90 tablet selama kehamilan
f) Tes terhadap penyakit menular seksual
g) Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan
(Acuan Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2001)

2.1.9. Standar Pelayanan Maternal
1. Identifikasi Ibu Hamil
Bidan mengadakan kunjungan dan berinteraksi dengan masyarakat secara berkala untuk memberikan penyuluhan dan motifasi kepada ibu, suami dan keluarga agar memastikan kehamilan.
2. Kunjungan Antenatal Care
Bidan memberikan pelayanan ANC paling sedikit 4 kali yaitu :
( Prof,Dr,Ida Bagus Gde,manuaba SPOG ).
a. Satu kali kunjungan selama timester pertama (sebelum usia kehamilan 14 minggu)
b. Satu kunjungan selama trimester kedua (sebelum usia kehamilan 14- 28 minggu)
c. Dua kali kunjungan selama trimester ketiga (usia kehamilan sesudah 36 minggu)
3. Palpasi Abdomen
Bidan melakukan pemeriksaan palpasi untuk memperkirakan usia kehamilan, memeriksa posisi badan terendah janin, masuknya kepala ke dalam rongga pinggul untuk mencari kelainan serta melakukan rujukan tepat waktu. Palpasi dapat dilakukan dengan cara tepat waktu yaitu menentukan :
a. Leopold I
Meraba bagian janin yang di fundus uteri ibu, menyimpulkan tuanya kehamilan / usia kehamilan.
b. Leopold II
Meraba batas samping rahim kaki dan merasakan di sebelah mana teraba tahanan yang paling keras dan tertahan terus dari atas ke bawah. Menyimpulkan : Letak punggung janin netak membujur, kepala janin disebelah kanan dan kiri pada letak lingkaran.
c. Leopold III
Meraba bagian terendah janin dengan satu tangan menyimpulkan letak kepala : teraba bagian besar bulat, keras, melenting. Letak sungsang : teraba bagian bulat lunak dan tidak melenting. Letak Lintang : Tidak teraba bagian- bagian besar ( kosong ), dan untuk mengetahui apakah bagian terendah janin sudah masuk PAP atau belum.
d. Leopold IV
Meraba bagian janin yang berada dibagian bawah rahim dengan dua tangan menyimpulkan seperti leopold III dan menentukan sampai dimana bagian terendah janin sudah masuk PAP.

2.1.10. Perkembangan Janin Dalam Kadungan Minggu ke minggu 38-40 minggu
Minggu ke 38
Reflek bayi sudah terkoordinasi, bayi sudah dapat mengedipkan mata, menggerakan kepala, memegang, dan merespon suara, sentuhan cahaya. Bayi sudah dapat membedakan terang dan gelap.
Minggu ke 39 – 40
Bayi sudah siap untuk lahir. Berat badan bayi sudah mencukupi sekarang, dengan lemak yang berbentuk di bawah kulitnya, akan mampu mengatur suhu tubuhnya saat lahir, kulitnya halus dan lembut, berat bayi sekitar 2700 gram – 3200 gram dengan panjang sekitar 50 cm.

2.1.11.Teori Kehamilan Postmatur / Serotinus
A. Definisi
Kehamilan yang berlangsung melebihi 42 minggu, antara lain kehamilan memanjang, kehamilan lewat bulan, kehamilan postterm, dan pascamaturitas.
Kehamilan lewat bulan, suatu kondisi antepartum, harus dibedakan dengan sindrom pasca maturitas, yang merupakan kondisi neonatal yang didiagnosis setelah pemerikasaan bayi baru lahir.
Definisi standar untuk kehamilan lewat bulan adalah 294 hari setelah hari pertama menstruasi terakhir, atau 280 hari setelah ovulasi. Istilah lewat bulan (postdate) digunakan karena tidak menyatakan secara langsung pemahaman mengenai lama kehamilan dan maturitas janin.
( Varney Helen,2007 )

B . Etiologi
Etiologinya msih belum pasti. Faktor yang dikemukakan adalah hormonal yaitu kadar progesteron tidak cepat turun walaupun kehamilan telah cukup bulan, sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin berkurang ( Mochtar, Rustam, 1999). Diduga adanya kadar kortisol yang rendah pada darah janin. Selain itu, kurangnya air ketuban dan insufisiensi plasenta juga diduga berhubungan dengan kehamilan lewat waktu.
Fungsi plasenta memuncak pada usia kehamilan 38-42 minggu, kemudian menurun setelah 42 minggu, terlihat dari menurunnya kadar estrogen dan laktogen plasenta. Terjadi juga spasme arteri spiralis plasenta. Akibatnya dapat terjadi gangguan suplai oksigen dan nutrisi untuk hidup dan tumbuh kembang janin intrauterin. Sirkulasi uteroplasenta berkurang sampai 50%.Volume air ketuban juga berkurang karena mulai terjadi absorpsi. Keadaan-keadaan ini merupakan kondisi yang tidak baik untuk janin.

C. Pengaruh terhadap Ibu dan Janin
• Terhadap Ibu
Persalinan postmatur dapat menyebabkan distosis karena (a) aksi uterus tidak terkoordinir (b). Janin besar (c) Moulding kepala kurang. Maka akan sering dijumpai : partus lama, kesalahan letak, inersia uteri, distosia bahu dan perdarahan postpartum. Hal ini akan menaikan angka mordibitas dan mortalitas.
• Terhadap janin
Jumlah kematian janin/ bayi pada kehamilan 43 minggu tiga kali lebih besar dri kehamilan 40 minggu karena postmaturitas akan menambah bahaya pada janin. Pengaruh postmaturitas pada janin bervariasi: berat badan janin dapat bertambah besar, tetap dan ada yang berkurang, sesudah kehamilan 42 minggu. Ada pula yang bisa terjadi kematian janin dalam kandungan.
D . Pemeriksaan Penunjang
1. Bila HPHT dicatat dan diketahui wanita hamil, diagnosis tidak sukar.
2. Kesulitan mendiagnosis bila wanita tidak ingat HPHTnya. Hanya dengan pemeriksaan antenatal yang teratur diikuti dengan tinggi dan naiknya fundus uteri dapat membantu penegakan diagnosis.
3. Pemeriksaan rontgenologik dapat dijumpai pusat pusat penulangan pada bagian distal femur, baguan proksimal tibia, tulang kuboid diameter biparietal 9,8 atau lebih.
4. USG : ukuran diameter biparietal, gerkan janin dan jumlah air ketuban.
5. Pemeriksaan sitologik air ketuban: air ketuban diamabiil dengan amniosenteris baik transvaginal maupun transabdominal, kulitb ketuban akan bercmapur lemak dari sel sel kulit yang dilepas janin setelah kehamilan mencapai lebih dari 36 minggu. Air ketuban yang diperoleh dipulas dengan sulfat biru Nil, maka sel – sel yang mengandung lemak akan berwarna jingga.
- Melebihi 10% = kehamilan diatas 36 minggu
- Melebihi 50% = kehamilan diatas 39 minggu
6. Amnioskopi, melihat derajat kekeruhan air ketuban, menurt warnanya karena dikeruhi mekonium.
7. Kardiotografi, mengawasi dan membaca denyut jantung janin, karena insufiensi plase
8. Uji oksitosin ( stress test), yaitu dengan infus tetes oksitosin dan diawasi reaksi janin terhadap kontraksi uterus. Jika ternyata reaksi janin kurang baik, hal ini mungkin janin akan berbahaya dalam kandungan.
9. Pemeriksaan kadar estriol dalam urin
10. Pemeriksaan pH darah kepala janin
11. Pemeriksaan sitoloi vagina

E. Indikasi untuk induksi persalinan mencakup hal – hal :
a. Hasil uji janin meragukan ( skor profil biosfik rendah)
b. Oligohidramnion.
c. Preeklamsi yang cukup parah menjelah cukup bulan
d. Diabetes dependent
e. IUGR menjelang usia cukup bulan
f. Riwayat lahir mati pada kehamilan cukup bulan.

Penatalaksanaan antisipasi pada usia kehamilan lewat bulan antara 40 hingga 42 minggu :
1. Kaji kembail TP wanita sebagai titik tengah dalam kisaran waktu 4 minggu ( 40+minggu)
2. Kaji kembali bersama wanita rencana penanganan kehamilan lewat bulan, dokumentasikan rencana yang disepakati ( 40+ minggu)
3. Uji kembali nonstress awal ( Nonstress test, NST) dua kali dalam seminggu, yang dimulai saat kemilan berusia 41 minggu dan berlanjut hingga persalinan.
4. Lakukan pengukuran volume cairan amnion ( Amniotic fluid volume, APV) dua kali dalam seminggu, yang dimulai saat kehamilan berusia 41 minggu dan berlanjut hingga persalinan.
5. Lakukan uji profil biofisik lengkap dan konsultasikan dengan dokter untuk hasil NST yang nonreaktif atau APV yang randah.
6. Jika kelainan berlanjut hingga 42 minggu dan perkiraan usia kehamilan dapat diandalkan mulai penanganan aktif mengacu pada protokol.

Penatalaksanaan aktif pada kehamilan leat bulan : Induksi persalinan
Pada tahun 1970-an terdapat meningkatnya kesadaran terhadap mordibitas kehamilan lewat bulan. Beberapa pihak mengajukan keberatan terhadap induksi persalinan karena tidak alami dan dapat meningkatkan bahaya. Namun walaupun banyak pihak yang menentang induksi persalinan dan tidak adanya standardisai kriteria, praktik induksi telah banyak meningkat selama satu dekade terakhir.
Menurut American college of obstetricians dan Gynecologist, hasil yang diharapkan dari induksi persalinan adalah “ ibu dapat melahirkan bayi pervaginam setelah kontraksi distimulasi sebelum persalinan spontan terjadi”. Meski metode induksi sekarang diutamakan pada induksi kontarkasi uterus, namun peran servik sangat penting yang aktivitasnya tidak sepenuhnya dipengaruhi uterus.
Penggunanaan obat berpusat pada oksitosin sejak tahun 1960-an dan prostaglandin sejak tahun 1970-an. Pengaturan dosis, dan cara pemberian dan waktu pemberian untuk semua metode hingga kini masih dalam penelitian,
Untuk menghasilkan persalinan yang aman, keberhasilan induksi persalinnan setelah servik matang dapat dicapai dengan menggunakan prostaglandin E2 (PGE2) bersama oksitosin, dan prostaglandin terbukti lebih efektif sebagai agens yang mematangkan seriks dibanding oksitosin.
Metode lain yang digunakan untuk menginduksi persalinan (misalnya minyak jarak, stimulasi payudara, peregangan servik secara mekanis), memiliki kisaran keberhasilan secara beragam dan atau sedikit penelitian untuk menguatkan rekomendasinya.
• Metode hormon untuk induksi persalinan :
1. Oksitosin yang digunakan melalui intravena (atas persetujuan FDA untuk induksi persalinan). Dengan catatan servik sudah matang.
2. Prostaglandin : dapat digunakan untuk mematangkan servik sehingga lebih baik dari oksitosin namun kombinasi keduanya menunjukkan hal yang positif.

a. Misprostol
1) Merk dagang cytotec. Suatu tablet sintetis analog PGE1 yang diberikan intravagina (disetujui FDA untuk mencegah ulkus peptikum, bukan untuk induksi)
b. Dinoproston
1) Merk dagang cervidil suatu preparat PGE2, tersedia dalam dosis 10 mg yang dimasukkan ke vagina (disetujui FDA untuk induksi persalinan pada tahun 1995)
2) Merk dagang predipil. Suatu sintetis preparat PGE2 yang tersedia dalam bentuk jel 0,5 mg deng diberika intraservik ( disetujui FDA untuk induksi persalinan pada tahun 1993)
3. Mifepriston 9 RU 486, antagonis reseptor progesteron) (disetujui FDA untuk aborsi trimester pertama, bukan untuk induksi) tersedia dalam bentuk tablet 200 mg untuk diberikan per oral.
F. Metode non hormon Induksi persalinan
1. Pemisahan ketuban
Prosedurnya dikenal dengan pemisahan atau mengusap ketuban mengacu pada upaya memisahkan membran amnion dari bagian servik yang mudah diraih dan segmen uterus bagian bawah pada saat pemeriksaan dalam Dengan tangan terbungkus sarung tangan bidan memeriksa wanita untuk menentukan penipisan serviks, pembukaan dan posisi lazimnya. Perawatan dilakukanan untuk memastikan bahwa bagian kepala janin telah turun. Pemeriksaan mengulurkan jari telunjuk sedalam mungkin melalui os interna, melalui ujung distal jari perlahan antara segmen uterus bagian bawah dan membaran. Beberapa usapan biasanya eektif untuk menstimulasi kontaksi awal reguler dalam 72 jam. Mekanisme kerjanya memungkinkan melepaskan prostaglandin ke dalam sirkulasi ibu. Pemisahan hendaknya jangan dilakukan jika terdapat ruptur membran yang tidak disengaja dan dirasa tidak aman baik bagi ibu maupun bagi janin. Pemisahan memban servis tidak dilakukan pada kasus-kasus servisitis, plasenta letak rendah, maupun plasenta previa, posisi yang tidak diketahui, atau perdarahan pervaginam yang tidak diketahui.
2. Amniotomi
Pemecahan ketuban secara sengaja (AROM). Saat dikaukan bidan harus memeriksa dengan teliti untuk mengkaji penipisan servik, pembukaanm posisi,, dan letak bagian bawah. Presentasi selain kepala merupakan kontrainsdikasi AROM dan kontraindikasi lainnya ketika kepala belum turun, atau bayi kecil karena dapat menyebabkan prolaps talipusat. Meskipun amniotomi sering dilakukan untuk menginduksi persalinan, namun hingga kini masih belum ada studi prospektif dengan desain tepat yang secara acak menempatkan wanita pada kelompok tertentu untuk mengevaluasi praktik amniotomi ini.
3. Pompa Payudara dan stimulasi puting.
Penggunaan cara ini relatif lebih aman kerna menggunakan metode yang sesuai dengan fisiologi kehamilan dan persalinan. Penangannya dengan menstimulasi selama 15 menit diselingi istirahat dengan metode kompres hangat selama 1 jam sebanyak 3 kali perhari.
4. Minyak jarak
Ingesti minyak jarak 60 mg yang dicampur dengan jus apel maupun jus jeruk dapat meningkatkan angka kejadian persalinan spontan jika diberikan pada kehamilan cukup bulan.
5. Kateter forey atau Kateter balon.
Secara umum kateter dimasukkan kedalam servik kemudian ballon di isi udara 25 hingg 50 mililiter untuk menjaga kateter tetap pada tempatnya. Beberapa uji klinis membuktikan bahwa teknik ini sangat efektif.

6. Aktifitas seksual.
Jika bidan tidak merasa bahwa penatalaksanaan aktif pada persalinan lewat bula diindikasikan, protokol dalam memuat panduan rekomendasi yang mencakup pemberian, wakru, dosis, dan langkah kewaspadaan. Sementara pada penatalaksanaan antisipasi, bidan dianjurkan mendokumentasikan secara teliti rencana penatalaksanaan yang disepakati bersama oleh wanita. Bidan maupun wanita harus memahami secara benar standar perawatan setempat untuk menangani kehamilan lewat bulan. Wanita sebaiknya diberi tahu jika terdapat status yang tidak mencakup pada penggunaan resep, dan bidan harus tetap merujuk pada literatur terkini seputar penanganan kehamilan lewat bulan.
G. Diagnosis bayi postmatur pascapersalinan
Diagnosis bayi postmatur pascapersalinan, dengan memperhatikan tanda-tanda postmaturitas yang dapat dibagi dalam 3 stadium :
1. stadium I : kulit tampak kering, rapuh dan mudah mengelupas (maserasi), verniks kaseosa sangat sedikit sampai tidak ada.
2. stadium II : keadaan kulit seperti stadium I disertai dengan pewarnaan kulit yang kehijauan oleh mekoneum yang bercampur air ketuban.
3. stadium III : terdapat pewarnaan kekuningan pada kuku dan kulit janin serta pada jaringan tali pusat.Pada saat persalinan, penting dinilai keadaan cairan ketuban. Jika telah terjadi pewarnaan mekonium (kehijauan) atau bahkan pengentalan dengan warna hijau kehitaman, begitu bayi lahir harus segera dilakukan resusitasi aktif. Idealnya langsung dilakukan intubasi dan pembilasan trakhea.( Mochtar, Rustam.1998, Sinopsis Obstetri).
H. Komplikasi
Kemungkinan komplikasi pada bayi postmaturhipoksia ;
- hipovolemia
- asidosis
- sindrom gawat napas
- hipoglikemia
- hipofungsi adrenal.
2.1.12. Peningkatan Berat Badan Pada masa kehamilan.
Kebutuhan kalori mencapai 300 kal/hari. Kebutuhan protein zat besi mencapai 1000 mg, yaitu 500 mg untuk pembentukan sel darah merah, 300 mg untuk janin, dan 200 mg untuk mengganti zat besi yang hilang.
 Peningkatan Berat Badan Ibu Hamil
a. Trimester I : kenaikan berat badan 0,7 – 1,4 kg

b. Trimester II : kenaikan berat badan antara 0,3 – 0,4 kg/hari
c. Trimester III : kenaikan berat badan tidak boleh lebih dari 0,5 kg/minggu.
Kenaikan rata-rata berat badan normal ibu hamil yaitu 6,5 – 16 kg. ( Sarwono, 2005 )

2.1.12. Pemberian Vitamin Zat Besi
Dimulai dengan memberikan satu tablet sehari sesegera mungkin setelah rasa mual hilang. Tiap tablet mengandung FeSO4 320 mg ( zat besi 60 mg ) minimal 90 tablet. Tablet besi sebaiknya tidak diminum bersana teh atau kopi.

2.1.13. Imunisasi TT
Antigen Sering
Waktu Minimal Lama Perlindungan Perlindungan
%
TT I Pada kunjungan antenatal pertama - -
TT II 4 Minggu setelah TT I 3 Tahun 80
TT III 6 Minggu setelah TT II 5 Tahun 95
TT IV 1 Tahun setelah TT III 10 Tahun 99
TT V 1 Tahun setelah TT IV 25 Tahun/seumur hidup 99
(Buku Panduan Pelayanan Kesehatan Maternal Neonatal 2002)

2.1.14. Tanda – Tanda Bahaya Pada Kehamilan
a. Perdarahan pervaginaan
Pada awal kehamilan, perdarahan yang tidak normal adalah yang merah, perdarahan yang banyak atau perdarahan dengan nyeri. Pada kehamilan lanjut perdarahan yang tidak normal adalah merah, banyak, dan kadang-kadang tidak selalu disertai dengan rasa nyeri.
b. Sakit kepala yang hebat
Sakit kepala yang menunjukan masalah yang serius sehingga terjadi sakit kepala hebat yang menetap dan tidak hilang dengan beristirahat.
c. Masalah penglihatan
Masalah visual yang mengancam jiwa sehingga terjadi perubahan yang mendadak, misalnya pandangan kabur atau berbayang.
d. Bengkak pada muka dan tangan
Bengkak yang menunjukan masalah serius sehingga muncul pada muka dan tangan.
e. Nyeri abdomen yang hebat
Nyeri abdomen yang menbgancam keselamatan jiwa, nyeri yang hebat, menetap, dan tidak hilang setelah beristirahat.
f. Janin kurang bergerak seperti biasa
Bayi harus bergerak paling sedikit 3 kali dalam periode 3 jam, gerakan bayi akan mudah terasa jika ibu berbaring atau beristirahat, dan jika ibu makan dan minum dengan baik.
g. Keluar air dari jalan lahir
Cairan ketuban mempunyai bau yang khas. Hal ini dapat dipastikan dengan kertas lakmus atau dengan pemeriksaan inspekulo.

2.1.15. Senam Hamil
Senam hamil adalah senam khusus untuk ibu hamil, yang merupakan sebuah perawatan antenatal untuk persiapan kelahiran. Kehamilan ternyata tidak menghalangi seorang perempuan untuk olah raga. Sebaliknya, dengan olah raga akan membantu penguatan pada rahim dan kebugaran bagi sang ibu. Sehingga, mempermudah dan melancarkan proses persalinan yang dilakukan.
MEMUDAHKAN PERSALINAN
Menurut Ervin Indarti, fisioterapis RSI Jemursari Surabaya, senam hamil bermanfaat untuk mempermudah proses kelahiran, mengurangi rasa sakit pada melahirkan, serta memperkuat otot-otot dasar panggul dan dinding perut ibu dalam memperlancar proses kelahiran.
Ada dua tipe kondisi wanita yang tidak bisa melakukan senam hamil, yaitu yang bersifat relatif ( riwayat kebidanan jelek, janin kembar, menderita diabetes, letak bayi sungsang ). Sementara yang bersifat mutlak tidak boleh dilakukan senam hamil adalah (menderita penyakit jantung, hipertensi, resiko kalahiran prematur).
Latihan senam ini harus dihentikan jika terjadi keluhan nyeri di bagian dada, nyeri kepala, dan nyeri persendiaan, kontraksi rahim yangs sering, keluar cairan, denyut jantung meningkat > 140/menit, kesulitan untuk berjalan, dan mual, serta muntah yang menetap.
senam hamil dibagi menjadi empat taham berdasarkan usia kandungan. Tahap pertama (usia kehamilan 22-25 minggu), tahap kedua (usia kehamilan 26-30 minggu), tahap ketiga (31-35 minggu) dan tahap keempat (36-melahirkan). (www.google.com)

2.1.16. Perawatan Payudara
Selama kehamilan payudara mengalami perubahan. Yakni lebih kencang. Merawat payudara dengan baik selama hamil akan berdampak pada produksi ASI. Berikut ini adalah tips untuk merawat payudara pada saat hamil, di bagi berdasarkan fase kehamilan.
Umur kehamilan 3 bulan
Periksa puting susu untuk mengetahui apakah puting susu datar atau masuk ke dalam dengan cara memijat dasar puting susu secara perlahan. puting susu yang normal akan menonjol keluar. Apabila puting susu tetap datar atau masuk kembali ke dalam payudara, maka sejak hamil 3 bulan harus dilakukan perbaikan agar bisa menonjol. Caranya adalah dengan menggunakan kedua jari telunjuk atau ibu jari, daerah di sekitar puting susu diurut ke arah berlawanan menuju ke dasar payudara sampai semua daerah payudara. Dilakukan sehari dua kali selama 6 menit.
Usia Kehamilan 6-9 Bulan
Kedua telapak tangan dibasahi dengan minyak kelapa, kemudian puting susu sampai areola mamae (daerah sekitar puting dengan warna lebih gelap) dikompres dengan minyak kelapa selama 2-3 menit. Tujuannya untuk memperlunak kotoran atau kerak yang menempel pada puting susu agar mudah dibersihkan. Jangan membersihkan dengan alkohol karena dapat menyebabkan puting susu lecet.Selanjutnya kedua puting susu dipegang lalu ditarik, diputar ke arah dalam clan ke arah luar (berlawanan jarum jam). Pangkal payudara dipegang dengan kedua tangan, lalu diurut ke arah puting susu sebanyak 30 kali sehari. Lalu pijat kedua areola mamae hingga keluar 1-2 tetas. Setelah itu, puting susu dibersihkan dengan handuk kering clan bersih.
Pemijatan Payudara
Bersihkan payudara memakai air, lalu pijat memakai minyak. Pemijatan dilakukan dengan kedua tangan, sekeliling payudara diurut memutar search jarum jam can kemudian berbalik arah/ berlawanan jarum jam. Setelah itu lakukan pengurutan dari bawah menuju puting, namun putingnya sendiri tak perlu di-massage karena talk berkelenjar. Usai massage, ketuk-ketuklah payudara memakai ujung jari atau ujung rugs jari.
Senam Teratur
Senam yang bisa dilakukan, posisi berdiri, tangan kanan memegang bagian lengan bawah kiri dekat siku, sebaliknya tangan kiri memegang lengan bawah kanan (seperti orang bersedakep). Kemudian tekan kuatkuat ke arah dada dengan cara mempererat pegangan, sehingga terasa tarikannya pada otot-otot di dasar payudara. Selanjutnya lemaskan kembali. Lakukan berulang-ulang hingga 30 kali. Yang kedua, Pegang bahu dengan kedua ujung tangan, kemudian siku diputar ke depan sehingga lengan bagian dalam mengurut (massage) payudara ke arah atas. Diteruskan gerakan tangan ke atas ke belakang can kembali pada posisi semula. Lakukan latihan ini 20 kali putaran.
Memakai Bra yang Pas
Untuk mengatasi rasa tak enak pada saat payudara membesar, pakailah bra yang pas dan bisa memegang. Jangan pakai yang terlalu ketat atau longgar, tapi harus benarbenar pas sesuai ukuran payudara saat itu dan dapat menopang perkembangan payudara.

2.2 Persalinan
2.2.1. Definisi
Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada jehamilan cukup bulan ( 37-42 minggu ), lahir spontan dengan presentasi kepala yang berlangsung 18 jam. Tanpa komplikasi naik pada ibu maupun janin (Saifudin, 2002 ).
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang telah cukup bulan atau dapat hidup dilur kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain, dengan bantuan ataupun tanpa bantuan (kekuatan sendiri). (Manuaba, 1998)

2.2.2. Teori Terjadinya Persalinan
1) Teori keregangan
• Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas tertentu.
• Seyelah melewati batas tertentu terjadi kontraksi sehingga persalinan dapat mulai.
• Contohnya,pada hamil ganda sering terjadi kontraksi setelah keregangan. tertentu, sehingga menimbulkan proses persalinan.
2) Teori penurunan progesterone
• Proses penuaan plasenta terjadi mu;ai umur hamil 28 minggu,
• Produksi progesterone mengalami penurunan, sehingga otot rahim lebih sensitive terhadap oksitosin.
• Akibatnya otot rahim mulai berkontraksi setelah tercapai tingkat penurunan progesterone tertentu.
3) Teori oksitosin internal
• Oksitiosin dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis parts posterior.
• Perubahan keseimbangan estrogen dan progesterone dapat mengubah sensitifitas otot rahim, sehingga sering terjadi kontraksi Braxton Hicks.
• Menurunya konsentrasi progesterone akibat tuanya kehamilan maka oksitosin dapat meningkatkan aktivitas, sehingga persalinan dapat mulai.
4) Teori prostaglandin
• Konsentrasi prostaglandin meningkat sejak umur hamil 15 minggu, yang dikeluarkan oleh desidua.
• Pemberian prostaglandin saat hamil dapat menimbulkan kontraksi otot rahim sehingga hasil konsepsi dikeluarkan.
• Prostaglandin dianggap dapt merupakan pemicu terjadinya persalinan.
5) Teori hipotalamus-pititari dan glandula suprarenalis
• Teori ini menunjukan pada kehamilan dengan anensefalus sering terjadi kelambatan persalinan karena tidak terbentuk hipotalamus. Teori ini dikemukakan oleh Linggin 1973.
• Malpar pada tahun 1933 mengangkat otak kelinci percobaan, hasilnya kehamilan kelinci berlagsung lebih lama.
• Pemberian kortikosteroid yang dapat menyebabkan maturitas janin, induksi (mulainya) persalinan.
• Dari percobaan tersebut disimpulkan ada hubungan antara hipotalamus-pituitari dengan mulainya persalinan.
• Glandula suprarenal merupakan pemicu terjadinya persalinan.

2.2.3. Persalinan dibagi 4 kala, yaitu :
Kala I : Dimulai dari saat persalinan mulai sampai pembukaan lengkap (10 cm). Kala pembukaan dibagi menjadi 2 fase, yaitu :
a. Fase laten : dimana pembukan serviks berkangsung lamnat, sampai pembukaan 3 cm berlangsung dalam 7-8 jam.
b. Fase aktif : berkangsung selama 6 jam dan dibagi 3 subfase :
• Periode akselerasi : berlangsung 2 jam, pembukaan menjadi 4 cm.
• Periode dilatasi maksimal (steady) : selama 2 jam pembukaan berlangsung cepat menjadi 9 cm.
• Periode deselerasi : berlangsung 2 jam pembukaan menjadi 10 cm atau lengkap.
Pada primi : serviks mendatar (effacement) dulu, baru dilatasi, berlangsung 13-14 jam.
Pada multi : mendatar dan membuka bias bersamaan,berlangsung 6-7 jam.
(Saifudin, 2002 hal 94)
Kala II : Dimulai dari pembukaan lengkap (10 cm ) sampai bayi lahir. Proses ini biasanya berlangsung 2 jam pada primipara dan 1 jam pada multipara.
(Saifudin, 2002 hal 100)
Kala III: Dimulai segera setelah nayi lahir sampai lahirnya plasenta yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit.
Kala IV: Dimulai setelah lahirnya plasenta hingga pengawaan 2 jam post partum.
( Saifudin, 2002 hal 101 )

2.2.4. Tanda-tanda lepasnya plasenta :
• Uterus menjadi bundar
• Uterus terdorong keatas, karena karena plasenta dilepas ke segmen bawah rahim
• Tali pusat bertambah panjang
• Terjadi perdarahan
( Manuaba, 1998 )

2.2.5. Tanda-tanda persalinan
• Ibu merasakan mulas-mulas yang teratur timbul semakin sering dan semakin lama .
• Keluar lendir bercampur darah dari jalan lahir
• Keluar cairan ketuban dari jalan lahir akibat pecahnya selaput ketuban ( Buku kesehatan ibu dan anak hal 8 )
• Pada pemeriksaan dalam, dijumpai perubahan serviks :
- Perlunakan serviks
- Pendataran serviks
- Terjadi pembukaan serviks.

2.2.6. Persalinan Ditentukan Oleh 3 Faktor
1) Tenaga ( power )
a. His ( kontraksi otot rahim )
b. Kontraksi otot dinding perut
c. Kontraksi diafragma pelvis atau kekuatan mengejan
d. Ketegangan dan kontraksi ligamentum retundum.
2) Janin dan plasenta ( passenger )
3) Jalan lahir ( passage )
a. Jalan lahir keras
1) Pintu atas panggul ( inlet ) dibatasi oleh linea inominata.
2) Pintu tengah panggul ( midlet ) dibatasi oleh spina ischiadika.
3) Pintu bawah panggul ( outlet ) dibatasi oleh symfisis dan arkus pubis.
b. Jalan lahir lunak
Jalan lahir lunak yang berperan pada persalinan adalah segmen bawah rahim, serviks uteri dan vagina. Disamping itu otot jaringan ikat dan ligament yang menyokong alat-alat anogenital juga berperan dalam persalinan.
4) Psikis ibu bersalin
Psikis ibu bersalin sangat berpengaruh dari dukungan suami dan anggota keluarga yang lain untuk mendampingi ibu selama bersalin. Anjurkan mereka berperan aktif dalam mendukung dan mendampingi langkah-langkah yang mungkin sangat membantu kenyamanan ibu, hargai keinginan ibu untuk didampingi.
5) Penolong yang tidak berkompeten dapt mempengaruhi proses persalinan.
2.2.7. Ruptur Perineum
Kemungkinan etiologi misalnya :
1. kepala janin terlalu cepat lahir.
2. pimpinan persalinan tidak sebagaimana mestinya.
3. sebelumnya terdapat banyak jaringan parut pada perineum.
4. persalinan dengan distosia bahu.
5. insisi episiotomi yang terlalu jauh, atau sebaliknya terlalu kecil.
Jenis- jenis robekan perineum berdasarkan luasnya:
1. robekan perineum tingkat I: Robekan hanya terjadi pada mukosa vagina, dengan atau tanpa merobek kulit perineum / vulva bagian depan.
2. Robekan perineum tingkat II : Robekan terjadi pada mukosa vagina (dengan atau tanpa robekan kulit perineum / vulva bagian depan) dan muskulus perineum transversalis, tanpa merobek muskulus spinter ani.
3. robekan perineum tingkat III – IV : Robekan terjadi pada seluruh perineum sampai mengenai otot-otot spinter ani dan memungkinkan juga bagian besar dinding rektum distal (disebut juga ruptur perinuem totalis).
Prinsip reparasi robekan perineum :
1. Reparasi mula-mula dari titik pangkal robekan dibagian dalam / proksimal, ke arah luar / distal.

2. Jahitan lapis demi lapis, lapis dalam kemudian lapis luar.
Resiko komplikasi : Perdarahan, infeksi, hematoma, fistula.

2.2.8. Tujuan Asuhan Persalinan
• Mendukung ibu, pasangan dan keluarganya selama persalinan, saat kelahiran, dan periode setelahnya.
• Memberikan reaksi terhadap kebutuhan ibu, pasangan dan keluarganya.
• Mencegah, mendeteksi dan menangani komplikasi dalam cara yang tepat waktu.
• Mengantisipasi masalah yang potensial serta memberikan reaksi yang sesuai.
• Mempermudah kelahiran pada tingkat asuhan yang sesuai.

2.2.9. Enam Kebijakan Pelayanan Asuhan persalinan
Semua persalinan harus dihadiri dan pantau oleh petugas kesehatan terlatih. Rumah dan tempat rujukan dengan fasilitas memadai untuk menangani kegawatdaruratan obstetrik dan neonatal harus tersedia 24 jam. Obat-obatan esensial, bahan dan perlengkpan harus tersedia bagi seluruh petugas terlatih.

2.2.10. Mekanisme Persalinan Normal
Turunnya Kepala
Turunnya kepala dapat dibagi dalam :
1. Masuknya kepala dalam pintu atas panggul
2. Majunya kepala
Pembagian ini berlaku bagi primigravida :
- Masukknya kepala ke dalam pintu atas panggul pada primigravida sudah terjadi bulan terakhir dari kehamilan tetapi pada multi para biasanya baru terjadi pada permulaan persalinan. Masuknya kepala ke dalam pintu atas panggul biasanya dengan sutura sagitalis melintang dan dengan fleksi yang ringan. Jika sutura sagitalis dalam diameter anteroposterior dari pintu atas panggul, maka masukknya kepala tentu lebih sukar, karena menempati ukuran yang lebih kecil dari pintu atas panggul. Jika sutura sagitalis terdapat di tengah-tengah jalan lahir, ialah tempat diantara simpisis dan promontorium, maka dikatakan kepala di dalam “ synclitismus ”.
Pada synclitismus os pariental depan dan belakang sama tingginya. Jika sutura sagitalis agak kedepan mendekati simpisis atau agak ke belakang mendekati promontorium, maka kita hadapi “ Asynclitismus “.
Kita mengenal “ asynclitismus posterior “ adalah kalau sutura sagitalis mendekati simpisis dan ospariental belakang lebih rendah dari ospariental ke depan dan kita mengenal “ asynclitismus anterior “ adalah kalau sutura sagitalis mendekati promontorium sehingga ospariental lebih rendah dari os
pariental belakang pada pintu atas panggul biasanya kepala dalam asynclitismus posterior yang ringan
- Majunya kepala : Pada primigravida majunya kepala terjadi setelah kepala masuk kedalam rongga panggul dan biasanya baru mulai pada kala II. Pada multipara sebaliknya majunya kepala dan masuknya kepala dalam rongga panggul terjadi bersamaan. Majunya kepala ini bersamaan dengan gerakan-gerakan yang lain ialah : Fleksi, putaran faksi dalam, dan extensi.
Fleksi
Dengan majunya kepala biasanya juga fleksi bertambah sehingga ubun-ubun kecil jelas lebih rendah dari ubun-ubun besar. Keuntungan dari bertambahnya fleksi ialah bahwa ukuran kepala yang lebih kecil melalui jalan lahir : diameter suboccipito bregmatica (9,5 cm) menggantikan diameter suboccipito frontalis (11 cm). Fleksi ini disebabkan karena anak di dorong maju dan sebaliknya mendapatkan tahanan dari pinggir pintu atas panggul, serviks, dinding panggul atau dasar panggul. Akibat dari kekuatan ini ialah terjadi fleksi karena momen yang menimbulkan fleksi lebih besar dari momen yang menimbulkan defleksi.

Putaran Paksi Dalam
Pemutaran dari bagian depan sedemikian rupa sehingga bagian terendah dari bagian depan memutar kedepan ke bawah simpisis. Pada persentasi belakang kepala bagian yang terendah ialah daerah ubun-ubun kecil dan bagian inilah yang akan memutar ke depan ke bawah simpisis. Putaran paksi dalam mutlak perlu untuk kelahiran kepala karena putaran paksi merupakan suatu usaha untuk menyesuaikan posisi kepala dengan bentuk jalan lahir khususnya untuk bidang tengah dan pintu bawah panggul. Putaran paksi dalam tidak terjadi tersendiri, tetapi selalu bersamaan dengan majunya kepala dan tidak terjadi sebelum kepala sampai hodge III, kadang-kadang baru setelah kepala sampai dasar panggul.
Estensi
Setelah putaran paksi selesai dan kepala sampai di dasar panggul, terjadilah ekstensi atau defleksi dari kepala. Hal ini disebabkan sumbu jalan lahir pada pintu bawah panggul mengarah ke depan dan atas, sehingga kepala harus mengadakan ekstensi untuk melalui. Kalau tidak terjadi ekstensi, kepala akan tertekan pada perineum dan menembusnya. Pada kepala bekerja 2 kekuatan, yang satu mendesak ke bawah dan satunya disebabkan tahan dasar panggul yang menolak ke atas. Resultant adalah kekuatan kearah depan atas.
Setelah suboksiput tertahan pada pinggir bawah simpisis maka yang dapat maju karena kekuatan tersebut diatas bagian yang berhadapan dengan suboksiput, maka lahirlah berturut-turut pada pinggir atas perineum ubun-ubun besar, dahi, hidung, mulut dan akhirnya dagu dengan gerakan ekstensi. Suboksiput yang menjadi putaran disebut hypomoghlion.
Putaran Paksi Luar
Setelah kepala lahir, maka kepala anak berputar kembali kearah punggung anak untuk menghilangkan torsi pada leher yang terjadi pada putaran paksi dalam. Selanjutnya putaran di lanjutkan hingga belakang kepala berhadapan dengan tuber ischiadikum. Gerakan yang terakhir ini adalah putaran paksi luar yang sebenarnya dan disebabkan karena ukuran bahu (diameter bisacromial) menempatkan diri dalam diameter anteroposterior dari pintu bawah panggul.
Expulsi
Setelah putaran paksi luar bahu depan sampai dibawah simpisis dan menjadi hipomochlion untuk kelahiran bahu belakang. Kemudian bahu depan menyusul dan selanjutnya seluruh badan anak lahir searah dengan paksi jalan lahir.

2.2.11. Proses Pertolongan Persalinan Normal 58 Langkah
I . Mengenali Gejala dan Tanda Kala II
1. Mengenali dan Melihat adanya tanda persalinan kala II
- Ibu mempunyai keinginan untuk meneran
- Ibu merasakan tekanan yang semakin meningkat pada rektum dan vaginanya.
- Perineum menonjol .
- Vulva vagina dan sfingter ani membuka.
II. Menyiapkan Pertolongan Persalinan .
2. Memastikan perlengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial untuk menolong persalinan dan menatalaksana komplikasi ibu dan bayi baru lahir. Untuk resusitasi → tempat datar, rata, bersih, kering dan hangat, 3 handuk atau kain bersih dan kering, alat penghisap lendir, lampu sorot 60 watt dengan jarak 60 cm diatas tubuh bayi.
• Mengelar kain diatas perut ibu. Dan tempat resusitasi serta ganjal bahu bayi.
• Menyiapkan oksitosin 10 unit dan alat suntik steril sekali pakai di dalam partus set.
3. Pakai celemek plastik yang bersih.
4. Melepaskan dan menyimpan semua periasan yang dipakai, mencuci kedua tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir dan mengeringkan tangan dengan handuk pribadi yang kering dan bersih.
5. Memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril untuk pemeriksaan dalam.
6. Masukan oksitosin 10 unit kedalam tabung suntik (gunakan tangan yang memakai sarung tangan disinfeksi tinggkat tinggi atau steril).
III. Memastikan Pembukaan Lengkap Dan keadaan Janin Bayi.
7. Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya dengan hati-hati dari depan kebelakang dengan menggunakan kapas atau kasa yang sudah di basahi air disinfeksi tingkat tinggi.
• Jika Introitus vagina, perineum, atau anus terkontaminasi tinja, bersihkan denganseksa dari arah depan ke belakang.
• Buang kapas atau kassa pembersih (terkontaminasi) dalam wadah yang tersedia.
• Ganti sarung tangan jika terkontaminasi (dekontaminasi, lepaskan dan rendam dalam larutan klorin 0,5 % → langkah # 9.
8. Lakukan Periksa dalam untuk memastikan pembukaan lengkap
• Bila selaput ketuban belum pecah dan pembukaan sudah lengkap maka lakukan amniotomi.
9. Dekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan tangan yang masih memakai sarung tangan kotor ke dalam larutan korin 0,5% dan kemudian melepaskannya dalam keadaan terbalik serta merendamnya selama 10 menit. Cuci kedua tangan setelah sarung tangan dilepaskan.
10. Memeriksa denyut jantung janin setelah kontraksi berakhir untuk memastikan bahwa DJJ dalam batas normal.
IV. Menyiapkan Ibu Dan Keluarga Untuk Membantu proses pimpinan meneran.
11. Memberi tahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik, membantu ibu dalam posisi yang nyaman sesuai keinginannya.
12. Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk meneran. (pada saat adanya his, bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan pastikan dia merasa nyaman ).
13. Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang kuat untuk meneran.
14. Ajarkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi yang nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam 60 menit.
V. Persiapan Pertolongan Kelahiran Bayi
15. Jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm meletakan handuk bersih diatas perut ibu untuk mengeringkan bayi.
16. Meletakan kain yang bersih di lipat 1/3 bagian di bawah bokong ibu.
17. Membuka tutup partus set dan perhatikan kembali kelengkapan alat dan bahan.
18. Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan
VI. Persiapan Pertolongan Kelahiran Bayi.
Lahirnya kepala.
19. Saat kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5-6 cm, lindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi kain tadi, letakan tangan yang lain di kepala bayi untuk menahan posisi defleksi dan membantu lahirnya kepala, menganjurkan ibu untuk meneran perlahan-lahan saat kepala lahir.
20. Memeriksa lilitan tali pusat dan mengambil tindakan yang sesuai jika terjadi lilitan tali pusat.
• Jika tali pusat melilit leher secara longgar, lepaskan lewat bagian atas kepala bayi.
• Jika tali pusat melilit leher secara kuat, klem tali pusat didua tempat dan potong diantara kedua klem tersebut.
21. Menunggu hingga kepala bayi melakukan putaran peksi luar secara spontan.
Lahirnya Bahu
22. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, tepatkan ke dua tangan di masing-masing sisi muka bayi. Menganjurkan ibu untuk meneran saat kontraksi berikutnya, dengan lembut menariknya kearah bawah dan kearah luar sehingga bahu anterior muncul di bawah arkus pubis dan kemudian dengan lembut menarik ke arah atas dan kearah luar untuk melahirkan bahu posterior.
Lahirnya Badan Dan Tungkai
23. Setelah kedua bahu di lahirkan, menelusurkan tangan mulai kepala bayi yang berada di bagian bawah ke arah perineum, membiarkan bahu dan lengan posterior lahir ketangan tersebut. Mengendalikan kelahiran siku dan tangan bayi saat melewati perineum, gunakan tangan bagian bawah saat menyangga tubuh bayi saat dilahirkan.Menggunakan tangan anterior (bagian atas) untuk mengendalikan siku dan tangan anterior saat bayi keduanya lahir.
24. Setelah tubuh dan lengan lahir, menelusurkan tangan yang ada di atas ( anterior ) dari punggung kearah kaki bayi untuk menyangga saat punggung dan kaki lahir memegang kedua mata kaki bayi dan dengan hati – hati membantu kelahiran kaki.
VII. Penanganan Bayi Baru Lahir.
25. Menilai bayi dengan cepat, kemudian meletakan bayi diatas perut ibu di posisi kepala bayi sedikit lebih rendah daei tubuhnya (bila tali pusat terlalu pendek, meletakan bayi di tempat yang memungkinkan).
26. Segera mengeringkan bayi mulai dari muka, kepala, dan bagian tubuh lainnya kecuali tangan tanpa membersihkan verniks. Ganti handuk basah dengan handuk/kain yang kering. Biarkan bayi diatas perut bayi.
27. Periksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi bayi dalam uterus (hamil tunggal).
28. Beritahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitisin agar uterus berkontraksi baik..
29. Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntukan oksitosin 10 unit IM (Intara muskuler) 1/3 paha atas bagian distal lateral (lakukan aspirasi sebelum menyuntikan oksitosin).
30. Setelah 2 menit pasca persalinan, jepit tali pusat dengan klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi. Melakukan urutan pada tali pusat mulai dari klem dari arah bayi dan memasang klem ke dua 2 cm dari klem pertama ke arah ibu.
31. Pemotongan dan pengikatan tali pusat
• Dengan satu tangan, pegang tali pusat yang telah dijepit (lindungi perut bayi), dan lakukan penguntungan tali pusat diantara dua klem tersebut.
• Ikat tali pusat dengan benang DTT atau steril pada satu sisi kemudian melingkarkan kembali benag tersebut dan mengikatnya dengan simpul kunci pada sisi lainnya.
• Lepaskan klem dan masukan dalam wadah yang telah disediakan.
32. Letakkan bayi agar ada kontak kulit ibu ke kulit bayi. Letakkan bayi tenggurap didada ibu. Luruskan bahu bayi sehingga bayi menempel di dada/perut ibu. Usahan kepala bayi berada diantara payudara ibu dengan posisi lebih rendah dari puting payudara ibu.
33. Selimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan pasang topi dikepala bayi.
VIII. Penatalaksanaan Aktif Persalinan Kala III.
Oksitosin
34. Memindahkan klem pada tali pusat sekitar 5-10 cm dari vulva.
35. Meletakan satu tangan diatas kain yang ada di perut ibu, tepat diatas tulang pubis, dan menggunakan tangan ini untuk melakukan palpasi kontraksi dan menstabilkan uterus, memegang tali pusat dan klem dengan tangan yang lain.
36. Setelah uterus berkontraksi, tegangkan tali pusat ke arah bawah sambil tangan yang lain mendorong uterus ke arah belakang – atas (dorso – kranial) secara hati-hati (untuk mencegah inversio uteri). Jika plasenta tidak lahir setelah 30-40 detik, hentikan penegangan tali pusat dan tunggu hingga timbul kontraksi berikutnya dan ulangi prosedur diatas.
• Jika uterus tidak segera berkontraksi, minta ibu, suami atau anggota keluarga untuk melakukan stimulasiputing susu.
Mengeluarkan Plasenta
37. Lakuka penegangnan dan dorongan dorso-kranial hingga plasenta terlepas, minta ibu meneran sambil penolong menarik tali pusat dengan arah sejajar lantai dan kemudian kearah atas, mengikutu poros jalan lahir, (tetap lakukan tekanan dorso-kranial)
• Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem hingga berjarak sekitar 5-10 cm dari vulva dan lahirkan plasenta.
• Jika plasenta tidak lepas setelah 15 menit menegangkan tali pusat:
1. Beri dosis ulangan oksitosin 10 unit IM
2. Lakukan katerisasi (aseptik) jika kandung kemih penuh.
3. Minta keluarga untuk menyiapkan rujukan.
4. Ulangi penegangna tali pusat 15 menit berikutnya.
5. Jika plasenta tidak lahir dalam 30 menit setelah bayi lahir atau bila terjadi perdarahan, segera lakukan plasenta manual.
38. Saat plasenta terlihat di introitus vagina, lahirkan plasenta dengan menggunakan ke dua tangan, pegang dan putar plasenta hingga selaput ketuban terpilih kemudian lahirkan dan tempatkan plasenta pada wadah yang telah disediakan.
• Jika selaput ketuban robek, pakia sarung tangan DTT atau steril untuk melakukan eksplorasi sisa selaput kemudian gunakan jari-jari tangan atau klem DTT atau steril untuk mengeluarkan bagian selaput yang tertinggal.
Rangsangan Taktil (Masase) Uterus
39. Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, melakukan Masase uterus, meletakan telapak tangan di fundus dan melakukan masase dengan gerakan melingkar dengan lembut hingga uterus berkontraksi ( Fundus menjadi keras ).
• Lakukan tindakan yang diperlukan jika uterus tidak berkontraksi setelah 15 detik masase.
IX. Menilai Perdarahan
40. Memeriksa kedua sisi placenta baik bagian ibu maupun bayi dan pastikan selaput ketuban lengkap dan utuh. Masukan plesenta kedalam kantung plastik atau tempat khusus.
41. Mengevaluasi adanya laserasi pada vagina dan perineum dan segera menjahit laserasi yang mengalami perdarahan aktif.
Bila ada robekan yang menimbulkan perdarahan aktif segera lakukan penjahitan.
X. Melakukan Prosedur paska persalinan
42. Pastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi perdarahan pervaginam.
43. Biarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu paling sedikit 1 jam.
• Sebagian besar bayi akan berhasil melakukan inisiasi menyusu dini dalam waktu 30-60 menit. Menyusu pertama biasanya berlangsung sekitar 10-15 menit bayi cukup menyusu dari satu payudara.
• Biarkan bayi berdada di dada ibu selama 1 jam walaupun bayi sudah berhasil menyusu.
44. Setelah 1 jam, lakukan pemeriksaan fisik bayi baru lahir, beri antibiotika salep mata pencegahan, dan vit K 1 mg IM di paha kiri anterolateral.
45. Setelah 1 jam pemberian vit K berikan suntikan imunisasi hepatitis B di paha kanan anterolateral.
Letakan bayi didalam jangkauan ibu agar sewaktu- waktu bisa disusukan. Letakan kembali bayi pada dada ibu bila bayi belum berhasil menyusu 1 jam pertama dan biarkan sampai bayi berhasil menyusu.
Evaluasi
46. Lakukan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan pervaginam.
• 2-3 kali dalam 15 menit pertama pasca persalinan.
• Setiap 15 menit pada 1 jam pertama paska perslinan.
• Setiap 20-30 menit pada jam kedua paska persalinan .
• Jika uterus tidak berkontraksi dengan baik, melakukan asuhan yang sesuai untuk menatalaksanaan atonia uteri.
47. Ajarkan ibu/keluarga cara melakukan masase uterus dan menilai kontraksi.
48. Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah.
49. Memeriksakan nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama 1 jam pertama paska persalinan dan setiap 30 menit selama jam kedua paska persalinan.
• Memeriksa temperatur tubuh ibu sekali setiap jam selama 2 jam pertama paska persalinan.
• Melakukan tindakan yang sesuai untuk temuan yang tidak normal.
50. Periksa kembali bayi dan pantau setiap 15 menit untuk pastikan bahwa bayi bernapas dengan baik (40-60 kali/menit) serta suhu tubuh normal (36,5-37,5 0C).
• Jika bayi sulit bernapas, merintih atau retraksi, diresusitasi dan segera merujuk kerumah sakit.
• Jika bayi napas terlalu cepat, segera dirujuk.
• Jika kaki teraba dingin, pastikan ruangan hangat. Kembalikan bayi kulit kekulit dengan ibunya dan selimuti ibu dan bayi dengan satu selimut.
Kebersihan Dan keamanan
51. Tempatkan semua peralatan dalam larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi ( 10 menit ), mencuci dan membilas peralatan setelah didekontaminasi.
52. Buang bahan – bahan yang terkontaminasi ke dalam tempat sampah yang sesuai.
53. Bersihkan ibu dengan menggunakan air disinfeksi tingkat tinggi. Bersihkan sisa cairan ketuban, lendir dan darah. Bantu ibu untuk memkai pakaian yang bersih dan kering.
54. Pastikan bahwa ibu nyaman, membantu ibu memberikan ASI, menganjurkan keluarga untuk memberikan ibu minuman dan makanan yang diinginkan.
55. Dekontaminasi tempat bersalin dengan klorin 0,5% .
56. Mencelupkan sarung tangan kotor kedalam larutan klorin 0,5% membalikan bagian sarung tangan dalam ke luar dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit.

57. Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air yang mengalir.
Pendokumentasian
58. Lengkapi patograf (Halaman depan dan belakang, periksa tanda vital dan asuhan kala IV).

2.2.11 Bounding Attachment
1. Pengertian
• Bounding merupakan suatu langkah awal untuk mengungkapkan perasaan afeksi (kasih sayang) oleh ibu kepada bayinya segera setelah lahir.
• Attachment merupakan interaksi antara ibu dan bayinya secara specifik sepanjang waktu. ( Saxton and Pelikan, 1996)
• Bounding Attachment adalah kontak awal antara ibu dan bayi setelah kelahiran, untuk memberikan kasih sayang yang merupakan dasar interaksi antara keduanya secara terus menerus. Dengan kasih sayang yang diberikan terhadap bayinya maka akan terbentuk ikatan bathin antara orang tua dan bayinya.

2. Manfaat Bounding Attachment
 Bayi merasa:
• Ada yang mencintai dirinya
• Merasa diperhatikan
• Merasa lingkungan dapat dipercaya sehingga akan menimbulkan sikap positif dalam sosialisasi
 Dekapan hangat akan memberikan rasa aman sehingga nantinya anak akan berani bereksplorasi
 Perasaan besar hati, perasaan positif terhadap merupakan dasar kepribadian yang positif.
3. Prinsip Bounding Attachment
• Periode sensitif terjadi pada menit pertama dan jam pertama
• Hubungan dimulai dari pegangan pertama orang tua dan respon secara khusus oleh bayi.
• Proses ikatan yang baik dan sistematis akan membuat orang tua merasa terikat dengan bayinya.
• Isyarat bayi : garakan kaki, tersenyum, gerakan bola mata akan ikatan lebih baik.
• Individu yang terikat dalam proses persalinan memiliki ikatan yamg kuat dengan bayinya.
• Kejadian pada awal persalinan (misal : cemas yang berlebihan pada saat hamil dan melahirkan, bayi cacat, persalinan sulit) akan memberikan dampak pada bounding attachment.

2.2.12. Pemberian ASI Secara Sedini
1. Pengertian
Inisiasi menyusu dini (early Initiation) atau permulaan menyusu dini adalah bayi mulai menyusui sendiri segera setelah lahir. Jadi sebenarnya bayi manusia seperti juga bayi mamalia lain mempunyai kemampun lain, untuk menyusui sendiri, asalkan diberi kontak kulit bayi dengan kulit ibu.
2. Langkah Insiasi Menyusu Dini (IMD)
a. Bayi harus mendapatkan kontak kulit dengan kulit ibunya segera setelah lahir selama paling sedikit satu jam
b. Bayi harus melakukan naluri alamiyahnya untuk melakukan insiasi menyusu dini dan ibu dapat mengenali bayinya siap untuk menyusu serta memberikan bantuan jika di perlukan.
c. Menunda prosedur lainya yang harus dilakukan kepada bayi baru lahir hingga insiasi menyusu selesai dilakukan, prosedur tersebut seperti menimbang, pemberian antibiotika salep mata, vitamin k 1 dan lain-lain
d. Prinsip menyusui / pemberian asi adalah sedini mungkin dan secara ekslusif

3. Keuntungan insiasi dini bagi ibu dan bayinya
a. untuk bayi
• makanan dengan kulitas dan kuantitas optimal. Mendapat kolostrum segera, di sesuaikan dengan kebutuha bayi
• segera memberikan kekebalan pasif pad bayi.kolostrum adalah imunisasi pertama bagi bayi.
• Meningkatkan kecerdasan
• Membantu bayi mengkoordinasikan kemampuan hisap, telan dan nafas
• Meningkatkan jalinan kasih sayang ibu bayi
• Mencegah kehilanga panas
a. untuk ibu
merangsang produksi oksitosin dan prolaktin pada ibu
• Oksitosin :
1) Stimulasi kontraksi uterus dan menurubkan resiko perdarahan paska persalinan
2) Merangsang pengeluaran kolostrum dan meningkatkan produksi asi
3) Keuntungan dan hubungan mutualisti ibu dan bayi
4) Ibu menjadi lebih tenag, fasilitasi kelahiran plasenta dan pengalihan rasa nyeri dari berbagai prosedur paska persalinan lainnya

• Prolaktin :
1) Meningkatkan produksi asi
2) Membantu ibu mengtasi stre terhadap berbagai rasa kurang nyaman
3) Memberi efek relaksasi pada ibu setelah bayi selesai menyusu
4) Menunda ovulasi
• Teori Partograf
Partograf di pakai untuk memantau kemajuan persalinan dan membantu petugas kesehatan dalam mengambil keputusan dalm penatalaksanaan Partograf di mulai pada pembukaan 4 cm (fase aktif ). Petugas harus mencatat kondisi ibu dan janin sebagai berikut :
 Denyut jantung janin, catat setiap satu jam.
 Air ketuban, catat warna air ketuban setiap melakukan pemeriksaan vagina :
- U : Selaput utuh.
- J : Selaput pecah, air ketuban jernih.
- M : Air ketuban bercampur mekonium.
- D : Air ketuban bernoda darah.
- K : Tidak ada cairan ketuban atau kering.

 Perubahan bentuk kepala janin (molding atau molase )
- 0 : Sutura terpisah.
- 1 : Sutura (pertemuan 2 tulang tengkorak ) yang tepat / bersesuaian.
- 2 : Sutura tumpang tindih dan dapat di perbaiki.
- 3 : Sutura tumpang tindih dan tidak dapat di perbaiki.
 Pembukaan mulut rahim ( serviks ), di nilai setiap 4 jam dan di beri tanda ( X ).
 Penurunan : Mengacu pada bagian kepala ( di bagi 5 bagian ) yamg teraba ( pada peneriksaan abdomen / luar ) di atas simfisis pubis catat dengan tanda lingkaran. ( O ) pada setiap pemeriksaan dalam, pada posisi 0 / 5, sinsiput ( S ) atau paruh atas kepala berada di simphisis pubis.
 Waktu : Menyatakan berapa jam waktu yang telah di jalani sesudah pasien di terima.
 Jam : Catat jam sesungguhnya.
 Kontraksi : catat setiap setengah jam, lakukan palpasi untuk menghitung banyaknya kontraksi dalam 10 menit dan lamanya tiap- tiap kontraksi dalam hitungan detik :
- Kurang dari 20 detik.
- Antara 20 dan 40 detik.
- Lebih dari 40 detik.
 Oksitosin, jika memakai oktosin catatlah banyaknya oksitosin per volume cairan infus dan dalam tetesan permenit.
 Obat yang di berikan, catat senua obat lain yang di berikan.
 Nadi, catatlah setiap 30-60 menit dan tandai dengan sebuah titik besar ( . )
 Tekanan darah, catatlah setiap 4 jam dan tandai dengan anak panah.
 Suhu badan, catatlah setiap 2 jam.
 Protein, aseton, dan volume urine, catatlah setiap kali ibu berkemih. (1)

2.3. Nifas Normal
2.3.1 Defenisi
Masa nifas ( puerperium ) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat- alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu.
Pada masa nifas alat-alat genital internal maupun eksternal akan berangsur-angsur pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil. Perubahan-perubahan alat genitalia ini dalam keseluruhannya disebut Involusio. Disamping involusio ini terjadi juga perubahan-perubahan penting lain, yakni timbulnya laktasi. (Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2001)

2.3.2. Proses infolusi uterus
Secara berangsur-angsur akan menjadi kecil (involusi) sehingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil. Perubahan uterus pada masa nifas :
Involusi TFU Berat Uterus
Bayi lahir

Minggu ke I

Minggu ke II

Minggu ke VI

Minggu ke VIII Setinggi pusat

Pertengahan pusat dengan symphisis

Tidak teraba diatas symphisis

Bertambah kecil

Normal 1000 gram

500 gram

300 gram

40-60 gram

30 gram

( SumberKapita Selekta Kedokteran 2001 )

Otot-otot uterus berkontraksi segera post partum, proses ini akan menghentikan perdarahan setelah plasenta dilahirkan. Bekas implantasi plasenta, kembali normal pada minggu ke-6.
Perubahan pada serviks, warna serviks merah kehitam-hitaman karena penuh pembuluh darah. Segera setelah janin lahir, tangan pemeriksa masih dapat dimasukkan dalam kavum uteri. Setelah 2 jam hanya dimasukkan 2-3 jari. Satu minggu hanya dapat dimasukkan 1 jari, hal ini penting dalam penanganan kala uri.
Serviks kembali merapat, ligamen-ligamen dari diagfragma pelvis serta fasia yang meregang selama kehamilan dan partus setelah janin lahir berangsur-angsur kisut kembali seperti sediakala.
Perubahan pada luka jalan lahir, seperti luka episiotomi yang telah dijahit, luka pada vagina dan serviks akan cepat sembuh dengan perawatan dan gizi yang baik, kecuali bila terdapat infeksi.

2.3.3. Pengeluaran Lochea
Lochea adalah secret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa nifas. Pengeluaran lochea pada ibu yang baru bersalin adalah:
1. Lochea rubra (kruenta), terdiri atas darah segar bercampur sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, sisa-sisa verniks kaseosa, lanugo dan mekonium, berwarna merah segar, hari ke-1 sampai hari ke-3.
2. Lochea sanguinolenta, yaitu darah bercampur lendir, berwarna merah kekuningan pada hari ke 3-7.
3. Lochea serosa, lochea cair tidak berdarah lagi, warnanya agak kuning terjadi setelah 1 minggu (hari ke 7-14)
4. Lochea alba, cairan putih pada hari ke-14. Biasanya lochea berbau amis, kecuali bila terdapat infeksi dan akan berbau busuk.
5. Lochea parulenta terjadi infeksi, cairan seperti nanah berbau busuk
6. Lochiastatis yaitu lochea tidak lancar keluarnya dan infeksi.

2.3.4. Periode yang diekspresikan oleh reva rubin yang terjadi 3 tahap yaitu :
1. Periode Taking In
Terjadi pada hari kedua post partum, ibu baru umumnya pasif dan tergantung perhatiannya tertuju pada kekhawatirannya akan tubuhnya. Ia mungkin akan mengulang pengalaman waktu bersalin, ibu harus cukup istirahat untuk mengembalikan keadaan normal, selera makan ibu biasanya bertambah, kurang nafsu makan menandakan proses pengembalian kondisis ibu tidak berlangsung normal.
2. Periode Taking Hold
Berlangsung pada hari ke 2 – 4 post partum, ibu memperhatikan kemampuannya menjadi orang tua dan meningkatkan tanggung jawab terhadap bayinya. Ibu berkonsentrasi pada pengontrolan fungsi tubuhnya, BAK, BAB, kekuatan dan ketahanan tubuhnya, ibu berusaha keras untuk menguasai tentang perawatan bayi, Ibu biasanya agak sensitive dan merasa tidak mahir dan cepat menerima nasehat bidan atau perawat dan menerima pengetahuan dan kritikan yang bersifat pribadi.
3. Periode letting Go
Periode ini terjadi setelah ibu pulang kerumah, perhatian yang diberikan keluarga sangat berpengaruh. Ia bertanggung jawab terhadap perawatan bayi, ia beradaptasi dengan kebutuhan bayi yang menyebabkan kurangnya hak ibu, kebebasan dan hubungan sosial. Depresi post partum umumnya terjadi dalam periode ini.

2.3.5. Kebijakan program nasional masa nifas
Paling sedikit 4 kali kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir, dan untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang terjadi.

Kunjungan Waktu Tujuan
1 6-8 jam setelah persalinan • Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
• Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan : rujuk bila perdarahan berlanjut
• Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
• Pemberian ASI awal
• Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir
• Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi
• Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus tinggal dengan ibu dan bayi baru lahir untuk 2 jam pertama setelah kelahiran, atau sampai ibu dan bayi dalam keadaan stabil
2 6hari setelah persalinan • Memastikan involusi uterus berjalan normal : uterus berkontraksi fundus dibawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau
• Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal
• Memastikan ibu mendapatkan cukup makan, cairan dan istirahat
• Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-tanda penyulit
• Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari
3 2 minggu setelah persalinan Sama seperti di atas (6 hari setelah persalinan)
4 6 minggu setelah persalinan • Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ia atau bayi ala yang dialami
• Memberikan konseling KB secara dini

2.3.6. Tujuan Asuhan masa nifas
a) Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologik.
b) Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya.
c) Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat.
d) Memberikan pelayanan keluarga berencana (Buku Acuan Pelayanan Kesehatan Maternal dan Perinatal, 2001.
2.3.7 Asuhan Pada Masa Nifas
Menurut Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal 2002.
1) Kebersihan Diri
a. Anjurkan kebersihan seluruh tubuh.
b. Menganjurkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air bersih dari arah depan ke belakang.
c. Sarankan ibu untuk mengganti pembalut setidaknya 2 kali sehari.
d. Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya.
2) Istirahat
a. Anjurkan ibu untuk istirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan.
b. Sarankan ibu untuk melakukan kegiatan rumah tangga secara perlahan, serta tidur siang atau beristirahat selagi bayi tidur.
3) Gizi
a. Ibu yang menyusui harus mengkonsumsi makanan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan vitamin secukupnya.

b. Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari (anjurkan untuk minum setiap kali menyusui).
c. Pil zat besi harus diminum untuk menambah gizi selama 40 hari pasca bersalin.
d. Minum kapsul vitamin A (200.000 unit) agar bisa memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI.
4) Perawatan payudara
a. Menjaga agar payudara tetap kering dan bersih, terutama putting susu.
b. Menggunakan BH yang menyokong payudara.
5) Senggama
Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan satu atau dua jarinya kedalam vagina tanpa rasa nyeri. Senggama dapat dilakukan berdasarkan kesepakatan suami dan istri.
6) Keluarga Berencana
Sebelum menggunakan metode KB, hal-hal yang harus dijelaskan pada ibu tentang KB adalah :
a. Kelebihan atau keuntungan
b. Efek samping
c. Bagaimana menggunakan metode KB
d. Kapan metode KB ini dapat mulai digunakan
e. Cara kerja metode ini mencegah kehamilan.
Perawatan post partum :
1. Mobilisasi : Bertahap, diperbolehkan pada hari ke2 duduk, hari ke 3 jalan-jalan dan seterusnya.
2. Diet : Makanan harus bermutu, bergizi, memenuhi 4 sehat 5 sempurna dan cukup kalori.
3. Miksi : Hendaknya kencing dapat dilakukan sendiri setelah 6 jam postpartum.
4. Defekasi : Ibu harus sudah melakukannya 3-4 jam postpartum.
5. Perawatan payudara : dilakukan sejak dini untuk pemberian ASI.
6. Laktasi : Ibu dianjurkan segera menyusui bayinya, karena isapan putting susu pada bayi merupakan rangsangan untuk pengeluaran oksitosin oleh hipofise, efek positif adalah involusi uteri yang sempurna.
7. Observasi psikologis.
8. Pengawasan terdiri dari :
a. Rawat gabung.
b. Pemeriksaan umum terdiri dari kesadaran penderita dan keluhan yang terjadi setelah persalinan.
c. Pemeriksaan khusus yang terdiri dari pemeriksaan fisik (Tanda-tanda Vital, kontraksi uterus), payudara (putting susu, pembengkakan, pengeluaran ASI, Pengeluaran lokhia, luka jahitan (keadaan jahitan ada tidak tanda-tanda infeksi).
9. KB
Setiap pasangan harus menentukan sendiri kapan dan bagaimana mereka ingin merencanakan tentang ber-KB. Namun, petugas kesehatan dapat membantu merencanakannya dengan mengajarkan kepada mereka tentang cara mencegah kehamilan yang tidak diinginkan. Biasanya wanita tidak akan menghasilkan telur (ovulasi) sebelum mendapatkan haid selama ia menyusui (amenore laktasi). Meskipun beberapa metode KB mengandung resiko, penggunaan kontrasepsi tetap lebih aman, terutama bila ibu sudah haid lagi. (Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002)

2.4. Bayi Baru lahir Normal
2.4.1. Definisi
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan berat badan lahir adalah 2500 – 4000 gram. (www.blogger.com )
Bidan segera memeriksa bayi baru lahir untuk mengetahui apakah ada kelainan atau luka bawaan. Setiap bayi lahir yang ditolong dibuatkan surat keterangan lahirnya.
2.4.2. Kriteria Fisik Bayi Baru Lahir
Bayi baru lahir yang normal menunjukan tanda-tanda : (2)
a. Berat badan > antara 2500 – 4000 gr.
b. Ukuran kepala 31 – 35 cm.
c. Kaput succedaneum positif.
d. Reflek menghisap positif.
e. Alat kelamin tidak ada kelainan, rektum tidak menutup.
f. Mekonium positif.
g. Anggota gerak tidak ada kelainan dan lengkap.
h. Punggung tidak ada kelainan.
i. Replek moro positif.
Penilaian Apgar Score
Tanda Nilai 0 1 2
Frekuensi jantung Tidak ada Kurang dari 100 x/menit Lebih dari 100 x/menit
Usaha bernafas Tidak ada Lambat tidak teratur Menangis kuat
Tonus Lumpuh Ekstremitas fleksi sedikit Gerakan aktif
Refleks Tidak ada Gerakan sedikit Menangis
Warna tubuh Biru/pucat Tubuh kemerahan, ekstremitas biru Tubuh, ekstremitas kemerahan

Klasifikasi klinik
• Nilai 7 – 10 : Bayi Normal
• Nilai 4 – 6 : Bayi Asfiksia
• Nilai 0 – 3 : Bayi Asfiksia Berat

2.4.3. Kriteria Fisik Bayi Baru Lahir Normal
a. Refleks Rooting, bayi menoleh kearah benda yang menyentuh pipi.
b. Refleks Hisap, terjadi apabila terdapat benda menyentuh bibir, yang disertai refleks menelan.
c. Refleks Moro, timbulnya pergerakan tangan yang simetris apabila kepala tiba-tiba digerakkan.
d. Refleks Mengeluarkan Lidah, terjadi apabila diletakkan benda di dalam mulut, yang sering ditafsirkan bayi menolak makanan/minuman.

2.4.4. Asuhan Segera Bayi Baru Lahir Normal
Yaitu asuhan yang dilakukan pada bayi selama 1 jam pertama setelah kelahiran, diantaranya:
1. Mencegah pelepasan panas yang berlebihan.
a. Mengeringkan tubuh bayi dengan handuk atau kain hangat.
b. Selimuti bayi terutama bagian kepala dengan kain yang kering
c. Ganti handuk atau selimut yang basah.
d. Jangan menimbang bayi dalam keadaan tidak berpakaian.
e. Jangan memandikan bayi setidak-tidaknya hingga 6 jam setelah persalinan.
2. Bebaskan atau bersihkan jalan nafas.
Bersihkan jalan nafas bayi dengan cara mengusap mukanya dengan kain atau kassa yang bersih dari darah dan lendir segera setelah kepala bayi baru lahir. Apabila bayi baru lahir segera dapat bernafas secara spontan atau segera menangis, jangan lakukan penghisapan secara rutin pada jalan nafas bayi baru lahir tidak direkomendasikan karena hal ini dapat membahayakan bagi bayi tersebut.

2.5 Inisiasi Menyusu Dini
2.5.1 Definisi Inisiasi Menyusu Dini
Inisiasi menyusu dini ( early initiation ) atau permulaan menyusu dini adalah bayi mulai menyusu sendiri segera setelah lahir. Jadi sebenarnya bayi manusia seperti juga bayi mamalia lain mempunyai kemampuan untuk menyusu sendiri. Asalkan diberi kontak kulit bayi dengan kulit ibu

2.5.2 Penelitian Tentang Inisiasi Menyusu Dini
a. Dr. Lennart Righard dan Bidan Margareta Alade, 1990
Penelitian dilakukan terhadap 72 pasangan ibu dan bayi baru lahir. Dan dibagi menjadi dua kelompok yaitu lahir normal dan dengan obat-obatan (tindakan)
1. Bayi begitu lahir, tali pusatnya dipotong, dikeringkan dengan cepat, setelah itu diletakan di dada ibu dibiarkan setidaknya satu jam. Pada usia 20 menit bayi mulai merangkak ke arah payudara dalam usia 50 menit sudah dapat menyusu.
2. Bayi lahir normal langsung dipisahkan dari ibunya hasilnya 50% bayi tidak dapat menyusu.
3. Bayi lahir dengan obat-obat setelah itu diletakan di atas dada ibu hasilnya tidak semua dapat menyusu sendiri.
4. Bayi lahir dengan obat-obatan dan segera dipisahkan dari ibunya tidak ada satu pun yang dapat menyusu sendiri.
5. Pada bayi yang dibiarkan menyusu sendiri, setelah berhenti menyusu baru dipisahkan dari ibunya untuk ditimbang dan diukur. Pada usia 10 jam saat bayi diletakan kembali di bawah payudara, ia tampak dapat menyusu dengan baik.
b. Sose dkk CIBA Foundation, 1978
Hasil penelitian menunjukan hubungan antara saat kontak ibu – bayi pertama kali terhadap lama menyusu. Bayi yang diberi kesempatan menyusu dini dengan meletakan bayi diatas dada ibu setidaknya satu jam, hasilnya dua kali lebih lama disusui.
c. Fika dan Syafiq, Journal Kedokteran Trisakti, 2003
Penelitiann di Jakarta ini menunjukan bayi yang diberi kesempatan untuk menyusu dini hasilnya delapan kali lebih berhasil ASI Eksklusif.
d. Dr. Karen Edmond, 2006
Hasil peneltian di Ghana terhadap hampir 11.000 bayi dipublikasikan di Pediatrics (30 Maret 2006) adalah :
1. Jika bayi diberi kesempatan menyusu dalam satu jam pertama dengan dibiarkan kontak kulit ke kulit ibu (setidaknya satu jam) maka 22% nyawa bayi di bawah 28 hari dapat diselamatkan.
2. Jika mulai menyusu pertama, saat bayi berusia di atas dua jam dan di bawah 24 jam pertama, tinggal 16% nyawa bayi di bawah 28 hari yang dapat diselamatkan.

2.5.3 Pentingnya Kontak Kulit Dan Menyusu Sendiri
a. Dada ibu manghangatkan bayi selama bayi merangkak mencari payudara. Ini akan menurunkan angka kematian bayi karena kedinginan.
b. Saat merangkak mencari payudara bayi memindahkan bakteri dari kulit ibunya dan ia akan menjilat kulit ibu. Menelan bakteri ‘baik‘ di kulit ibu. Bakteri ini akan berkembang biak membentuk koloni di usus bayi dan menyaingi bakteri ‘jahat’ dari lingkungan.
c. ‘Bonding’ akan lebih baik karena pada 1-2 jam pertama, bayi dalam keadaan siaga. Setelah itu, biasanya bayi tidur dalam waktu yang lama.
d. Ibu dan bayi merasa lebih tenang. Pernapasan dan detak jantung bayi lebih stabil. Bayi akan lebih jarang menangis sehingga mengurangi pemakaian energi.
e. Makanan awal non ASI mengandung zat putih telur yang bukan berasal dari susu manusia. Hal ini dapat menganggu pertumbuhan fungsi usus dan mencetuskan alergi lebih awal.
f. Bayi yang diberi kesempatan menyusu dini lebih berhasil menyusu eksklusif dan akan lebih lama disusui.
g. Hentakan kepala bayi ke dada ibu, sentuhan tangan bayi di puting susu dan sekitarnya, emutan, dan jilatan bayi pada puting susu ibu merangsang pengeluaran hormon oksitosin sehingga mengurangi jumlah perdarahan.

2.5.4 Tahapan Perilaku Bayi
a. Dalam 30 menit pertama. Stadium istirahat. Bayi diam tidak bergerak, sesekali matanya terbuka lebar melihat ibunya, terjadi masa penyesuaian dari dalam kandungan ke keadaan di luar kandungan.
b. 30-40 menit. mengeluarkan suara, gerakan mulut seperti mau minum, mencium, dan menjilat tangan. Bayi mencium dan merasakan cairan ketuban yang ada di tangannya. Bau ini sama dengan bau cairan yang dikeluarkan payudara ibu. Bau ini akan membimbing bayi menemukan payudara dan puting susu.
c. Saat menyaadari bahwa ada makanan disekitarnya, bayi mulai mengeluarkan air liur.
d. Bayi mulai bergerak ke arah payudara. Areola menjadi sasaran, dengan kaki menekan perut ibu. Ia menjilat-jilat kulit ibu, menghentak-hentakan kepala ke dada ibu, menoleh ke kanan dan kiri, serta menyentuh dan meremas putting susu dan sekitarnya dengan tangannya yang mungil.
e. 50-60 menit, menemukan, menjilat, mengulum puting, membuka mulut lebar dengan baik.

2.5.5 Tatalaksana Inisiasi Menyusui Dini
a. Begitu bayi lahir diletakan di perut ibu yang sudah dialasi kain kering.
b. Keringkan seluruh tubuh bayi termasuk kepala
c. Tali pusat di potong lalu diikat.
d. Verniks yang melekat di tubuh bayi sebaiknya tidak dibersihkan. Ini akan membuat bayi nyaman.
e. Tanpa dibedong langsung ditengkurapkan di dada atau perut ibu dengan kontak kulit bayi. Bayi diselimuti jika perlu di beri topi.

B. TINJAUAN MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN VARNEY DAN SOAP
1. Tinjauan asuhan kebidanan
a. Pengertian
Manajemen kebidanan adalah proses pencegahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasi pikiran dan tindakan berdasarkan teori yaitu penemuan-penemuan keterampilan dalam rangkaian atau tahapan yang logis untuk pengambilan suatu keputusan yang berfokus kepada klien.
2. Langkah-langkah asuhan kebidanan
a. Langkah varney
• Mengumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk menilai keadaan klien secara keseluruhan
• Menginterpretasikan data untuk mengidentifikasi diagnosa dan masalah
• Mengidentifikasi diagnosa/masalah potensial yang mengantisipasi penanganannya.
• Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, melakukan tindakan, konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain berdasarkan kondisi klien.
• Menyusun rencana asuhan secara menyeluruh dengan tetap dan rasional berdasarkan keputusan yang dibuat pada langkah sebelumnya.
• Pelaksanaan langsung asuhan secara efisien dan aman.
• Mengevaluasi keefektifan asuhan yang diberikan dengan mengulang kembali penatalaksaan proses untuk aspek-aspek asuhan yang tidak efektif.
b. Manajemen Asuhan Kebidanan Dengan SOAP.
Manajemen kebidanan merupakan metode untuk pendekatan yang di gunakan bidan dalam memberikan asuhan kebidanan, sehingga langkah – langkah dalam manajemen kebidanan merupakan alur pikir bidan dalam pemecahan masalah atau pengambilan keputusan. Asuhan kebidanan yang di lakukan harus dicatat secara benar, sederhana, jelas, dan logis. SOAP merupakan singkatan dari :
S : Subjektif
Menggambarkan pendokumentasianhasil pengumpulan data klien melalui anamnesa.
O : Mengambarkan hasil pendokumentasian hasil pemerksaan fisik klien.
A : Menggambarkan Pendokumentasian hasil analisa dan interprestasi data Subjektif dan objektif dalam suatu identifikasi.
P : Menggambarkan pendokumentasian dari perencanaan dan evaluasi
berdasarkan assement.
B. TINJAUAN MANAJEMEN
Manajemen asuhan kebidanan adalah suatu proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan keterampilan dalam rangkaian tahapan logis untuk pengambilan keputusan yang berfokus pada klien.
1. Asuhan Kebidanan dengan Metode Varney
Manajemen asuhan ebidanan menurut Varney terdiri dari 7 langkah, yaitu:
Langkah 1 : Pengumpulan Data
Mengumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk menilai keadaan klien secara keseluruhan. Untuk memperoleh data dilakukan dengan cara :
A. Anamnesis, meliputi biodata, riwayat menstruasi, riwayat kesehatan, riwayat kehamilan, persalinan dan nifas, Bio-psiko-sosial-spiritual, pengetahuan klien.
B. Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital.
C. Pemeriksaan khusus, meliputi inspeksi, palpasi,auskultasi dan perkusi.
D. Pemeriksaan penunjang, meliputi hasil laboratorium.

Langkah II : Analisa/Diagnosa Masalah
Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap diagnosa/masalah dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi data yang telah dikumpulkan. Data dasar yang sudah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga ditemukan masalah/diagnosa yang spesifik.
Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan bidan dalam lingkup praktik kebidanan.

Langkah III : Mengidentifikasi Diagnosa /Masalah Potensial
Mengidentifikasi diagnosa/masalah potensial berdasarkan diagnosa/masalah yang sudah diidentifikasi, dan mengantisipasi bila memungkinkan dilakukanpencegahan sambil mengamati klien.

Langkah IV : Identifikasi Masalah yang Membutuhkan Tindakan Segera
Menetapkan kebutuhan tindakan segera, melakukan konsultasi dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain serta rujukan berdasarkan kondisi klien.

Langkah V : Merencanakan Asuhan Menyeluruh
Menyusun rencana asuhan secara menyeluruh dengan tepat dan rasional berdasarkan keputusan yang dibuat pada langkah-langkah sebelumnya.

Langkah VI : Melaksanakan Perencanaan
Pelaksanaan langsung asuhan secara efisien dan aman

Langkah VII : Evaluasi
Mengevaluasi keefektifan asuhan yang diberikan dengan mengulang kembali manajemen proses untuk aspek-aspek asuhan yang diberikan

2. Asuhan Kebidanan dengan SOAP
S : Subyektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien melalui anamnesa. Hal ini dilakukan untuk mengevaluasi keadaan klinis secara lengkap. Subjektif termasuk ke dalam langkah I dalam 7 langkah Varney.

O : Objektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik dan klien, hasil laboratorium dan tes diagnostik lain yang dirumuskan dalam data fokus untuk mendukung assessment. Objektif termasuk ke dalam langkah I dalam 7 langkah Varney.

A : Assesment
Menggambarkan pendokomentasian hasil analisa dan interpretasikan data subyektif dan obyektif dalam situasi diagnosa/masalah dan antisipasi diagnosa/masalah potensial lain. Assesment terdiri dari langkah II, III dan IV.
P : Planning
Menggambarkan pendokumentasian dari perencanaan dan evaluasi berdasarkan assesment. Planing terdiri dari langkah V, VI dan VII.

C. PENDOKUMENTASIAN ASUHAN KEBIDANAN
1. Kehamilan
Ibu mengatakan HPHTnya tanggal…, TP tanggal…, dilakukan pemeriksaan kehamilan tanggal, pemeriksaan, hasil, pemeriksaan tes kehamilan, pergerakan janin di rasakan pada usia kehamilan, pergerakan janin dalam 12 jam, keluhan yang di raskan, pola makan sehari-hari, pola istirahat, pola eliminasi, aktifitas sehari-hari,m pola istirahat, imunisasi TT, riwayat kontrasepsi, riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu, pola istirahat, perilaku kesehatan, riwayat sosial.
Keadaan umum, kesehatan, keadaan sosial, BB sebelum hamil, kenaikan berat badan selama hamil, pemeriksaan sistematis dari kepala sampai kaki, TD….mmHg, Nadi….kali/menit, suhu….˚c, pernafasan….kali/menit, pemeriksaan obstetrik, pemeriksaan laboratorium Hb…gr%, golongan darah, protein urine, reduksi.
Ibu usia…. Tahun, G P A, usia kehamilan… minggu dengan komplikasi atau tidak.
Janin tunggal/ganda, hidup/mati, intra uterin/ekstra uterin, presentasi kepala/bokong, dengan komplikasi atau tidak. Keadaan ibu dan janin saat ini baik atau tidak.
Memberitahu ibu dan keluarga hasil pemeriksaan penkes nutrisi, penkes pola istirahat, penkes tanda-tanda bahaya pada kehamilan, penkes senam hamil pada ibu yang usia kehamilanyya 28-40 minggu ( ibu hamil pada trimester III ), penkes persiapan persalinan pada ibu yang usia kehamilannya 28-40 minggu ( ibu hamil pada trimester III ), penkes tanda-tanda persalinan pada ibu hamil trimester III, informasi kunjungan ulang.

2. Persalinan
Kala I
Ibu mengatakan mulas yang sering, teratur, pengeluaran pervaginam berupa lendir darah, usia kehamilan cukup bulan atau sebaliknya kurang bulan, haid terakhir, waktu buang air kecil, buang air besar, riwayat kehamilan, persalinan,nifas yang lalu, riwayat penyakit dan riwayat penyakit yang diderita oleh keluarga.
Keadaan umum, kesadaran, tand-tanda vital, pemeriksaan kebidanan dengan leopold, palpasi, tinggi fundus uteri, punggung janin, presentasi, penurunan, kontraksi, auskultasi, denyut jantung janin, pergerakan, pemeriksaan dalam : keadaan dinding vagina, portio, pembukaan serviks, ketuban positif atau negatif, presentasi, penurunan bagian terendah, posisi, pemeriksaan laboratorium : Hb, urine, protein urine, reduksi.
Ibu…th,G…P…A…hamil ( aterm, preterm, postmatur ) partus kala I fase aktif atau fase laten.
Janin hidup atau mati, tunggal atau ganda, intra uterin atau ekstra uterin, presentasi, denyut jantung janin ada atau tidak, frekuensi ada berapa kali dalam satu menit penuh, teratur atau tidak, keadaan ibu dan janin saat ini baik
Memantau keadaan ibu dan mengobservasi keadaan umum, tanda-tanda vital, keadaan janin dengan mengobservasi denyut jantung janin, observasi his, dengan menggunakan partograf, mengajarkan pada ibu cara untuk mengurangi rasa sakit yang timbul saat his dan cara meneran yang baik, ajarkan cara mengatur nafas, menganjurkan ibu untuk makan dan minum, memberikan dukungan, menyiapkan ruangan, alat dan obat-obat persalinan.

Kala II
Ibu mengatakan mulas-mulas yang makin sering dan selalu ingin mengedan, vulva dan anus membuka, perineum menonjol, his semakin sering dan kuat.
Di lakukan pemeriksaan dalam dengan hasil : dinding vagina tidak ada kelainan, portio tidak teraba, pembukaan 10cm ( lengkap ), ketuban negatif, presentasi kepala, penurunan bagian terendah pada Hodge…posisi ubun-ubun.
Ibu usia…th, G…P…A…, hamil ( aterm, preterm, postmatur ) partus kala II.
Janin hidup, tunggal, intra uterin, presentasi kepala, denyut jantung janin positif atau negatif, frekuensi berapa kali dalam satu menit penuh, teratur atau tidak, keadaan ibu dan janin saat ini baik.
Memantau keadaan umum ibu dan mengobservasi tanda-tanda vital dengan menggunakan partograf, memberikan dukungan, pendamping persalinan, dampingi ibu untuk minum dan mengumpulkan tenaga diantara kontraksi, lahirkan bayi pervaginam.

Kala III
Ibu mengatakan perutnya masih mulas. Bayi sudah lahir, plasenta belum lahir, tinggi fundus uteri, kontraksi baik atau tidak, volume perdarahan pervaginam, keadaan kandung kemih penuh atau kosong.
Ibu usia…th,P…A…partus kala III.
Observasi keadaan umum ibu, kontraksi uetrus baik atau tidak, observasi pelepasan plasenta, melakukan peregangan taki pusat terkendali, lakukan manajemen ektif kala III, massase uterus, lahirkan plasenta, nilai volume perdarahan, observasi tanda-tanda vital dan keadaan ibu serta bayinya.

Kala IV
Ibu mengatakan sedikit lemas dan lelah, ibu mengatakan tidak nyaman dengan keadaannya karena tubuhnya kotor dengan darah, ibu mengatakan darah yang keluar banyak seperti pertama haid.
Plasenta sudah lahir, keadaan umum baik, tanda-tanda vital normal.
Ibu P…A…partus kala IV
Observasi keadaan umum, tanda-tanda vital, kandung kemih, tinggi fundus uteri, kontraksi uterus, volume perdarahan yang keluar, periksa ada atau tidak luka jalan lahir, bersihkan dan rapikan ibu, buatlah ibu merasa nyaman.

3. Nifas
Ibu mengatakan keluhan yang dirasakan, riwayat persalinan dan kelahiran, pola istirahat, pola eliminasi.
Keadaan umum, keadaan emosional, kesadaran, tanda-tanda vital, payudara, uterus, pengeluaran lochea, perineum, kandung kemih, ekstremitas : oedema, refleks, kemerahan, pemeriksaan penunjang. Darah : Hb, leukosit, urine.
Ibu usia…tahun…P…A…postpartum berapa hari dengan komplikasi atau tidak.
Memberitahu ibu dan keluarga hasil pemeriksaan, penkes masalah atau keluhan yang dirasakan ibu, mengajarkan ibu tentang massage uterus pada ibu postpartum 2-6 jam, memberitahu ibu kontraksi yang baik dan jelek. Pada ibu postpartum 2-6 jam.penkes pola istirahat, penkes mobilisasi, penkes nutrisi, penkes tanda-tanda bahaya nifas, informasi kunjungan ulang.

4. BBL ( Bayi Baru Lahir )
Ibu mengatakan riwayat kehamilan, kebiasaan waktu hamil, riwayat persalinan sekarang.
Keadaan umum bayi, tanda-tanda vital, denyut jantung, berat badan sekarang, pemeriksaan fisik secara sistematis dari kepala sampai kaki, refleks moro, refleks rooting, refleks walking, refleks graps/plantor, refleks sucking, refleks tonic neck.
Antropometri : lingkar kepala, lingkar dada, lingkar lengan atas.
Eliminasi : miksi, mekonium.
Neonatus cukup bulan atau tidak, sesuai usia kehamilan atau tidak. Usia berapa jam atau berapa hari.
Memberitahu ibu dan keluarga hasil pemeriksaan, penkes masalah yang terjadi pada bayi, memperhatikan suhu bayi, kontak dini bayi dan ibunya pada bayi baru lahir. Membersihkan payudara ibu, memberikan ASI pada 30 menit pertama bayi baru lahir, melakukan perawatan tali pusat pada bayi baru lahir, memberikan zalf mata dan Vit.K diberikan dalam 1 jam pertama bayi baru lahir, melakukan imunisasi Hepatitis B sebanyak 0,5 mg pada bayi baru lahir, memandikan bayi setelah 6 jam bayi baru lahir, memberitahu pada ibu tentang perawatan bayi sehari-hari, memberitahu pada ibu dan keluarga tanda-tanda bahaya pada bayi, memberitahu ibu perawatan payudara, informasi kunjungan ulang.

BAB III
PERKEMBANGAN KASUS

Identitas Ibu :
Ny. A usia 23 tahun, suku bangsa Sunda/Indonesia, agama Islam, pendidikan tamat SMP pekerjaan ibu rumah tangga, bertempat tinggal di Kp. Jampang Rt 01 /04 Wanaherang Gn, Putri Bogor
A. Kehamilan
1. Trimester Pertama ( 0-12 minggu)
Tanggal 18 Maret 2009
Dari data dokumentasi didapatkan, untuk pertama kalinya klien datang ke BPS Bidan L untuk memeriksakan kehamilannya pada usia kehamilan 4 minggu. Ibu mengatakan sering mual. Keadaan umum baik, kesadaran compos mentis, keadaan emosi stabil, tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 80x/menit, pernafasan 20x/menit, suhu 36,5 oC, berat badan 46 kg, pembesaran uterus dua jari di atas sympisis. Ibu mengatakan ke bidan bahwa pergerakan janin belum dapat dirasakan.
Dapat ditegakan diagnosa : Ibu G1P0A0 hamil 4 minggu Bidan memberikan vitamin etabion dan enakur 1xsehari
2. Trimester Kedua ( 13-28 minggu )
Tanggal 30 Juni 2009
Dari data dokumentasi didapatkan,klien memeriksakan kehamilannya untuk kunjungan ulang ke-4 di BPS Bidan L dengan usia kehamilan 23 minggu. Ibu mengatakan tidak ada keluhan yang dirasakan. Keadaan umum baik, kesadaran compos mentis, keadaan emosi stabil, tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 82x/menit, pernafasan 20x/menit, suhu 36,5 oC, berat badan 50 kg, TFU 2 jari di atas pusat.
Dapat ditegakan diagnosa : Ibu G1P0Ao hamil 19 minggu, janin tungal, hidup,presentasi kepala. Bidan memberikan vitamin etabion dan licocalk 1xsehari. Ibu mendapatkan imunisasi TT I pada lengan kanan ibu.

Tanggal 30 Juli 2009
Dari data dokumentasi didapatkan, klien memeriksakan kehamilannya untuk kunjungan ulang ke -5 dengan usia kehamilan 23 minggu. Ibu mengatakan tidak ada keluhan yang dirasakan. Keadaan umum baik, kesadaran compos mentis, keadaan emosi stabil, tekanan darah 120/80 mmHg, Nadi 80x/menit, Pernapasan 20x/menit, Suhu 36 oC, Berat badan 51 kg, TFU 2 jari di atas pusat.
Dapat ditegakan diagnosa : Ibu G1P0A0 hamil 23 minggu, janin tunggal, hidup, intrauterin, presentasi kepala. Bidan memberikan vitamin Etabion dan calvita 1×1 sehari. Ibu mendapatkan imunisasi TT II pada lengan kiri ibu.

3. Trimester Ketiga (28-42 minggu)
Kunjungan I Tanggal 3 Oktober 2009
Pertama kali klien kontak dengan penulis di BPS Bidan L untuk memeriksakan kehamilannya, setelah dilakukan pengkajian dan anamnesa, diperoleh data bahwa hari pertama haid terakhir Ny.A adalah tanggal 18 Februari 2008, dengan siklus 28 hari, teratur, lamanya 6 hari, banyaknya kurang lebih 100cc 2-3 x ganti pembalut perhari, konsistensi encer kadang menggumpal,sehingga taksiran persalinannya yaitu tanggal 25 November 2009. Klien mengatakan tidak ada keluhan, pola makan klien 3x sehari dengan nasi, sayur, lauk pauk, terkadang dengan buah dan susu. Kebiasaan minum sehari 8 gelas, buang air kecil 6x sehari, buang air besar 1x sehari,pola istirahat dan tidur teratur, malam hari 7 jam dan siang hari 1 jam, aktivitas sehari-hari adalah pekerjaan ibu rumah tangga, klien mengatakan tidak pernah menggunakan alat kontrasepsi, klien mengatakan tidak mempunyai riwayat penyakit yang sedang diderita maupun riwayat penyakit turunan, klien mengatakan 2 kali ganti pakaian dalam sehari, klien mengatakan status perkawinannya syah, jumlah perkawinan 1 kali, lama perkawinan 1 tahun.
Dari hasil pemeriksaan didapatkan bahwa, keadaan umum ibu baik, kesadaran compos mentis, didapatkan tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 80x/menit, pernafasan 20 x/menit, suhu 37 °C, berat badan 51 Kg sebelum hamil 46 Kg, kenaikan 5 Kg, tinggi badan 150 cm, pada pemeriksaan fisik, kepala tidak ada benjolan, rambut bersih, muka tidak oedema,konjungtiva tidak pucat, sclera tidak kuning.hidung bersih, tidak ada polip. Telinga bersih, tidak ada serumen. Pada mulut, gigi tidak ada caries, lidah tidak ada stomatitis, gusi tidak ada kelainan. tidak ada pembesaran kelenjar thyroid dan getah bening. Pada pemeriksaan payudara terdapat pembesaran, simetris, puting susu menonjol, tidak terdapat benjolan, tidak ada nyeri dan belum ada pengeluaran kolostrum, payudara dan puting susu bersih. Irama jantung teratur, paru-paru tidak terdengar wheezing dan ronchi, axillla tidak ada benjolan. Posisi tulang belakang Normal, tidak ada nyeri pinggang.
Pada pemeriksaan ekstremitas atas dan bawah lingkar lengan atas 25 cm, tidak ada oedema dan varises, simetris kanan dan kiri, kekuatan sendi baik, reflek patella kiri dan kanan positif, kuku bersih dan pendek.
Pemeriksaan abdomen, pada pemeriksaan inspeksi pembesaran sesuai dengan usia kehamilan, memanjang, linea nigra, terdapat striae gravidarum, tidak ada bekas luka operasi, gerakan janin aktif. Pada saat palpasi didapatkan hasil tinggi fundus uteri 28 cm dan pada leopold I bagian fundus uteri teraba bulat, lunak dan tidak melenting yaitu bokong janin. Leopold II pada bagian kanan perut ibu teraba keras, memanjang seperti papan yaitu punggung janin, dan bagian kiri perut ibu teraba bagian-bagian kecil yaitu ekstremitas janin. Leopold III bagian terendah janin teraba bulat, keras, melenting yaitu kepala janin, kepala belum masuk PAP (konvergen). Leopold IV tidak dilakukan. Pada auskultasi terdengar DJJ 142 x/menit, teratur dengan punctum maximum terdengar jelas pada satu tempat yaitu 3 jari bawah pusat di bagian perut ibu sebelah kanan. Tidak dilakukan pemeriksaan anogenital pada ibu. Pemeriksaan laboratorium tidak dilakukan pemeriksaan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, didapatkan diagnosa ibu G1 P0 A0 hamil 32 minggu, janin tunggal, hidup, presentasi kepala Masalah tidak ada, Kebutuhan tidak ada. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan yang dilakukan, Menjelaskan pada ibu penyebab keputihan, cara mengatasinya menyarankan pada agar ibu jangan terlalu lelah dan memakai pakaian dalam setiapkali basah atau lembab dan mengerti tentang apa yang di jelaskan dan akan melakukannya, menganjurkan ibu untuk melakukan kebersihan diri ,menjelaskan ibu tentang body mekanik yang benar selama hamil, menganjurkan ibu untuk melakukan olahraga ringan, menganjurkan ibu untuk melakukan pekerjaan yang ringan, menyarankan pada ibu untuk tidak melakukan pekerjaan yang berat – berat. memberikan ibu tablet Fe Etabion dan kalsium Licokalk 1xsehari, dan menganjurkan ibu untuk kembali lagi dua minggu kemudian pada tanggal 17 Oktober 2009 atau bila ada keluhan. Ibu mengerti apa yang telah dijelaskan dan akan melaksanakan anjuran yang diberikan.

Kunjungan II Tanggal 17 Oktober 2009
Ibu mengatakan Tidak ada keluhan .
Dari pemeriksaan fisik keadaan umum baik, kesadaran compos mentis, keadaan emosional stabil, tanda-tanda vital normal dengan hasil tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 82 x/menit, suhu 36.5 0C, respirasi 22 x/menit, berat badan 52 kg, Mata, konjungtiva tidak pucat, sklera tidak kuning, pada palpasi TFU 30 cm, presentasi kepala, teraba punggung sebelah kanan dan denyut jantung janin 135x/menit, teratur.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, didapatkan diagnosa ibu G1P0A0 hamil 34 minggu, Janin tunggal, hidup, presentasi kepala. Masalah tidak ada, kebutuhan tidak ada. Berdasarkan diagnosa, asuhan yang diberikan adalah memberitahukan hasil pemeriksaan kepada ibu dan keluarga,. menyarankan pada ibu tentang cara berpakaian yang baik selama hamil, memberikan penyuluhan pada ibu tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif, menjelaskan pada ibu tentang tanda-tanda persalinan, memberi ibu tablet Fe Etabion dan kalsium Licokalk 1xsehari. Dari semua yang telah dijelaskan ibu mengatakan mengerti serta bersedia mengikuti anjuran yang telah diberikan dan berjanji akan datang untuk kontrol dua minggu kemudian pada tanggal 31 Oktober 2009 atau jika ada keluhan.

Kunjungan III Tanggal 31 Oktober 2009
Ibu mengatakan merasa pegal-pegal di daerah pinggang.
Dari pemeriksaan fisik keadaan umum baik, kesadaran compos mentis, keadaan emosional stabil, tanda-tanda vital normal dengan hasil tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 80 x/menit, suhu 36 0C, respirasi 20 x/menit, berat badan 53 kg, Mata, konjungtiva tidak pucat, sklera tidak
kuning, pada palpasi TFU 31 cm, presentasi kepala, teraba punggung sebelah kanan dan denyut jantung janin 145x/menit, teratur.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, didapatkan diagnosa ibu G1P0A0 hamil 36 minggu, Janin tunggal, hidup, presentasi kepala. Masalah tidak ada, kebutuhan tidak ada. Berdasarkan diagnosa, asuhan yang diberikan adalah memberitahukan hasil pemeriksaan kepada ibu dan keluarga, menjelaskan pada ibu tentang penyebab pegal-pegal, menganjurkan pada ibu untuk istirahat yang cukup melakukan pekerjaan dengan body mekanik yang benar. Menjelaskan pada ibu tentang hubungan seksual yang aman selam hamil , menyarankan pada ibu tentang cara berpakaian yang baik selama hamil, memberikan penyuluhan pada ibu tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif, menjelaskan pada ibu tentang tanda-tanda persalinan, memberi ibu
tablet Fe Etabion dan kalsium Licokalk 1xsehari. Dari semua yang telah dijelaskan ibu mengatakan mengerti serta bersedia mengikuti anjuran yang telah diberikan dan berjanji akan datang untuk kontrol dua minggu kemudian pada tanggal 14 November 2009 atau jika ada keluhan

Kunjungan IV Tanggal 14 November 2009
Ibu mengeluh keputihan
Dari pemeriksaan fisik keadaan umum baik, kesadaran compos mentis, keadaan emosional stabil, tanda-tanda vital normal dengan hasil tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 81 x/menit, suhu 36 0C, respirasi 20 x/menit, berat badan 54 kg, Mata, konjungtiva tidak pucat, sklera tidak
kuning, pada palpasi TFU 31 cm, presentasi kepala, teraba punggung sebelah kanan dan denyut jantung janin 135x/menit, teratur.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, didapatkan diagnosa ibu G1P0A0 hamil 38 minggu, Janin tunggal, hidup, presentasi kepala. Masalah tidak ada, kebutuhan tidak ada. Berdasarkan diagnosa, asuhan yang diberikan adalah memberitahukan hasil pemeriksaan kepada ibu dan keluarga, menjelaskan pada ibu tentang penyebab keputihan menganjurkan pada ibu untuk menjaga personal hygent,menjelaskan pada ibu tentang tanda-tanda persalinan, memberi ibu
tablet Fe Etabion dan kalsium Licokalk 1xsehari. Dari semua yang telah dijelaskan ibu mengatakan mengerti serta bersedia mengikuti anjuran yang telah diberikan dan berjanji akan datang untuk kontrol dua minggu kemudian pada tanggal 25 November 2009 atau jika ada keluhan

Kunjungan V Tanggal 25 November 2009
Ibu mengeluh nyeri perut bagian bawah.
Dari pemeriksaan fisik keadaan umum baik, kesadaran compos mentis, keadaan emosional stabil, tanda-tanda vital dengan hasil tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 80 x/menit, suhu 36,3 0C, respirasi 20 x/menit, berat badan 55 kg, TFU 32 cm, presentasi kepala, teraba punggung sebelah kanan, DJJ 146x/menit, teratur.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, didapatkan diagnosa Ibu G1 P0 A0 hamil 40 minggu, janin tunggal, hidup, presentasi kepala. Masalah tidak ada, kebutuhan tidak ada
Berdasarkan keluhan, asuhan yang diberikan memberitahukan hasil pemeriksaan kepada ibu dan keluarga, menjelaskan fisiologi nyeri perut bagian bawah yang ibu alami, dan ibu dianjurkan untuk istirahat yang cukup, menjelaskan pada ibu tentang inisiasi dini, menjelaskan kembali perawatan payudara, mengingatkan kembali pada ibu tentang tanda-tanda persalinan, mengingatkan ibu untuk minum tablet Fe dan kalsium 1x sehari, menganjurkan ibu untuk datang lagi satu minggu kemudian atau segera apabila ada keluhan. Dari semua yang telah dijelaskan ibu mengatakan mengerti serta bersedia mengikuti anjuran yang telah diberikan dan berjanji akan datang untuk kontrol jika ada keluhan dan ada tanda-tanda persalinan

B. Persalinan
1. Kala I
Tanggal 3 Desember 2009, pukul 07.00WIB
Klien datang ke BPS I diantar suami dan keluarga, ibu mengeluh perut mules-mules sejak pukul 01.00 WIB
Pada pemeriksaan fisik didapatkan hasil keadaan umum baik, kesadaran compos mentis, keadaan emosional stabil. Tanda-tanda vital normal, tekanan darah 120/80 mmHg, suhu 36,5 0C, nadi 82 x/menit, pernafasan 24 x/menit. Pada palpasi abdomen didapat TFU 32 cm, posisi punggung sebelah kanan, presentasi kepala, penurunan 3/5 bagian, denyut jantung janin 146 x /menit, teratur. TBJ (32cm-12×155=3100gram), kemudian dilakukan pemeriksaan dalam, vagina tidak ada kelainan, portio tipis lunak, pembukaan 8 cm, ketuban positif, presentasi kepala, posisi UUK kadep, penurunan H III, frekuensi his 3 x/10menit lamanya 30 detik, kekuatannya sedang.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, didapatkan diagnosa Ibu G1 P0 A0 hamil 37 minggu partus kala I fase aktif. Janin tunggal, hidup, presentasi kepala, posisi UUK kanan depan ,penurunan H III.
Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan adalah menjelaskan hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarga, menjelaskan pada ibu tentang fisiologis persalinan, menganjurkan ibu untuk menarik nafas dalam melalui hidung dan dikeluarkan perlahan melalui mulut apabila merasa mules, menganjurkan keluarga ibu memasase pinggang ibu untuk mengurangi rasa sakit, dan menganjurkan ibu untuk tidak menahan keinginan untuk BAK, tidak mengedan terlebih dahulu sebelum ada anjuran mengedan dari bidan, memberikan support kepada ibu dengan menghadirkan pendamping seperti suami atau keluarga terdekat, memberikan dan menganjurkan pada ibu untuk makan dan minum, melakukan observasi his, DJJ, nadi tiap 30 menit, melakukan observasi kemajuan persalinan. Menganjurkan ibu untuk miring kiri, melakukan pemeriksaan dalam 2 jam kemudian, penulis melakukan pendokumentasian ke dalam partograf, menyiapkan alat-alat pertolongan persalinan yaitu partus set (isi partus set : 2 pasang hanscoon, ½ kocher, gunting episiotomi, 2 klem arteri, gunting talipusat, kateter, kom berisi bethadine, 3-5 kassa steril, benang tali pusat), hecting set (isi hecting set : 1 pasang handscoon, pinset anatomi, pinset chirurgis, gunting benang, jarum otot, jarum kulit, nopulder, benang cat gut chromic, 3-5 kassa steril), barier protective dan ain-lain yang disiapkan dalam troley. Alat-alat sudah siap.
Tanggal 3 Desember 2009, Pukul 09.15 WIB
Ibu mengatakan mulas semakin sering dan kuat, ibu mengatakan ingin meneran dan merasa ingin BAB. Dilakukan pemeriksaan, keadaan umum ibu baik, kesadaran compos mentis, keadaan emosional stabil, pada pemeriksaan his 5x10menit lamanya 50 detik, DJJ 143x/menit, pada pemeriksaan inspeksi terlihat vulva dan anus membuka, perineum menonjol, hasil pemeriksaan dalam, porsio tidak teraba, pembukaan 10 cm, ketuban positif, penurunan H III+, presentasi kepala, posisi UUK depan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, didapatkan diagnosa Ibu G1 P0 A0 hamil 37 minggu partus kala I fase aktif. Janin tunggal, hidup, presentasi kepala posisi UUK depan, penurunan H III+.
memeriksa ulang DJJ, mendekatkan alat untuk pertolongan persalinan dan memantau kemajuan persalinan dengan partograf.

2. Kala II
Tanggal 17 Desember 2008,Pukul 09.30 WIB
Ibu mengatakan mulas semakin sering dan kuat, ibu mengatakan ingin meneran dan merasa ingin BAB. Telah dilakukan pemeriksaan, keadaan umum ibu baik, kesadaran compos mentis, keadaan emosional stabil, pada pemeriksaan his 5x dalam 10 menit lamanya 50 detik, DJJ 145 x/menit, pada pemeriksaan dalam didapatkan hasil vagina tidak ada kelainan, portio tidak teraba, ketuban negatif, pembukaan 10cm (lengkap), presentasi kepala, penurunan Hodge IV, posisi UUK depan. Adanya tanda gejala kala II yaitu tekanan pada anus, perineum menonjol dan vulva terlihat mulai membuka.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, didapatkan diagnosa Ibu G1 P0 A0 hamil 37 minggu dengan partus kala II, janin tunggal hidup, presentasi kepala.
Berdasarkan diagnosa asuhan yang diberikan yaitu memberitahukan pada ibu dan keluarga hasi pemeriksaan, mengecek kembali alat-alat persalinan dan mendekatkan alat, memantau keadaan umum ibu dan janin, memberi ibu minum, memotivasi ibu, memimpin ibu untuk meneran bila ada his, membantu pertolongan persalinan sesuai dengan asuhan persalinan normal, menyiapkan diri untuk menolong persalinan, menolong kepala, bahu, badan, meletakkan bayi dengan posisi kepala lebih rendah dari perut ibu, mengeringkan bayi, perksa janin kedua ,suntik oksitosin, menjepit tali pusat, memotong tali pusat dan mengikat tali pusat, mengganti kain bayi dengan kain kering.kemudian memutupi badan dan memakai topi bayi dan menyusui bayinya. Pukul 09.30 WIB, bayi lahir hidup, spontan, letak belakang kepala, jenis kelamin perempuan, berat badan 3100 gram, panjang badan 50cm, apgar score 9/10, anus (+), tidak ada kelainan.

3. Kala III
Tanggal 3 Desember 2009, pukul 09.45 WIB
Ibu mengatakan perutnya masih mules.
Pada pemeriksaan fisik keadaan ibu baik, tanda-tanda vital normal dengan hasil tekanan darah 120/70 mmHg, nadi 80 x/menit, suhu 36,5ºC, pernafasan 22 x/menit. Pada pemeriksaan abdomen didapatkan hasil palpasi tinggi fundus uteri 2 jari diatas pusat, kontraksi uterus baik, kandung kemih kosong.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, didapatkan diagnosa ibu P1 A0 partus kala III. Masalah ibu tidak ada, kebutuhan ibu tidak ada.
Berdasarkan diagnosa, asuhan yang diberikan adalah, melakukan peregangan tali pusat terkendali,menilai tanda-tanda pelepasan plasenta yaitu uterus tampak globuler, adanya semburan darah secara tiba-tiba, dan tali pusat bertambah panjang. Plasenta lahir lengkap spontan pukul 0935 WIB dengan diameter ± 20 cm, Insersi marginalis, panjang tali pusat ± 50 cm, melakukan masasse pada perut ibu dengan tangan kiri dengan gerakan memutar searah jarum jam sebanyak 15 kali (15 detik), sehingga teraba uterus berkontraksi. Setelah itu melihat apakah ada robekan pada jalan lahir atau pada perineum, setelah diperiksa ada laserasi perineum derajat I

4. Kala IV
Tanggal 3 Desember 2009, pukul 10.00 WIB
Ibu mengatakan perutnya masih mules dan tidak nyaman dengan keadaan dirinya karena tubuhnya masih banyak darah dan berkeringat. Bayi sudah lahir dan plasenta lahir lengkap.
Ibu P1 A0 partus kala IV. Masalah ibu tidak ada, kebutuhan tidak ada.
Berdasarkan diagnosa, asuhan yang diberikan adalah mengobservasi keadaan umum ibu, mengobservasi perdarahan, kontraksi uterus, tinggi fundus uteri, kandung kemih, melakukan penjahitan laserasi jalan, mengobservasi tanda-tanda vital tiap 15 menit sekali pada 1 jam pertama dan 30 menit sekali pada 1 jam berikutnya, membersihkan, merapikan dan memakaikan pakaian ibu hingga ibu merasa nyaman, mengajarkan ibu untuk masase fundus uteri, menganjurkan ibu untuk memberikan ASI, menganjurkan ibu untuk makan dan minum, melengkapi partograf. Keadaan umum ibu baik, penjahitan perineum telah dilakukan sebanyak 5 jahitan dengan jahitan satu-satu dan tidak terjadi perdarahan, kontraksi uterus baik, partograf sudah diisi sesuai dengan pemantauan

C. KUNJUNGAN
1. Kunjungan 6 jam Bayi baru lahir
Tanggal 3 Desember 2009 pukul 16.00 WIB
Ibu mengatakan bayinya mau menyusui dengan adekuat, menangis kuat, dan tali pusat bayi masih basah.
Berdasarkan pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum bayi baik, tanda-tanda vital denyut nadi 134 x/menit, suhu 36,9ºC, respirasi 40 x/menit, refleks menghisap dan menelan baik, gerakan aktif, tali pusat tampak masih basah, kulit tidak tampak kuning, berat badan 3100 gram, bayi sudah diberikan imunisasi hepatitis B.
Pada pemeriksaan eliminasinya BAB belum, BAK 2x, warna kuning jernih.
Berdasarkan pemeriksaan didapatkan diagnosa Neonatus cukup bulan sesuai masa kehamilan usia 6 jam. Masalah tidak ada. Kebutuhan tidak ada.
Berdasarkan diagnosa, asuhan yang diberikan adalah, memberitahukan hasil pemeriksaan kepada ibu bahwa bayi dalam keadaan baik dengan denyut nadi 134 x/menit, suhu 36,9oC, respirasi 40x/menit, berat badan 3100 gram, refleks menghisap baik, keaktifan baik.
Melakukan perawatan tali pusat pada BBL dengan menggunakan kassa steril dan kering.
Mengajarkan pada ibu cara merawat BBL yaitu beri ASI setiap 2-3 jam (on demand), jaga bayi dalam keadaan bersih, hangat dan kering, dengan mengganti popok dan selimut sesuai dengan keperluan, jaga tali pusat dalam keadaan bersih dan kering.Menganjurkan ibu untuk menjemur bayinya setiap pagi saat matahari tidak terlalu panas yaitu sekitar jam 7-8 pagi.Mengingatkan ibu untuk memberikan ASI eksklusif pada bayinya yaitu bayi hanya diberi ASI saja selama 6 bulan.Menjelaskan pada ibu tentang tanda-tanda bahaya pada BBL.

KUNJUNGAN 6 JAM NIFAS PADA IBU
Ibu mengatakan masih mules dan kelelahan.
Pada proses persalinan, ketuban pecah spontan pkl 09.10 WIB. Lama waktu untuk kala I 8 jam 30 menit, kala II 15 menit, kala III 5 menit, plasenta lahir pkl 09.35 WIB. Kala IV perineum ruptur G-I Jumlah perdarahan kala I blood slym, kala II 50 cc, kala III 150 cc, kala IV 50 cc, jumlahnya 250 cc. Tidak ada penyulit dan komplikasi, tekanan darah tinggi, kejang, infeksi, dan lain-lain.
Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik keadaan umum baik, emosional stabil, tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 80 x/menit, suhu 36,5ºC, respirasi 22x/menit. Payudara simetris, pembesaran ada, pengeluaran ada. TFU 2 jari dibawah pusat, kontraksi uterus baik. Pengeluaran lochea, warna merah jumlah ± 10 cc, bau khas, perineum terdapat jahitan, kandung kemih kosong, ekstremitas tidak oedema, reflek patella positif kiri dan kanan.
Berdasarkan pemeriksaan didapatkan diagnosa Ibu P1 A0 nifas 6 jam, masalah ibu tidak ada, kebutuhan ibu tidak ada.
Berdasarkan diagnosa, asuhan yang diberikan menginformasikan hasil pemeriksaan bahwa saat ini ibu dalam keadaan baik, tekanan darah 110/70, nadi 83 x/menit, respirasi 23 x/menit, suhu 36,5 0C, kontraksi uterus baik.
Memberikan penkes tentang penyebab rasa mules. Memberitahu ibu dan keluarga tentang tanda-tanda bahaya pada masa nifas.Menganjurkan ibu untuk selalu menjaga kebersihan diri terutama kebersihan alat genetalia. Memberikan penkes tentang pemberian kolostrum dan ASI eksklusif sedini mungkin serta menyusui sesering mungkin. Menganjurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi agar memulihkan tenaga kembali. Menganjurkan ibu untuk banyak istirahat yang cukup.Menganjurkan ibu untuk melakukan mobilisasi sedini mungkin secara bertahap. Ibu mengerti penjelasan yang diberikan dan bersedia mengikuti semua yang dianjurkan. Serta menjadwalkan kunjungan selanjutnya yaitu tanggal 09 Desember 2009.

2. Kunjungan rumah 6 Hari. Tanggal 09 Desember 2009 pukul 17.00 WIB
Bayi
Ibu mengatakan berat badan turun
Berdasarkan pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum bayi baik, tanda-tanda vital denyut nadi 128 x/menit, suhu 36,5 ºC, respirasi 40 x/menit, refleks menghisap dan menelan baik, gerakan aktif, tali pusat tampak sudah puput, kulit tidak tampak kuning, berat badan 3300 gram. Dan bayi telah diberikan imunisasi polio dan BCG.
Berdasarkan pemeriksaan didapatkan diagnosa NCBSMK 6 hari. Masalah tidak ada. Kebutuhan tidak ada.
Berdasarkan diagnosa, asuhan yang diberikan adalah, memberitahukan hasil pemeriksaan kepada ibu bahwa bayi dalam keadaan baik dengan denyut nadi 128 x/menit, suhu 36,5oC, respirasi 40 x/menit, berat badan 3100 gram, refleks menghisap baik, keaktifan baik.
Menjelaskan pada ibu penurunan berat badan pada bayi. Menganjurkan ibu untuk tidak memakai gurita.
Memberikan imunisasi BCG pada bayi dan bayi sudah dibrikan imunisasi
Ibu mengerti penjelasan yang diberikan dan bersedia mengikuti semua yang dianjurkan.Menjadwalkan kunjungan rumah selanjutnya yaitu tanggal Desember 2009

Ibu
Ibu mengatakan merasa lelah
Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik keadaan umum baik, emosional stabil, tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 82 x/menit, suhu 36,5ºC, respirasi 20 x/menit. Payudara simetris, pembesaran ada, pengeluaran ada. TFU pertengahan pusat simpisis , kontraksi uterus baik. Pengeluaran lochea, warna merah jumlah ± 10 cc, bau khas, perineum terdapat jahitan, kandung kemih kosong.
Berdasarkan pemeriksaan didapatkan diagnosa Ibu P1 A0 nifas 6 hari, masalah ibu tidak ada, kebutuhan penkes tidak ada.
Berdasarkan diagnosa, asuhan yang diberikan menginformasikan hasil pemeriksaan bahwa saat ini ibu dalam keadaan baik, tekanan darah 110/70, nadi 81 x/menit, respirasi 22 x/menit, suhu 36 0C, kontraksi uterus baik.
Memberikan penkes tentang penebab rasa lelah yang dialami oleh ibu. Dan menganjurkan ibu untuk ikut tidur apabila bayi tidur dan tidur siang selam 1-2 jam dan tidur malam 7-8 jam.Mengingatkan ibu untuk memberikan ASI eksklusif pada bayinya yaitu bayi hanya diberi ASI saja selama 6 bulan.Mengingatkan ibu dan keluarga tentang tanda-tanda bahaya pada masa nifas. Mengingatkan ibu untuk selalu menjaga kebersihan diri terutama kebersihan alat genetalia.Menganjurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi agar memulihkan tenaga kembali. Menganjurkan ibu untuk banyak istirahat yang cukup, ibu tidur ketika bayi tidur disisi bayinya, dan bangun ketika bayi bangun.Ibu mengerti penjelasan yang diberikan dan bersedia mengikuti semua yang dianjurkan. Serta menjadwalkan kunjungan selanjutnya yaitu tanggal 23 Desember 2009.

3. Kunjungan rumah 2 Minggu Tanggal 23 Desember 2009 pukul 15.00 WIB
Bayi
Ibu mengatakan Bayi sering gumoh
Berdasarkan pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum bayi baik, tanda-tanda vital denyut nadi 133x/menit, suhu 36 ºC, respirasi 40 x/menit, refleks menghisap dan menelan baik, gerakan aktif, tali pusat tampak sudah puput, kulit tidak tampak kuning, berat badan 3500 gram.
Diagnosa Neonatus umur 2 minggu. Masalah Bayi tidak ada. Kebutuhan tidak ada.
Berdasarkan diagnosa, asuhan yang diberikan adalah, memberitahukan hasil pemeriksaan kepada ibu bahwa bayi dalam keadaan baik dengan denyut nadi 130 x/menit, suhu 36,3oC, respirasi 40 x/menit, berat badan 3500 gram, refleks menghisap baik, keaktifan baik.
Menjelaskan pada ibu bahwa bila bayi gumoh atau muntah setelah disusui adalah keadaan normal yang biasa terjadi pada bayi, terutama pada bayi usia dibawah 6 bulan, mengingatkan ibu untuk perawatan bayi sehari hari dan mengingatkan kembali untuk imunisasi kembali.
Ibu mengerti penjelasan yang diberikan dan bersedia mengikuti semua yang dianjurkan.Menjadwalkan kunjungan rumah selanjutnya yaitu tanggal 14 januari 2010.

Ibu
Ibu mengatakan tidak ada keluhan
Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik keadaan umum baik, emosional stabil, tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 82 x/menit, suhu 36oC, respirasi 20 x/menit. Payudara simetris, pembesaran ada, pengeluaran ada. TFU tidak teraba, kontraksi uterus baik. Pengeluaran lochea alba. Berdasarkan pemeriksaan didapatkan diagnosa Ibu P1 A0 nifas 2 minggu masalah tidak ada keluhan, kebutuhan tidak ada.Berdasarkan diagnosa, asuhan yang diberikan menginformasikan hasil pemeriksaan bahwa saat ini ibu dalam keadaan baik, tekanan darah 120/80, nadi 82 x/menit, respirasi 20 x/menit, suhu 36 0C, kontraksi uterus baik. Menganjurkan pada ibu untuk tetap memberikan ASI ekslusif pada bayi selam 6 bulan tanpa di berikan makanan tambahan.Menganjurkan ibu intuk mengkonsusi makanan bergizi, menjelaskan pada ibu tentang jenis–jenis alat kontrasepsi,cara menggunakan, keuntungan serta efek samping dari jenis KB tersebut dan menganjurkan pad ibu untuk menjadi Akseptor KB.Ibu mengerti penjelasan yang diberikan dan bersedia mengikuti semua yang dianjurkan. Serta menjadwalkan kunjungan selanjutnya yaitu tanggal 14 Januari 2010.

4. Kunjungan rumah 6 Minggu Tanggal 14 Januari 2010
Bayi
Ibu mengatakan bayinya merah-merah pada bagian bokong.
Penulis melakukan pemeriksaan fisik dengan hasil keadaan umum bayi baik, TTV: S: 36ºC, N: 135x/mnt, R: 43x/mnt, BB: 3700 gram, PB: 52 cm, gerakan aktif, kulit tampak tidak ikterik.
Diagnosa : Bayi usia 6 minggu, masalah merah-merah pada bagian bokong bayi, kebutuhan penkes cara mengatasi merah-merah pada bokong bayi.Menjelaskan pada ibu penyebab bagian bokong bayi yang merah-merah karena iritasi, Menganjurkan ibu membersihkan bagian bokong yang iritasi dengan air hangat lalu di keringkan. Mengingatkan kepada ibu untuk tetap melakukan perawatan bayi sehari-hari.
Ibu
Ibu mengatakan tidak ada keluhan dan ingin menggunakan alat kotrasepsi.Ibu mengatakan tidak ada keluhan berdasarkan hasil pemeriksaan fisik keadaan umum baik, emosional stabil, tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 82 x/menit, suhu 36oC, respirasi 20 x/menit. Payudara simetris, pembesaran ada,TFU tidak teraba, pengeluaran lokhea alba, mobilisasi baik.
Berdasarkan pemeriksaan didapatkan diagnosa Ibu P1A0 nifas 40 hari
Berdasarkan diagnosa, asuhan yang diberikan menginformasikan
kondisinya saat ini baik, tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 82x/mnt, S:36,5 C R: 22x/mnt, tinggi fundus sudah tidak teraba, lokea alba, tidak berbau.Mengingatkan ibu untuk selalu menjaga kebersihan diri terutama kebersihan alat genitalia seperti mengganti pembalut sesering mungkin apabila terasa lembab atau basah, mengganti celana dalam 2 kali sehari, membersihkan dan mengeringkan alat genetalia setelah selesai BAK/BAB dan ibu dianjurkan untuk tidak menahan BAK.Menganjurkan ibu untuk tetap membawa bayinya ke tenaga kesehatan untuk imunisai lanjutan pada tanggal yang di tentukan.

BAB IV
PEMBAHASAN KASUS

Dari hasil studi kasus yang telah dilakukan pada Ny A, usia 26 tahun, G1 P0 A0 sejak kehamilan 32 minggu sampai 6 minggu post partum dan dikaitkan dengan teori maka penulis membuat suatu pembahasan yang ditekankan pada asuhan kebidanan berkesinambungan dari kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, dan nifas.
A. Masa Kehamilan
Ny. A usia 26 tahun, merupakan usia produktif untuk hamil, ini sesuai menurut teori (sinopsis obsetric) yang mengatakan usia produktif untuk hamil adalah batasanya 20 – 35 tahun.
Selama hamil Ny.A memeriksakan kehamilannya sebanyak 9 kali yaitu dua kali pada trimester I usia kehamilan 0 – 12.dua kali pada trimester II usia kehamilan 13 – 28 minggu dan empat kali kunjungan pada trimester III usia kehamilan 29-40 minggu. Ini sesuai dengan teori menurut (Dekses RI 02 ) yang mengatakan kunjungan Antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali dalam kehamilan yaitu : satu kali kunjungan pada trimester I usia kehamilan 0 – 12 minggu, satu kali kunjungan pada trimester II usia kehamilan 13 – 28 minggu, dan dua kli kunjungan pada trimester III usia kehamilan 29 – 40 minggu.
Pergerakan bayi Ny. A dirasakan pada usia kehamilan 20 minggu, ini sesuai dengan teori menurut ( Saifudin, 2002 ) yang mengatakan pergerakan janin dirasakan berdasarkan ibu pada primi usia kehamilan 18 minggu sampai 20 minggu sedangkan pada multi usia kehamilan 16 minggu.
Dalam kehamilan ini keluhan yang dirasakan ibu seperti mual pada trimester I, mudah lelah, keputihan tidak gatal atau bau dan sering BAK pada trimester III ini sesuai dengan teori ( Buku Acuan Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Sarwono Prawihardjo, 2003 ) mengatakan bahwa semua keluhan yang ibu rasakan adalah karena perubahan anatomis dan fisiologis yang terjadi pada masa kehamilan.
Berat badan Ny.A selama hamil naik 9 kg, ini sesuai dengan teori (Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2000 ; 94), yang mengatakan kenaikan berat badan selama kehamilan rata – rata 6,5 kg sampai 16 kg.
Pada setiap kunjungan Ny.A telah, mendapatkan pelayanan 7T yaitu : Timbang berat badan, ukur Tekanan darah, ukur Tinggi fundus uteri, imunisasi TT sebanyak 2 kali, pemberian Tablet zat besi 90 tablet selama kehamilan, temuwicara dalam rangka persiapan rujukan dan test terhadap penyakit menular seksual tidak dilakukan di Klinik. ini merupakan kesenjangan antara teori dan praktek dilapangan disebabkan tidak adanya sarana penunjang serta tingkat kesadaran masyarakat masih kurang tentang penyakit menular seksual. Masyarakat masih beranggapan bahwa penyakit menular seksual itu hanya bagi orang – orang yang bebas melakukan hubungan seksual.
Dalam pemeriksaan palpasi didapat TFU usia kahamilan 20 minggu setinggi pusat, hal ini sesuai dengan teori (Saifudin, 2002) yang mengatakan bahwa TFU normal pada umur kehamilan 20 – 36 minggu berkisar ± 2 cm dari usia kehamilan.
Pada pemeriksaan leopold letak fetus memanjang, posisi punggung kanan dan presentasi kepala. Keadaan ini normal sesuai dengan teori (Manuba, 2002) yang mengatakan bahwa 25% fetus dalam presentasi kepala.
DJJ teratur dengan frekwensi antara 120 – 160 x/menit, yang menandakan janin dalam keadaan normal (Saifudin, 2002)
Taksiran berat janin pada usia kehamilan 35 minggu adalah 2945 gr. Keadaan ini dalam batas normal ini sesuai dengan teori (Buku Acuan Pelayanan Kesehatan Maternanl dan Neonatal, Sarwono Prawihardjo, 2002 ; 91) yang mengatakan berat janin aterm antara 2500 – 3500 gr.
Ibu mendapat imunisasi TT sebanyak 2 kali, pada tanggal 30 juni 2009 dan pada tanggal 30 juli 2009, ini sesuai dengan teori ((Buku Acuan Pelayanan Kesehatan Maternan dan Neonatal, Sarwono Prawihardjo, 2002 ; 91), yang mengatakan bahwa ibu hamil akan mendapatkan imunisasi TT dimulai pada usia kehamilan 16 minggu dengan interval 4 minggu.
Dari anamnesa dan pemeriksaan selama trimester III, tidak ditemukan adanya tanda-tanda bahaya atau komplikasi pada ibu maupun janin, serta keluhan yang dialami Ny A adalah hal yang fisiologis dan tidak berbahaya. Kebutuhan yang diperlukan ibu pada kehamilan ini adalah Penkes tentang gizi ibu hamil, personal hygiene, istirahat yang cukup, perawatan payudara, pemberian tablet Fe, tanda bahaya dalam kehamilan, tanda persalinan, persiapan persalinan dan kb, ini sesuai dengan teori (Saifudin, 2001).

B. Masa Persalinan
Masa persalinan Ny.A dimulai pukul 01.00 WIB Ny.A mulai merasakan kontraksi yang berulang-ulang keluar lendir bercampur darah, hal ini sesuai teori (Sarwono Prawihardjo, 2002) yang mengatakan tanda-tanda persalinan dimulai dengan adanya rasa sakit yang datang berulang-ulang semakin sering dan teratur, keluar lendir bercampur darah, kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya, pada pemeriksaan dalam dijumpai perlunakan dan pendataran serviks serta pembukaan serviks.
Persalinan pada Ny. A berjalan pada kala I selama 8 jam, ini sesuai dengan teori (Menurut Ilmu Kebidanan, Sarwono Prawihardjo 2002 ; 182) yang mengatakan persalinan kala I pada primigravida berlangsung 12 jam dan pada multigravida berlangsung sekitar 8 jam.
Persalinan kala II 15 menit. Ini sesuai dengan teori (Menurut Ilmu Kebidanan, Sarwono Prawihardjo, 2002 ; 184) yang mengatakan persalinan kala II pada primigravida berlangsung 50 menit, sedangkan pada multigravida 30 menit.
Pada kala III terdapat tanda-tanda pelepasan plasenta yaitu uterus menjadi globuler, uterus menjadi lebih tinggi, tali pusat memanjang keluar vulva, dan terdapat semburan darah dari jalan lahir. Ini sesuai dengan teori (Buku Acuan APN 2004) yang mengatakan tanda-tanda pelepasan plasenta yaitu uterus menjadi globuler, tali pusat memanjang dan terdapat semburan darah.
Persalinan kala III Ny. A berlangsung selama 15 menit dan perdarahan ± 50 cc, ini sesuai dengan teori (Menurut Ilmu Kebidanan, Sarwono 2002) yang mengatakan plasenta akan terlepas sekitar 6-15 menit dengan pengeluaran darah kira-kira 100-200 cc.
Kala IV pada pengawasan 2 jam post partum pada Ny. A kontraksi uterus baik, fundus uteri 2 jari dibawah pusat, pemeriksaan fundus dilakukan 15 menit pada jam pertama dan 30 menit pada jam ke-2. ini sesuai dengan teori (Buku Acuan Asuhan Persalinan Normal, 2004) yang mengatakan kala IV pada pengawasan dilanjutkan dengan pemantauan kontraksi uterus dan perdarahan pervagina, setiap 2-3 kali dalam 15 menit pertama, dan setiap 20 – 30 menit pada jam ke-2 pasca persalinan.

C. Bayi Baru Lahir
Bayi lahir spontan jam 09.30 WIB jenis kelamin perempuan, berat badan 3100 gr, panjang badan 50 cm, lingkar kepala 32 cm, lingkar dada 34 cm, lingkar lengan atas 12 cm, A/S 8/10, anus positif dan cacat negative. Ini sesuai dengan teori (Manuba, 1998) yang mengatakan BB normal antara 2500 – 4000 kg, PB 48 – 52 cm, lingkar dada 30 – 38 cm, lingkar kepala 33 – 35 cm.
Pada pemeriksaan keadaan umum baik, suhu 36 0C, pernafasan 47 x/menit, nadi 1208 x/menit, keadaan kepala tidak ada kelainan, ubun-ubun tidak ada kelainan, muka simetris, pada bagian mata selera tidak kuning, konjungtiva tidak pucat, tidak ada bercak kemerahan, telinga tidak ada kelainan.
Pada mulut tidak ada kelainan, hidung tidak ada kelainan, leher tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, dada simetris, tali pusat baik dan kering tidak ada perdarahan, ekstremitas tidak ada kelainan, genetalia normal.
Pada pemeriksaan refleks tidak ada kelainan, semua refleks baik yaitu refleks moro, refleks rooting, refleks graphs, refleks sucking, refleks tonikneck semua positif. Pada eliminasi sudah miksi warna kuning jernih dan defekasi warna kehitaman.
Pada bayi baru lahir semua berjalan dengan normal dan bayi dalam keadaan sehat, ini sesuai dengan teori (Ilmu Kebidanan, Sarwono 2002 ; 247).

D. Masa Nifas
Pada masa nifas Ny. A proses involusi berjalan dengan baik mulai dari 2 jam post partum sampai hari ke-40 post partum. Penurunan fundus uteri berjalan normal sesuai dengan teori setelah plasenta lahir tinggi fundus uteri 1 jari di bawah pusat, 7 hari fundus uteri pertengahan pusat simpisis, 14 hari fundus uteri tidak teraba, 42 hari fundus uteri sebesar hamil 2 minggu. Ini sesuai dengan teori (Saifudin 2002).
Lochea hari pertama berwarna merah l minggu setelah post partum lochea berwarna kecoklatan dan 2 minggu post partum lochea berwarna keputihan. Hal ini sesuai dengan teori (Sarwono Prawihardjo. 2002). Yang mengatakan normal sesuai dengan teori bahwa lochea berwarna putih pada hari ke-40.
Dari data diatas asuhan yang dapat diberikan adalah dapat menganjurkan ibu untuk beristirahat setiap bayi tidur, untuk mencegah lelah yang berlebihan, memberikan konseling tentang gizi ibu menyusui yaitu TKTP, konseling tentang perawatan payudara dan menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya secara on demand dan eksklusif, memberikan konseling pada ibu dan suami tentang berbagai macam alat kontrasepsi, keuntungan maupun kerugiannya, serta waktu yang tepat untuk memulai menggunakannya. Memberikan Penkes hubungan seksual yang aman. Ini sesuai dengan teori (Buku Pelayanan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal, 2002)

BAB V
Kesimpulan dan Saran

A. Kesimpulan
Sesuai dengan tujuan dilakukan study kasus ini yaitu agar penulis mampu menerapkan pelaksanaan asuhan kebidanan secara komprehensif melalui pendekatan manajemen kebidanan pada Ny. A telah dilaksanakan sebagaimana mestinya yaitu sebagai berikut :
a. Dilakukan asuhan kehamilan pada Ny. A dengan pemeriksaan kehamilan sebanyak 5 kali,Trimester I pada tanggal 18 Maret 2009, Trimester II 30 Juni 2009, dan telah di imunisasi TT I telah diberikan pada tanggal 30 juni & TT II telah di berikan pada tanggal 30 juli. setiap kunjungan ibu di berikan Fe, B12, Kalk 1×1, dan tidak ditemukan adanya penyulit ataupun masalah baik pada ibu maupun janin yang memerlukan perawatan dan pegawasan khusus.
b. Pada tanggal 03 Desember 2009 Ny. A partus dengan letak belakang kepala, persalinan pada Ny. A kala I selama 8 jam, kala II selama 15 menit, kala III selama 15 menit, pukul 09.45 WIB plasenta lahir spontan dan lengkap,tidak ada luka jalan lahir, kala IV pengawasan selama 2 jam, dengan menggunakan asuhan standar persalinan normal yang berlaku dengan memperhatikan 5 aspek yaitu pengambilan keputusan dengan tepat , asuhan sayang ibu, pencegahan infeksi, pendokumentasian, dan rujukan. Selama persalinan Ny.A tidak ditemukan adanya tanda-tanda bahaya atau komplikasi pada saat persalinan.
c. Bayi Baru Lahir tanggal 03 Desember 2009 pukul 09.30WIB Bayi lahir spontan jenis kelamin perempuan langsung menangis dan bernafas, berat badan 3100 gr, panjang badan 50 cm, LD : 34 cm, LK : 32 cm, Apgar LILA 12 cm ,Score 9/10, Anus Positif, tidak ada kelainan, 2 jam Bayi Baru Lahir sudah diberikan ASI dan bayi sudah mengeluarkan miksi dan mekonium, 6 jam Bayi Baru Lahir menyusui aktif dan keadaan umum baik, 6 hari Bayi Baru Lahir diberikan ASI eksklusif dan telah diberikan imunisasi Hepatitis B, selama Bayi Baru Lahir Ny. A tidak ditemukan adanya tanda-tanda bahaya atau komplikasi pada saat Bayi Baru Lahir.
d. Pada saat nifas 6 jam Ny. A sudah buang air kecil dan melakukan mobilisasi dini, TFU 2 jari dibawah pusat, lochea Rubra, perineum tidak ada jahitan, 6 hari Ny. A sudah memberikan ASI eksklusif, TFU 2 jari diatas sympisis, lochea Sanguinolenta, perineum tidak ada jahitan, puting susu ibu lecet, 2 minggu TFU tidak teraba, lochea alba, 6 minggu TFU tidak teraba, lochea alba, mobilisasi baik, luka jahitan sudah kering, ibu sudah menggunakan KB suntik Depo Progestin. Selama nifas Ny. A tidak ditemukan adanya tanda-tanda bahaya atau komplikasi pada saat nifas.
e. Dari hasil pelaksanaan asuhan kebidanan komprehensif maka semua tindakan sudah dilakukan pendokumentasiannya dengan penulisan secara SOAP.

B. Saran
Untuk mahasiswa kebidanan
Lebih giatlah menuntut ilmu baik secara teori maupun keterampilan sehingga kelak menjadi bidan yang professional dan dapat menjadi generasi penerus yang memiliki kompetensi tinggi sehingga dapat memberikan pelayanan KIA yang optimal dan membantu pemerintah mencapai “ Indonesia Sehat 2010 “.

1.Untuk Bidan
Sebaiknya memberikan pelayanan yang sesuai dengan standar dari kehamilan, bersalin, nifas dan pengelolaan bayi baru lahir normal yang dengan menggunakan standar pelayanan yaitu sesuai dengan asuhan persalinan normal.

2.Untuk Mahasiswa Kebidanan
Dengan adanya studi kasus ini di harapkan mahasiswa mampu membuka cakrawala dunia,ilmu pengetahuan lebih dalam lagi khususnya di bidang kesehatan modern dengan sarana yang lebih baik di masa mendatang dan melaksanakan asuhan kebidanan komprehensif secara profesional sesuai dengan mutu pelayanan kebidanan.sehingga dapat memberikan pelayanan KIA yang optimal dan membantu pemerintah mencapai “ Indonesia Sehat 2010 “.

3.Untuk Pendidikan
Agar segenap civitas akademika dan unit layanan pengadian masyarakat dengan STIKes Mitra Ria Husada melakukan kunjungan studi kasus lebih mendalam lagi teruatama untuk dearah – daerah yang masih belum tersentuh dunia kebidanan modern dan memperluas jangkauan dunia praktek di daerah terpencil agar ilmu dan pengabdian Asuhan Kebidanan dapat merasakan layanan kesahatan yang prima sehingga dapat menghasilkan bidan – bidan yang mampu memberikan konstiksi yangn kompeten bagi kesehatan ibu dan anak di masa mendatang.
4.Untuk Dosen Pembimbing
Agar memberikan akses yang lebih luas dan informasi tentang dunia kebidanan yang tengah semarak pada saat ini,agar para mahasiswa mampu mengatasi kesulitan yang di hadapi pada saat pembuatan laporan studi kasus.

BEKICOT PEMUTIH WAJAH CANTIK ALAMI

Bekicot, sebagian orang pasti merasa jijik, binatang melata yang satu ini memang memiliki konotasi jijk. Tubuh kenyal penuh dengan lendir merupakan satu kesatuan yang menjijikan, namun di balik itu ternyata bekicot memiliki manfaat dan bernilai ekonomis tinggi. Terbuka kesepatan luas untuk membuka peluang usaha budidaya bekicot.Bekicot atau Achatina fulica adalah siput darat yang tergolong dalam suku Achatinidae.Berasal dari Afrika Timur dan menyebar ke hampir semua penjuru dunia akibat terbawa dalam perdagangan, moluska ini sekarang menjadi salah satu spesies invasif terburuk di bumisehingga beberapa negara bahkan melarang pemeliharaannya sebagai hewan kesayangan timanga termasuk Amerika Serikat. Hewan ini mudah dipelihara dan di beberapa tempat bahkan dikonsumsi, termasuk di Indonesia. Meskipun berpotensi membawa parasit, bekicot yang dipelihara biasanya bebas dari parasit.Dari asalnya Bekicot dari Afrika Timur, walaupun tergolong lambat dalam berjalan (melata) bekicot telah tersebar keseluruh dunia dalam waktu relatif singkat. Hal ini karena bekicot berkembang biak dengan cepat. Bekicot tersebar ke arah Timur sampai di kepulauan Mauritius, India, Malaysia, akhirnya ke Indonesia. Bekicot telah hadir di Jakarta sejak tahun 1933 telah ada disekitar Jakarta, sumber lain menyatakan bahwa bekicot jenis Achatina fulica masuk ke Indonesia pada tahun 1942 (masa pendudukan Jepang). Sampai saat ini, bekicot jenis Achanita fulica banyak terdapat di Pulau Jawa.Sekalipun terasa aneh ternyata bekicot telah banyak di ternakan, terdapat beberapa daerah yang memiliki sentra peternakan bekicot yaitu di masyarakat pedesaan Jawa Timur, Bogor (Jawa Barat), Sumatera Utara dan Bali.

Bekicot yang umum diternakkan adalah jenis Achatina fulica yang banyak disenangi orang, karena bekicot jenis ini banyak mengandung daging. Konon di Eropa, bekicot jenis ini digunakan sebagai bahan baku makanan yang disebut Escargot. Escargot semula berbahan baku Helix pomatia. Karena Helix pomatia lama kelamaan sulit diperoleh maka bekicot jenis Achatina fulica menggantikannya sebagai bahan baku Escargot.

Bekicot seringkali hanya dijadikan sebagai pakan ternak, namun ternyata bekicot merupakan sumber protein hewani yang bermutu tinggi karena mengandung asam-asam amino esensial yang lengkap. Di salah satu daerah malah bekicot cukup di gemari. Bekicot di buat makanan seperti sate bekicot, keripik bekicot.

Disamping itu bekicot juga kerap dipakai dalam pengobatan tradisional, karena ekstrak daging bekicot dan lendirnya sangat bermanfaat untuk mengobati berbagai macam penyakit seperti abortus, sakit waktu menstruasi, radang selaput mata, sakit gigi, gatal-gatal, jantung dan lain-lain. Sedangkan kulit bekicot sangat mujarab untuk penyakit tumor. Sejenis obat yang dikenal berasal dari kulit bekicot, dinamakan Maulie., yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit seperti kekejangan, jantung suka berdebar, tidak bisa tidur/insomania, leher membengkak dan penyakit kaum wanita termasuk keputihan.

Cangkang bekicot pun dapat digunakan sebagai hiasan. Cangkang bekicot banyak mengandung zat kapur dan kalsium. Tepung cangkang bekicot dapat digunakan sebagai tambahan pakan ternak (dalam jumlah tertentu).Ternyata cangkang atau tempurung bekicot bisa dijadikan masker  dan pemutih wajah,bagaimana cara pembuatan nah kita simak tutur kata pengalaman ibu ipah (35) awalnya  “saya risih dengan wajah bintik – bintik hitam akibat pemakaian bedak yang terlalu tebal agar keliatan cantik dimata suami namun akhirnya wajah saya berubah ada noda hitam diwajah akibat bedak terlalu tebal dan sinar violet,saya jadi pusing dan bingung harus kemana dan produk kosmetik yang murah dan yang termahal saya coba namun hasilnya nihil.” Setiap saran teman selalu saya coba namun akhirnya menemukan pengalaman yang berharga.Dengan cangkang bekicot wajah putih bersih alami.

Cara membuat Masker Bekicot :

Sediakan 5 buah cangkang bekicot yang sudah di cuci bersih dan kemudian jemur sampai benar-benar kering.

5buah cangkang bekicot yang sudah kering dibakar di tungku bara api, cangkang bekicot sampai

kelihatan benar-benar putih mengkilap angkat dan dinginkan beberapa menit.Setelah dingin cangkang bekicot ditumbuk sampai halus sampai banar – benar seperti tepung.Setelah jadi tepung bekicot dicampurkan dengan lisa kelapa aduk-aduk sampai rata kemudian oleskan kewajah Anda sebelum mengoleskan ke wajah cuci dulu wajah anda dengan air hangat dan baru oleskan kewajah.Pemakaiannya pada malam hari ketika mau tidur

BELAJAR MENGIRIM ARTIKEL KE MEDIA MASSA

Sebagai penulis yang pemula diditutut keberanian untuk bisa produktif dalam menghasilkan berbagai karya tulisan,baik berupa cerita,atau tulisan yang sifatnya informatif,seperti artikel mengenai tanaman hias,atau artikel tentang resep makan dan lain-lain.Perlu di ingat bahwa tulisan kita bisa dijual dan bisa bermanfaat bagi masyarakat secara menyeluruh.Karena dengan tulisan kita bisa berbuat sesuatu untuk mencurahkan pengalaman dan pengatahuan yang kita dapat.Memang segala tulis menulis tidak sepenuhnya harus menghasilkan uang tapi juga kepusan bathin bagi penulis tentunya sebagai penulis juga membutuhkan penghasilan untuk dapat hidup dan eksis dalam mentuangkan tulisan- tulisan kita.Oleh karena itu kita harus berusaha agar tulisan kita bisa punya nilai jual sehingga dapat  layak dikonsumsi dimasyarakat dan layak dimuat dimedia massa lokal maupun iternasional.

Dunia internet sudah menjamur dimana-mana tak heran persaingan informasi sangat luar biasa, berbagai media massapun menjamur baik media cetak maupun elektronik untuk berusaha menyuguhkan berita aktual dan informasi yang jelas.Dengan internet dikalangan penulis sudah akrab dan banyak membantu dalam mengirimkan naskah artikel dengan biaya yang sangat murah,cepat dan efesien,maka dalam belajar mengirim artikel kemedia massa,maka kami mencantumkan alamat e-mail redaksi dari surat kabar,tabloid,hingga majalah yang mungkin sangat berguna bagi para  pemula yang ingin mengadu nasib mengirim naskah-naskah artikelnya.Naskah artikel bisa dilampirkan sebagai file attachment (file lampiran) dalam e-mail yang kita kirim ke redaksi media massa.Sebaiknya di e-mail yang kita kirim kita berikan surat pengantar yang berisikan mengenai data pribadi kita,seperti nama,alamat,pendidikan terakhir penulis,minat dan spesialis penulis,no telepon, alamat e-mail hingga nomor rekening bank untuk menampung honor dari media massa bila hasil tulisan dimuat.Biasanya ada respon atau konfirmasi karya tulisan kita antara 1 dan 2 bulanan semenjak tanggal pengiriman.Semoga para penulis pemula tetap semangat dan selalu menjaga kode etik dan” berjuang dengan  tinta hidup dengan tinta.”

SURAT KABAR NASIONAL

THE JAKARTA POST
E-mail Address(es):
opinion@thejakartapost.com

THE JAKARTA POST
E-mail Address(es):
jktpost2@cbn.net.id

THE JAKARTA POST
E-mail Address(es):
editorial@thejakartapost.com

THE JAKARTA POST
E-mail Address(es):
sundaypos@thejakartapost.com

THE JAKARTA POST
E-mail Address(es):
features@thejakartapost.com

JAWA POS
E-mail Address(es):
editor@jawapos.com

KOMPAS
E-mail Address(es):
kompas@kompas.com

KOMPAS
E-mail Address(es):
opini@kompas.com

KOMPAS
E-mail Address(es):
opini@kompas.co.id

KOMPAS
E-mail Address(es):
kcm@kompas.com

MEDIA INDONESIA
E-mail Address(es):
redaksi@mediaindonesia.co.id

MEDIA INDONESIA
E-mail Address(es):
webmaster@mediaindonesia.co.id

MEDIA INDONESIA
E-mail Address(es):
redaksimedia@yahoo.com

SEPUTAR INDONESIA
E-mail Address(es):
widabdg@seputar-indonesia.com

SEPUTAR INDONESIA
E-mail Address(es):
redaksi@seputar-indonesia.com

REPUBLIKA
E-mail Address(es):
rekor@republika.co.id

REPUBLIKA
E-mail Address(es):
medika@republika.co.id

REPUBLIKA
E-mail Address(es):
sekretariat@republika.co.id

HARIAN IBU
E-mail Address(es):
redaktur@harianibu.com

SURAT KABAR JAKARTA

MERDEKA
E-mail Address(es):
merdekanews@yahoo.com

HARIAN INDONESIA
E-mail Address(es):
redaksi@harian-indonesia.com

RAKYAT MERDEKA
E-mail Address(es):
redaksi@rakyatmerdeka.co.id

HARIAN JAKARTA
E-mail Address(es):
aristo@harianjakarta.com

HARIAN JAKARTA
E-mail Address(es):
aristo_jakarta@yahoo.com

INVESTOR DAILY
E-mail Address(es):
koraninvestor@investor.co.i

KOMPAS INSIDE

http://www.kompasinside.blogspot.com

SURAT KABAR JAWA BARAT

KOMPAS JABAR
E-mail Address(es):
kompasjabar@kompas.co.id

SUARA PEMBARUAN
E-mail Address(es):
koransp@suarapembaruan.com

SUARA PEMBARUAN
E-mail Address(es):
opini@suarapembaruan.com

SINAR HARAPAN
E-mail Address(es):
info@sinarharapan.co.id

SINAR HARAPAN
E-mail Address(es):
opinish@sinarharapan.co.id

SINAR HARAPAN
E-mail Address(es):
redaksi@sinarharapan.co.id

RADAR BANDUNG
E-mail Address(es):
radarbandung@gmail.com

RADAR BANDUNG
E-mail Address(es):
radarbandung@yahoo.co.uk

METRO BANDUNG
E-mail Address(es):
metrobdg@rad.net.id

KORAN SUNDA
E-mail Address(es):
koran_sunda@yahoo.co.id

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
redaksi@pikiran-rakyat.com

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
cakrawala@pikiran-rakyat.co.id

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
kampus@pikiran-rakyat.co.id

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
belia_pr@yahoo.com

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
gelora@pikiran-rakyat.co.id

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
dwi@pikiran-rakyat.co.id

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
otokirpr@pikiran-rakyat.co.id

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
didih_otokir@yahoo.com

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
mardjanzen@yahoo.com

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
prminggu@pikiran-rakyat.co.id

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
seagpr@yahoo.com

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
khazanah@pikiran-rakyat.co.id

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
beritapr@yahoo.com

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
seagpr@yahoo.com

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
percil@pikiran-rakyat.co.id

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
wakhu@yahoo.com

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
belia@pikiran-rakyat.co.id

PIKIRAN RAKYAT (BUDHIANA)
E-mail Address(es):
budipr_bdg@yahoo.com

TRIBUN JABAR
E-mail Address(es):
tribunjabar@persda.co.id
atau tribunjabar@yahoo.com

SURAT KABAR JAWA TENGAH DAN JOGJA

KOMPAS JATENG
kompasjateng@kompas.co.id

KOMPAS JOGJA
kompasjogja@kompas.co.id

SUARA KARYA
E-mail Address(es):
redaksi@suarakarya-online.com

SUARA MERDEKA
E-mail Address(es):
humainia@yahoo.com

SUARA MERDEKA
E-mail Address(es):
redaksi@suaramer.famili.com

SOLO POS
E-mail Address(es):
litbang@solopos.net

SOLO POS
E-mail Address(es):
redaksi@solopos.net

WAWASAN
E-mail Address(es):
redaksi@wawasan.co.id

BERNAS
E-mail Address(es):
bernasjogja@yahoo.com

BERNAS
E-mail Address(es):
editor@bernas.co.id

KEDAULATAN RAKYAT
E-mail Address(es):
redaksi@kr.co.id

RADAR KUDUS
E-mail Address(es):
radarkudus@hotmail.com

SURAT KABAR JAWA TIMUR

KOMPAS JATIM
kompas@sby.dnet.net.id

SURYA
E-mail Address(es):
surya1@padinet.com

SURABAYA NEWS
E-mail Address(es):
surabaya_news@yahoo.com

SURABAYA POST
E-mail Address(es):
redaksi@surabayapost.info

SURABAYA POST
E-mail Address(es):
tya@surabayapost.info

SURABAYA POST
E-mail Address(es):
surabayanews2003@yahoo.com

DUTA MASYARAKAT
E-mail Address(es):
dumas@sby.centrin.net.id

RADAR SURABAYA
radarsurabaya@yahoo.com

SURAT KABAR BALI, SUMATERA, KALIMANTAN DAN SEKITARNYA

SURAT KHABAR BALI DAN SEKITARNYA
BALI POST
E-mail Address(es):
balipost@indo.net.id

BISNIS BALI
E-mail Address(es):
info@bisnisbali.com

DENPASAR POS
E-mail Address(es):
denpostbali@yahoo.com

DENPASAR POS
E-mail Address(es):
denpos@indo.net.id

POS KUPANG
E-mail Address(es):
poskupang@kupang.wasantara.net.id

POS KUPANG
E-mail Address(es):
poskupang@persda.co.id

SURAT KHABAR KALIMANTAN
RADAR BANJARMASIN
E-mail Address(es):
afoez99@gmail.com

RADAR BANJARMASIN
E-mail Address(es):
redaksi@radarbanjarmasin.com

BANJARMASIN POST
E-mail Address(es):
banjarmasin_post@yahoo.com

BANJARMASIN POST
E-mail Address(es):
banjarmasin_post@persda.co.id

BANJARMASIN POST
E-mail Address(es):
bpostmania@telkom.net

PONTIANAK POST
E-mail Address(es):
redaksi@pontianakpost.com

KALTIM POST
E-mail Address(es):
redaksi@kaltimpost.net

SURAT KHABAR SUMATERA
RIAU POS
E-mail Address(es):
redaksi@riaupos.co.id

LAMPUNG POST
E-mail Address(es):
redaksilampost@yahoo.com

BANGKA POS
E-mail Address(es):
bangkapos@yahoo.com

BANGKA POS
E-mail Address(es):
redaksi@bangkapos.com

BATAM POS
E-mail Address(es):
redaksi@harianbatampos.com

SRIWIJAYA POST
E-mail Address(es):
sriwijayapost@yahoo.com

SRIWIJAYA POST
E-mail Address(es):
sripo@persda.co.id

RIAU TRIBUNE
E-mail Address(es):
riautribune@yahoo.com

SERAMBI
E-mail Address(es):
serambi@indomedia.com

SERAMBI NEWS
E-mail Address(es):
redaksi@serambinews.com

MAJALAH

Berikut ini beberapa majalah yang beredar di sekitar kita.

READER’S DIGEST
E-mail Address(es):
Respati.Wulandari@feminagroup.com

READER’S DIGEST
E-mail Address(es):
editor.rd@feminagroup.com

SALAFY
E-mail Address(es):
majalahsalafy@ygy.centrin.net.id

SINYAL
E-mail Address(es):
redaksi@majalahsinyal.com

SUARA HIDAYATULLAH
E-mail Address(es):
redaksi@hidayatullah.com

SUARA HIDAYATULLAH
E-mail Address(es):
majalah@hidayatullah.com

SWA
E-mail Address(es):
swaredaksi@cbn.net.id

SWA
E-mail Address(es):
sekredswa@yahoo.com

TEMPO
E-mail Address(es):
koran@tempo.co.id

TEMPO
E-mail Address(es):
teknologi@tempo.co.id

TRUST
E-mail Address(es):
redaksi@majalahtrust.com

ANNIDA
E-mail Address(es):
annida@ummigroup.co.id

BOBO
E-mail Address(es):
bobonet@gramedia-majalah.com

FORUM
E-mail Address(es):
forumkeadilan@yahoo.com

FORUM
E-mail Address(es):
redaksi@forum.co.id

GADIS
E-mail Address(es):
info@gadis-online.com

GATRA
E-mail Address(es):
redaksi@gatra.com

GATRA
E-mail Address(es):
gatra@gatra.com

GATRA
E-mail Address(es):
surat@gatra.com

GE MOZAIK
E-mail Address(es):
ge_mozaik@ganeca-exact.com

GONG
E-mail Address(es):
gongetnik@yahoo.com

HAI
E-mail Address(es):
hai_magazine@gramedia-majalah.com

HEALTHY LIFE
E-mail Address(es):
read_healthylife@yahoo.com

INFOLINUX
E-mail Address(es):
redaksi@infolinux.co.id

INSIDE INDONESIA
E-mail Address(es):
admin@insideindonesia.org

INTISARI
E-mail Address(es):
intisari@gramedia-majalah.com

MAJALAH ILMIAH QUAD
E-mail Address(es):
quad@brawijaya.ac.id

MAJALAH ILMIAH TEKNIK ELEKTRO
E-mail Address(es):
hsantoso@bdg.centrin.net.id

MAJALAH ILMIAH TEKNIK ELEKTRO
E-mail Address(es):
eniman@paume.itb.ac.id

MAJALAH ILMIAH UNJANI
E-mail Address(es):
unjani@bdg.centrin.net.id

MAJALAH ILMIAH UNJANI
E-mail Address(es):
fmunjani@bdg.centrin.net.id

MATABACA
E-mail Address(es):
ade_trimarga@yahoo.com

MATABACA
E-mail Address(es):
adetri@matabaca.com

MATABACA
E-mail Address(es):
redaksi@matabaca.com

MATRA
E-mail Address(es):
matranet@rad.net.id

NEOTEK
E-mail Address(es):
redaksi@neotek.co.id

PARAS
E-mail Address(es):
majalahparas@yahoo.coma

TABLOID

TABLOID

TABLOID INTELIJEN
E-mail Address(es):
tabloid_intelijen@yahoo.com

TABLOID ROAMING
E-mail Address(es):
redaksi@tabloidroaming.com

TABLOID SMS
E-mail Address(es):
tabloid_sms@yahoo.com

TREN DIGITAL
E-mail Address(es):
trendigital@bisnis.co.id

TREN DIGITAL
E-mail Address(es):
ahmad.djauhar@bisnis.co.id

TREN DIGITAL
E-mail Address(es):
web@bisnis.co.id

 

JURNAL

Berikut ini alamat beberapa jurnal.
JURNAL
E-mail Address(es):
jurnal@cbn.net.id

JURNAL ILMIAH HUKUM LEGALITY…
E-mail Address(es):
heru@umm.ac.id

JURNAL ISLAM
E-mail Address(es):
jurnalislam@yahoo.com

JURNAL PEMIKIRAN ISLAM
E-mail Address(es):
i3ti@indosat.net.id

JURNAL RISTEK
E-mail Address(es):
jurnal@ristek.go.id

JURNAL SAINS MATEMATIKA TEKN…
E-mail Address(es):
jmst@utlab.ut.ac.id

PAYUDARA MONTOK KENCANG BESAR INDAH

minyak/lemak bulus dipanggang hingga menjadi minyak dinginkan dan simpan kedalam botol, oleskan ke payudara anda maka akan mengencang,
agar montok ambillah segelas susu sapi murni dicampur dengan jahe yang sudah dipanggang dan dikeprak/digepengkan ,, jahe yang sudah dipanggang dituangi air susu panas biarkan selama satu jam kemudian baru diminum setiap malam menjelang tidur,, insya Alloh dalam beberapa minggu payudara anda akan membesar kencang dan montok berisi

DAUN KURAS PENGURAS LEMAK

Percaya atau tidak emang bukti, ternyata Daun Kuras bisa dibuktikan dari hasil pengalaman ibu Rasta yang repot ingin langsing dari petunjuk temannya ia mencoba menkonsumsi Daun Kuras sebagai lalaban rasanya seperti daun kacang tanah, hasilnya cukup luar biasa perubahan tubuhnya menyusut drastis.menurut keterangan yang kami dapat ternyata Daun Kuras bisa menguras lemak melalui reaksi tubuh akan slalu berkeringatan dan bisa lewat buang air besar dan buang air kecil. Emang belum ada penelitian Ilmiah yang menyakinkan.
Ternyata Daun Kuras merupakan tanaman liar yang mudah dicari, biasanya tumbuh dipinggir pesawahan yang agak lembab,dipingiran aliran sungai dan dataran pegunungan.Daunya seperti daun cabe agak lebar,batangnya lurus.Bisa dikonsumsi secara langsung sebagai lalaban atau bisa dikeringkan dibikin teh.

LULUR YANG ALAMI MEMANCARKAN AURA

Cara bikin lulur :

Sediakan telur ayam kampong 3 butir dan lisa kelapa atau minyak zaitun  bahan tersebut, kemudian 3 telur ayam kampung diambil putih telurnya saja masukan ke gelas aduklah sampai rata dan kemudian tambahahkan dua sendok makan lisa kelapa atau minyak zaitun dan aduk-aduk Sampai rata  hingga menyatu seperti susu krim bisa juga diblender.Setelah itu bisa dilulurkan keseluruh anggota tubuh,sebelum dilulurkan lap dulu tubuh anda dengan air hangat atau mandi air hangat dan kemudian lulurkan keseluruh tubuh atau menurut selera anda setelah dilulurkan tunggu 15 menit sampai menyerap kepori – pori tubuh anda setelah itu basuh tubuh anda dengan air dingin  lakukan seminggu 3 kali Insya Allah Luar Biasa.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.